
"Apa kau mau bertanya tentang Bara?" selidik Daniel ketika Kyra terlihat ragu untuk membuka mulut sejak beberapa menit yang lalu.
Dengan malu-malu, Kyra mengangguk. Ia tak berani menatap netra Daniel terlalu lama.
"Bara baik-baik saja. Tadi dia juga berada di tempat yang sama sebelum kamu tiba."
"Lalu kenapa dia pergi? Apakah dia masih marah padaku?" tukas Kyra sedih.
Daniel menggeleng dan membalas tatapan Kyra yang kini terlihat berbeda.
"Dia tidak marah, kok. Bara hanya butuh menenangkan diri. Dia terlalu takut untuk menemuimu karena termakan janjinya sendiri."
Kening mulus Kyra mengernyit. "Janji? Janji pada siapa?"
"Janjinya pada Tuhan. Katanya sih begitu!" kekeh Daniel.
Kyra masih belum paham pada penjelasan kakak iparnya, ia mengawasi Daniel dengan sorot penasaran.
"Memangnya dia berjanji apa pada Tuhan?"
"Sesaat sebelum kamu sadar, Bara berjanji akan meninggalkanmu dan membiarkanmu hidup dengan bahagia. Dan blast! Kamu membuka mata." Tawa Daniel kembali pecah.
Entah apa yang dirasakan Kyra saat ini, hatinya kembali nyeri mendengar penjelasan Daniel. Pantas saja selama ini Bara tak sekalipun menemuinya. Tadinya Kyra pikir, dia masih marah karena Kyra kabur malam itu.
__ADS_1
"Kak Niel, bagaimana dengan Edy? Apa yang terjadi padanya setelah malam itu?" tanya Kyra penasaran.
Tawa renyah Daniel terhenti seketika, ia menundukkan kepala untuk beberapa saat.
"Dia babak belur tentu saja! Dan Daddy mengusirnya dari Mansion. Lalu ..."
Kyra mendelik kesal ketika Daniel menggantung penjelasannya. "Lalu apa?!"
"Lalu dia membuat kehebohan di kantor. Seperti yang sudah kita duga, Edy berniat untuk melengserkan Bara."
"Terus!?"
"Tentu saja gagal! Dia memang memiliki jumlah saham yang sama besarnya dengan Bara, tapi kami pada pemegang saham lain tak serta merta menerima ide jahatnya untuk menurunkan jabatan Bara!"
"Berarti Bara masih menjadi CEO?"
"Tentu saja! Bukankah aku sudah menjaminkan hal itu padamu?" tandas Daniel.
Setetes air mata bahagia lolos tanpa Kyra sadari, pengorbanannya kini berbuah manis meskipun ia harus kehilangan bayinya.
"Syukurlah. Aku senang mendengar berita ini." Sambil mengusap air matanya, Kyra berusaha tetap menarik kedua ujung bibirnya di depan Daniel.
"Bersabarlah pada Bara. Dia mungkin sedikit keras kepala tapi aku yakin dia masih sangat mencintaimu. Dia hanya butuh waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri, bersabarlah sedikit lagi dengannya, oke?"
__ADS_1
"Mulai minggu depan aku akan tinggal bersama Mamaku di Singapore, Kak Niel." Kyra memberanikan diri menatap mata Daniel yang sejak tadi selalu ia hindari. "Kami berdua mau memperbaiki hubungan kami."
"Singapore?"
Kyra mengangguk cepat. "Sehari setelah aku sadar dari koma, Ayah memberiku kejutan dengan menghubungkanku dan mama melalui sambungan telepon. Dan aku akan melanjutkan sekolahku di sana. Aku akan mengambil sekolah desain dan menjadi desainer!"
Bagai mendengar gemuruh guntur di siang bolong, Daniel tak sanggup lagi berkata-kata.
"Lalu bagaimana dengan Bara? Apakah kamu yakin akan pergi?"
Kyra mengangguk dengan air mata berurai. "Ini yang terbaik untuk kami berdua. Sementara Bara menata hatinya, aku ingin menata hidupku."
Daniel tak melihat adanya kesungguhan di sorot mata Kyra, ia tahu benar bila adik iparnya itu hanya ingin menenangkan diri dan tak benar-benar ingin meninggalkan Bara. Meski keadaan pasti akan menjadi semakin rumit, namun tak ada yang bisa Daniel lakukan selain mendukung keputusan adik-adiknya. Toh mereka berdua yang menjalani, terlalu ikut campur pun tak baik.
"Lakukanlah apapun yang membuatmu bahagia, Kyra. Bila kalian masih berjodoh, suatu saat pasti akan bertemu kembali dan bersatu lagi."
"Aku nggak berani berharap banyak, Kak Niel. Bagiku melihat Bara tetap menjadi CEO sudah cukup karena dia memang layak menduduki jabatan itu. Urusan hatiku sudah aku serahkan sepenuhnya pada nasib." Kyra menyeka air matanya dengan pilu.
"Betul. Aku setuju denganmu. Btw, bagaimana kalo kita makan malam? Aku lapar sejak tadi gara-gara membahas permasalahan kalian!" gerutu Daniel sembari merogoh ponsel di saku celananya untuk memesan makanan.
Sementara di luar kamar, lelaki yang masih mengenakan pakaian kerjanya itu menatap kosong ke arah langit. Jadi Kyra akan pergi? Semuanya akan pergi meninggalkan Bara?
Seutas senyum kecut tersungging bibirnya sebelum kemudian ia melenggang pergi. Baiklah, pergi saja semua! Bara tak butuh apapun dan siapapun lagi!
__ADS_1
...****************...