
Di sebuah blok pemakaman elit dengan pemandangan serba hijau pepohonan, Bara sedang duduk diantara pusara Mamanya dan Baby Izz. Tatapannya kosong ke arah barat di mana matahari sedang bergerak turun ke peraduannya. Selama berpisah dengan Kyra, entah mengapa Bara jadi sangat menyukai pemandangan kala sunset. Ia baru menyadari betapa indah dan syahdunya fenomena alam yang bisa ia saksikan setiap senja.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini?"
Daniel yang sejak tadi memperhatikan tingkah adiknya jadi frustasi sendiri. Kehilangan memang menyakitkan, dan Bara kehilangan dua orang sekaligus meskipun yang satu masih hidup di dunia yang sama dengannya. Daniel tahu persis bagaimana dukanya, ia ingat dengan jelas bagaimana perihnya ditinggalkan, dan ia ingin menghibur Bara agar tak terjerumus sedalam dirinya dulu.
"Bara. Ayo kita kembali!"
"Tunggu sebentar, Niel. Tunggulah sampai matahari itu tenggelam," tolak Bara enggan.
Tatapan matanya yang kosong masih lurus menatap ke arah barat. Ada wajah Kyra yang ia lihat di sana, bersinar seperti matahari. Menerangi kehidupannya yang kelam.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Sudah hampir sebulan dan kamu masih belum beranjak dari titik terendahmu!" sungut Daniel tak sabar.
Bara tak merespon, sedikit lagi matahari akan tenggelam sepenuhnya. Hanya tersisa setengah lingkaran yang nampak di permukaan bumi.
"Hidupmu masih panjang, Bara. Menyesali keadaan tidak akan membuat hidupmu berubah. Kamu lah yang harus merubahnya sendiri, masa depanmu tergantung usahamu!"
"Kamu gampang saja bicara begitu, Niel. Karena kamu tidak berada di posisiku. Bahkan ketika sudah membuka mata, aku terlalu takut untuk mendekatinya."
Daniel mendengus geram. "Jangan jadi pengecut! Bukankah sejak awal kamu berharap bisa bersatu lagi dengan Kyra? Kamu lupa bila kamu sudah berjanji pada anakmu untuk menjaganya?"
"Aku akan tetap menjaganya dari jauh. Aku tidak akan meninggalkan Kyra. Dia tetap wanita yang aku cintai sampai kapanpun."
Matahari telah sepenuhnya tenggelam, Bara selalu mengakhiri ritual itu dengan senyuman. Setelah merasa lebih tenang, Bara pun bangkit sembari mencium batu nisan putranya.
"Daddy pulang dulu, ya! Sampai jumpa lusa, Izz," pamit pria yang kini nampak lebih kurus itu dengan kelu.
__ADS_1
Daniel memperhatikan tingkah adiknya dengan jengah. Dia juga pernah berduka ketika kehilangan Clara, akan tetapi Daniel tak segila adiknya ini. Getaran kuat dari saku celananya membuat Daniel tersentak dan sontak merogoh ponselnya.
Mom Elena is calling ...
"Halo?" sapa Daniel sembari mengikuti Bara yang lebih dulu berjalan di depannya.
"Niel, Mom sedang bersama Kyra. Dia memaksa untuk mengunjungi makam Izland. Kamu di mana sekarang? Bisakah temani kami? Mom telepon Bara tapi nomernya tak aktif!"
"Bara sedang bersamaku sekarang."
"Oh ya? Baguslah! Bisakah kalian temani kami? Ini sudah gelap tapi Kyra memaksa ke makam bayinya."
Daniel menghela napas sesaat ketika Bara menengok padanya.
"Baiklah, kami akan menyusul!"
Tit.
"Kyra sedang dalam perjalanan kemari."
"Apa!?" Bara mendelik tak percaya. "Untuk apa dia ke sini malam-malam! Siapa yang baru saja meneleponmu? Ayah Roni?"
"Mom Elena."
Bara menggeram kesal. Ia mengeratkan rahangnya tanpa ia sadari.
"Aku pulang!"
__ADS_1
"Bara, tidak bisakah kamu menurunkan egomu kali ini saja? Ini tidak serumit yang kamu pikir!" cegah Daniel sembari menarik lengan adiknya sebelum ia berlalu.
"Ini bukan tentang rumit dan mudah, Niel! Ini tentang janji yang harus aku pertanggung jawabkan di depan Tuhan! Sesaat sebelum Kyra membuka mata, aku terlanjur berjanji pada Tuhan untuk melepaskan dia. Dan kamu tahu?" Bara tercekat untuk beberapa saat, ia menatap Daniel dengan sorot mata penuh sesal. "Dia sadar, dia bangun setelah aku mengucapkan janji itu!"
"Bulshit, Bara! Bisa saja itu hanya sebuah kebetulan. Jangan terlalu mendramatisir keadaan! Kita tidak sedang syuting sinetron azab!" Daniel mencengkram erat lengan Bara tanpa ia sadari saking jengkelnya.
Merasa sedikit sakit di lengannya, Bara hanya meliriknya sekilas.
"Lepaskan aku, Niel. Tidak ada siapapun yang bisa memerintahku. Kamu saja yang temani Kyra dan Mom. Aku pulang!" Dengan sekali hentakan kuat, Bara menepis cekalan Daniel dan berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi.
Melihat tingkah menyebalkan dan keras kepala adiknya, Daniel hanya bisa menghela napas panjang. Sepertinya Bara butuh sedikit syok terapi lagi untuk meluluhkan hatinya yang sekeras batu karang.
Tak berselang lama setelah mobil Bara berlalu pergi, mobil Elena pun tiba dan berhenti tepat di depan Daniel. Untuk pertama kali setelah Kyra sadar dari komanya, Daniel akhirnya kembali bertemu dengan adik iparnya itu. Sambil menangis tersedu-sedu, Kyra memeluk Daniel dengan erat. Tidak ada yang bisa Daniel lakukan selain berusaha menenangkan Kyra dengan kata-kata penyemangat.
Setelah puas menangis, Daniel dan Elena menuntun Kyra menuju makam Izland. Di sana, air mata Kyra kembali tumpah bahkan nyaris pingsan. Kehilangan bayi yang ia sayangi sepenuh hati telah membuat dunia kecil Kyra hancur begitu saja. Bayi yang ia rasakan gerakannya sebulanan ini, kini telah beristirahat dengan tenang selamanya di sisi Tuhan.
"Bayi kalian sudah tenang bersama Tuhan. Jangan terlalu memberatkan langkahnya, Kyra," bujuk Daniel sembari mengusap air mata yang masih menggenang di pipi Kyra.
"Aku nggak memberatkan, Kak Niel. Aku hanya sedih, kenapa Tuhan nggak memberi aku kesempatan untuk merawatnya lebih lama lagi? Kenapa harus secepat ini kami berpisah?"
"Bila kamu merawatnya lebih lama, apa kamu bisa menjamin keadaanmu akan baik-baik saja? Bisa saja kamu akan lebih hancur, bisa saja kamu lebih terluka karena terlanjur melihat wujudnya yang lucu."
"Daniel benar, Kyra. Tidak apa berduka, tapi jangan sampai menjerumuskanmu terlalu lama di sana. Kamu harus segera bangkit lagi," hibur Elena sembari merangkul pundak menantunya.
Andai tak ada Elena, mungkin Kyra akan bertanya tentang Bara pada Daniel. Hanya saja Kyra tak ingin membuat mertuanya itu kepikiran bila mengetahui dia dan Bara sedang ada masalah. Hanya 30 menit mereka berada di sana, setelah puas memandangi tempat peristirahatan putranya, Kyra pun mengajak kembali ke Rumah Sakit karena dadanya terasa sesak setelah menangis tadi.
Sesampai di Rumah Sakit, Daniel turun lebih dulu dan membantu Kyra.
__ADS_1
"Mom, biar aku temani Kyra masuk ke dalam. Mom pulanglah."
...****************...