I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Si Kaku Raymon II


__ADS_3

"Hei, Ray! Tunggu aku!" teriak Kyra dengan lantang ketika tubuh jangkung  Raymon menghilang di antara ratusan orang yang berlalu lalang di stasiun MRT.


Dengan menulikan telinga, Raymon tetap berlalu begitu saja. Sepasang airpod memang menancap di kedua lubang telinganya, namun teriakan Kyra tadi rupanya lebih kencang dibanding suara dentuman musik yang Raymon dengarkan.


"Ray!" Kyra bangkit dan mengejar adiknya itu dengan kesal.


Mungkin baiknya mulai besok ia tak memakai sepatu bertali lagi agar tak kehilangan jejak Raymon. Adiknya yang satu itu memang super duper menyebalkan, bahkan tadi pagi ia dengan sengaja menumpahkan susu ke pakaian Kyra. Alasannya tentu agar Kyra ganti baju dan Raymon bisa kabur.


Lelaki bertopi biru yang sedang berdiri di dekat pilar itu dengan mudah Kyra temukan karena postur tubuhnya yang tinggi. Tak sia-sia Raymon memiliki tubuh jangkung, dia dengan mudah ditemukan bahkan diantara ratusan manusia sekalipun.


"Apa kau tuli?" bentak Kyra sembari berkacak pinggang di depan Ray.


Bukannya menjawab, Raymon malah membuang muka dan berpaling. Bila Kyra mengamuk, ekspresinya sama persis seperti mamanya.


"Ray! Aku sedang berbicara denganmu!" Kyra menarik airpod ditelinga adiknya.


"Berhenti mengajakku bicara. Bukankah sudah jelas bila aku tak menyukaimu?"


"Kenapa? Kenapa kamu nggak menyukai aku, huh!?" tukas Kyra tak terima. "Apa karena aku cantik? Apa karena aku terlalu menarik?" desaknya jengkel.


"Shut up!"


"You shut up! Apakah Mama nggak mengajarimu sopan santun? Beginikah etika manusia yang dibesarkan di negara maju yang katanya serba modern?"


Raymon mendengus. MRT yang mereka tunggu pun akhirnya datang dan para penumpang mulai berdesakan merapat ke pintu. Tak ingin emosinya semakin terpancing, Raymon berlalu dari hadapan Kyra dan mendekat di antara kerumunan penumpang lainnya.


Karena takut ditinggal lagi, akhirnya Kyra menghentikan omelannya dan lekas membuntuti Ray. Saat pintu MRT terbuka, beberapa penumpang yang turun di prioritaskan terlebih dahulu. Kyra mencengkram erat jaket hoodie Raymon karena tak ingin kehilangan adiknya itu lagi. Ia masih belum hafal seluk beluk jalanan di Singapore. Meskipun tadi Shakira telah memberitahu secara garis besar jalur stasiun yang harus ia ingat, namun Kyra tak secerdas itu dalam menghafal rute dan nama jalan.


Di dalam MRT, Raymon yang terus bergerak mencari kursi membuat Kyra kewalahan mengikutinya. Sudah dua lorong yang dijelajahi oleh adiknya itu namun tak ada satupun kursi yang tersisa.

__ADS_1


"Ray, stop! Aku lelah!" Kyra membungkuk dan memijat lututnya.


Bayangkan saja, dari apartemen ke stasiun mereka jalan kaki, sekarang di dalam kereta yang sedang bergerak pun, Ray masih saja mengajaknya berjalan.


Raymon menoleh sekilas. Melihat napas Kyra yang naik turun dan teringat pada ultimatum dari Mamanya bila sang kakak memiliki asma, akhirnya Ray memutuskan berhenti. Ia bersandar di tiang pembatas sambil lalu menunggu Kyra yang masih berjongkok kelelahan. Salah seorang penumpang pria yang iba melihat Kyra akhirnya berdiri dari kursinya dan mempersilahkannya duduk.


"Thank you!" ucap Kyra diantara senyumnya yang tulus.


Raymon yang melihat sang kakak sudah mendapatkan kursi akhirnya mendekat dan berdiri tak jauh darinya.


Tiga puluh menit perjalanan, mereka tiba di Stasiun Somerset untuk kemudian berjalan lagi ke Raffles Collage.


"Bagaimana kalo mulai besok kita bawa mobil saja? Aku lelah, Ray!" keluh Kyra ketika mereka berdua telah tiba di Raffles Collage.


"Aku tidak bisa menyetir!" sahut Raymon acuh sambil terus berlalu.


Bagai mendapat oase di tengah gurun sahara, mendengar Raymon menyahuti perkataannya membuat Kyra bahagia tak terkira.


"Nih!" Raymon mengulurkan lembaran kertas itu pada Kyra dan kembali berlalu.


"Ray! Apa aku perlu mengisinya sekarang?"


"Isi saja. Aku mau ke kelasku. Kamu tunggu saja di sana sampai aku selesai."


"Jam berapa kelasmu berakhir?"


"Jam 4 sore!"


What?

__ADS_1


Kyra menelan salivanya syok. Ini masih jam 9 pagi dan Kyra harus menunggu Ray sampai jam 4 sore?


Punggung Raymon yang menghilang di balik lorong membuat Kyra akhirnya kembali ke ruang Pusat informasi dan duduk di sana. Ia mengisi kertas pendaftaran itu dan melengkapi semua persyaratan yang sudah ia siapkan. Kyra mengambil jurusan Fashion Designer dan melanjutkan gelar S1 yang dulu hanya bisa ia selesaikan sampai gelar Diploma.


Jam 11 siang, Kyra sudah menyelesaikan pendaftarannya dan memutuskan berkeliling kampus agar tak jenuh. Motto Succes By Design yang bisa dibaca di setiap sudut kampus membuat semangat belajar Kyra mulai membara. Sudah lama sekali sejak ia lulus Diploma dan kemudian fokus bekerja di BusanaTex Garmindo. Menjadi mahasiswa kembali tak pelak membuat Kyra merasakan aura berbeda di dalam dirinya.


Beberapa mahasiswa yang bergerombol di taman menyita perhatian Kyra. Seminggu lagi ia akan menjadi bagian dari mereka. Pasti menyenangkan menemukan teman yang sefrekuensi dan memiliki hobi yang sama.


"Hei, you must be a new student here?"


Langkah santai Kyra terhenti, pertanyaan seorang perempuan yang pasti tertuju padanya membuat Kyra menoleh cepat. Tiga orang gadis berwajah bule dan berambut coklat berdiri di belakangnya.


"Pardon me, do i know you?" tanya Kyra bingung.


Melihat cara tiga gadis itu menatapnya, entah mengapa membuat firasat Kyra buruk. Ia sudah pernah dirundung, berkali-kali selama hidupnya, dan saat ini tatapan sejenis itu sudah sangat ia hafal di luar kepala.


"Ada hubungan apa antara kau dan Raymonku?"


Kyra mengernyit geli, Raymonku? Oh, jadi mereka cemburu?


"Raymonmu? Sejak kapan?" ledek Kyra terkekeh.


Belum sempat tiga gadis itu membuka mulut, seseorang tiba-tiba muncul dan menarik Kyra pergi.


"Ray, siapa mereka? Apakah mereka kekasihmu?"


"Shut up!"


"Ray!"

__ADS_1


"Diam dan ikuti saja aku!"


...****************...


__ADS_2