I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Prahara Bumil


__ADS_3

Mood swing yang Kyra rasakan selama hamil bukan saja menyiksa batinnya, akan tetapi Bara juga terkena dampaknya. Istri yang menggemaskan dan selalu ia rindukan, rasanya telah berubah menjadi monster yang selalu mencari titik kesalahannya. Ada saja problem yang membuat Kyra kesal dan menguji kesabaran Bara setiap harinya.


Bahkan perkara wangi pomade yang tak cocok dengan seleranya, Kyra bisa mendiamkan Bara seharian. Padahal sebelum mengenal Kyra, Bara selalu menggunakan pomade itu dan tak pernah menimbulkan perselisihan seperti ini. Terkadang Bara lelah, belum lagi masalah di kantor yang selalu menguras tenaga dan pikirannya, di rumah pun emosinya seperti terkuras. Bara rindu suasana rumah yang hangat dengan senyuman dan makan malam yang Kyra masakkan untuknya.


"Kita langsung pulang, Pak?" tanya Morgan ketika sejak tadi Bara terlihat merenung dengan pikiran kosong.


"Hm. Kita pulang." Bara menyahut dengan malas sembari memejamkan mata.


Tiba di Penthouse. Lampu yang sudah temaram di seluruh sudut rumah membuat Bara bisa bernapas dengan lega. Itu berarti Kyra sudah tidur dan tak ada peluang mereka untuk bertikai. Ia ingin segera mandi dan tidur untuk mengistirahatkan fisik dan batinnya yang tersiksa selama empat bulanan ini.


"Kenapa baru pulang?"


Deg. Bara tersentak dan menoleh cepat ke arah ranjang. Kyra rupanya masih terjaga dan sedang duduk mengawasinya.


"Kamu belum tidur?"


"Kamu belum jawab pertanyaanku!"


Bara menghela napas panjang. Ia berjalan dengan gontai ke ranjang sambil mengendurkan tali dasinya.

__ADS_1


"Aku masih menyelesaikan tanda tangan kontrak, Sayang," jelasnya kemudian sambil duduk di tepian ranjang.


"Cepat mandi sana! Kamu bau asap rokok!" usir Kyra sembari beringsut sembunyi di bawah selimut. "Sejak kapan kamu merokok, Bara?" gerutunya dengan sinis.


Bara tak menyahut. Ia sendiri tak paham sejak kapan ia jadi suka merokok akhir-akhir ini. Apakah karena ia sedang mencari pelampiasan dan ketenangan melalui batangan tembakau itu?


"Aku mandi dulu." Bara bangkit dan melepas kemejanya dengan suntuk.


Kehamilan itu baru berjalan empat bulan, masih ada lima bulan tersisa dan rasanya Bara hampir menyerah. Ia rindu pada sosok Kyra yang selalu kalem dan tenang, sabar mendengarkan setiap keluh kesah serta curhatan random yang Bara ungkapkan. Namun, demi janin yang kini tumbuh didalam rahim istrinya, setidaknya Bara akan bersabar sedikit lagi.


Selepas mandi dan mengenakan piyama, Bara memperhatikan Kyra yang sudah terlelap dengan begitu damainya. Ia beringsut naik, menatap wajah yang sedang terpejam itu dengan sendu. Rasa sayangnya pada Kyra lebih besar dari setiap masalah yang setiap hari mereka perdebatkan. Bila mengingat semua momen menyakitkan yang pernah mereka jalani, harusnya masalah sepele begini tak berarti apapun.


Sambil mengelus perut Kyra yang mulai membuncit, Bara mulai memejamkan matanya perlahan-lahan. Ia berharap besok pagi tak ada lagi drama.


Cup.


Sebuah ciuman yang mendarat di pipi membuat Bara membuka mata. Sinar matahari yang menerobos masuk dibalik sosok bayangan yang saat ini sedang duduk mengawasinya, membuat Bara memaksakan diri untuk sadar dari tidur lelapnya.


"Selamat pagi, Suamiku!!"

__ADS_1


Bara terhenyak untuk beberapa saat. Sudah lama sekali ia tak mendengar sapaan ini sejak Kyra positif hamil dan selalu mengeluh mual bila berada di dekatnya. 


"Aku sudah membuatkan kopi untukmu. Hari ini kamu mau sarapan apa?“ todong Kyra dengan senyuman lebar.


Merasa masih bermimpi, Bara mencubit lengannya sendiri. Ketika rasa sakit menjalar dari capitan jari-jarinya itu, barulah Bara yakin bila yang terjadi saat ini adalah kenyataan.


Kyra terkekeh melihat suaminya yang meringis sakit ketika mencubit lengannya sendiri. Apakah Bara mengira ia sedang bermimpi?


"Jadi kamu mau sarapan apa?" ulang Kyra ketika Bara tak kunjung menyahuti pertanyaannya.


"Apa kamu sudah tidak mual lagi?" selidik Bara heran.


Dengan cepat sosok yang sudah cantik dan wangi itu menggeleng. "Nggak dong! Cepatlah, kamu mau makan apa?"


"Nasi goreng! Aku kangen nasi goreng buatanmu."


"Okey, baiklah!" Kyra menurunkan kakinya dari ranjang dan beringsut pergi meninggalkan Bara yang masih terbengong-bengong sendiri.


"Thanks, God! Kau mengabulkan doaku lagi."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2