
"Lalu bagaimana dengan acara ulang tahunmu besok, Bara. Apakah kau akan mengadakan acara sendiri dengan Kyra?"
Ulang tahun?
Bara termanggu sejenak. Benar! Besok adalah hari kelahirannya. Ia lupa karena terlalu sibuk dengan pekerjaan pasca sakit minggu lalu. Pertanyaan Daniel tak pelak membuatnya tersadar bila mulai besok usianya akan bertambah.
"Pasti Bara sudah memiliki acara sendiri dengan istrinya! Bukankah ini ulang tahun pertama Bara bersama Kyra?!" olok Elena terkekeh.
"Aku bahkan lupa bila besok adalah hari ulang tahunku. Terima kasih sudah mengingatkanku, Niel!" Bara beringsut dari kursinya. "Aku akan mencari Kyra dulu."
"Oh iyaa, ke mana dia?" Elena celingak-celinguk mencari keberadaan menantunya yang tiba-tiba menghilang di ruangan itu.
Bara mengedikkan kedua bahunya. "Tadi dia bilang akan ke toilet, tapi sepertinya dia nyasar!"
"Nyasar?" Elena dan Daniel saling bertatapan.
"Kalian lupa bila ini pertama kalinya Kyra menginjakkan kaki di Mansion ini?"
Bara sudah tiba di pintu dan bersiap untuk keluar sebelum kemudian Daniel ikut bangkit.
"Biar aku temani. Aku juga mau ke toilet."
"Jangan lama-lama, segeralah kembali. Masih ada hal penting yang harus kita bahas!" perintah Friz tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Di luar living room, Bara dan Daniel berjalan bersama menuju toilet khusus untuk tamu di ujung lorong dekat ruang tamu utama. Biasanya para pelayanan akan menunjukkan toilet itu pada tamu yang datang ke Mansion ini.
"Terima kasih sudah datang, Niel. Aku merasa sangat bahagia malam ini!" Bara menepuk pundak kakaknya dengan rasa haru.
"Jangan terlalu bahagia hari ini, simpan kebahagiaanmu untuk hari ulang tahunmu besok!" canda Daniel terkekeh.
Mereka sudah tiba di toilet dan Daniel masuk ke toilet pria sementara Bara menunggu di depan pintu toilet wanita. Cukup lama Bara menunggu, akan tetapi hingga Daniel menyelesaikan BAK-nya, Kyra belum juga keluar.
"Kyra belum keluar?" tanya Daniel heran.
__ADS_1
Bara menggeleng. Ia mulai was-was dan membuka pintu menuju ruang toilet wanita. Sepi, sunyi dan gelap. Perasaan tak nyaman mulai menghinggapi Bara, ia lekas berbalik dan berlari mencari pelayanan yang berjaga di lorong ruang tamu.
"Apa kau melihat istriku di toilet?!" teriak Bara dari kejauhan ketika seorang pelayan yang standby di ruang tamu menoleh padanya.
Pelayan itu menggeleng. "Tadi Nyonya Muda naik ke lantai atas, Tuan," jelasnya sembari menunjukkan tangga di tengah ruangan.
Bara dan Daniel saling bertatapan heran. Untuk apa Kyra naik ke lantai atas?
"Di mana Edy?!" tanya Bara lagi pada si pelayan.
"Tuan Edy ada di kamarnya, Tuan."
Tanpa menunggu pelayan itu menyelesaikan perkataannya. Bara lekas berlari menaiki tangga bak roket melesat ke angkasa.
Daniel yang masih belum sepenuhnya paham, akhirnya mengikuti adiknya tanpa sempat bertanya. Melihat wajah tegang Bara tadi,entah mengapa membuat perasaan Daniel tak nyaman.
"Jangan sampai aku menemukanmu bersama Edy!" rutuk Bara sembari terus menaiki 3 tangga sekaligus agar cepat sampai di lantai 3.
Dan tak sampai 1 menit, ia telah sampai di depan pintu kokoh berwarna putih yang penuh dengan ukiran itu. Seluruh tubuh yang gemetar membuat Bara kesulitan untuk memegang handle pintu itu, kilas balik kejadian beberapa bulan yang lalu tiba-tiba terekam kembali secara jelas di ingatannya. Suara ******* napas Valeria, jeritan kecilnya dan ... Bara memejamkan matanya serapat mungkin. Namun, belum sempat ia menekan handle pintu, Daniel yang sudah tak sabar dengan pemandangan di dalam kamar akhirnya mengambil alih tugas Bara dan mendorong pintu dengan sedikit paksa.
Pintu yang terbuka lebar membuat Bara membuka matanya perlahan. Dua sosok manusia yang sedang berada di atas ranjang itu membuat jantungnya terasa berhenti berdetak saat itu juga. Terlebih dengan sangat jelas ia melihat tangan Kyra melingkar di leher Edy, tak jelas mereka berciuman atau tidak karena pandangan Bara terhalang oleh lampu yang temaram.
"Brengsek," desis Bara lirih, kedua rahangnya mengatup rapat dengan tangan saling mengepal.
"Edy! Apa yang kau lakukan!" bentak Daniel sembari berlari ke ranjang dan menarik tubuh Edy dari atas Kyra.
Melihat wajah Kyra yang pucat pasi, Daniel segera menarik adik iparnya itu dari sana. Daniel tak melihat apa yang Bara lihat ketika pertama kali pintu dibuka, ia hanya fokus pada Edy.
"Aku hanya memberinya sambutan, Niel! What's the prob--"
Sebuah pukulan mengganyang wajah Edy sebelum ia sempat menyelesaikan perkataannya. Daniel terus memukuli sepupunya itu tanpa ampun sementara Bara masih mematung syok di depan pintu dengan sorot mata tajam tertuju pada istrinya.
Adu jotos pun tak bisa dihindari, Edy yang merasa tak bersalah terus saja menangkis dan membalas pukulan Daniel.
__ADS_1
Kyra yang gemetaran, mengawasi Bara yang masih tak bergerak menatap tajam padanya. Ketika pintu di buka tadi, Kyra yang tadinya sangat ketakutan mendadak menarik leher Edy agar terlihat mesra karena inilah tugas terakhirnya. Sekarang tugasnya sudah selesai, Friz-lah yang akan menyelesaikan bagian akhirnya. Bara sudah membencinya, bukan?
"Hei, apa yang kalian lakukan!" teriakan Friz membuat kesadaran Bara seketika kembali.
Friz dan Elena yang baru sampai di kamar, sudah menemukan Daniel dan Edy saling baku hantam. Kondisi kamar yang berantakan dengan barang pecah di mana-mana membuat Elena menjerit syok, terlebih wajah Daniel dan Edy sudah berlumuran darah.
"Hentikan!" perintah Friz sembari mendekat ke Daniel dan Edy yang kini saling mencekik leher satu sama lain.
"Edy, lepaskan Daniel!"
"Ekkk dia yang memulainya, Dad!" tampik Edy serak karena Daniel mencengkram erat lehernya.
Friz ganti mengawasi Daniel. "Lepaskan dia, Niel."
"Dia sudah berani menyentuh sesuatu yang bukan miliknya!"
"Semua milik Bara juga milikku! Bukankah itu yang dulu sering kau katakan Dad!" Edy menatap tajam pada Friz.
"Dia bukan Daddy-mu, Ed! Dia Daddy milik Bara!" Daniel mencekik leher Edy semakin dalam hingga wajah sepupunya itu memerah.
"Stop!" Friz melerai tangan anak dan keponakannya dengan keras hingga cekalan Daniel dan Edy terlepas. "Edy, kau bukan lagi bagian dari Lazuardi!"
"Dad! I am Lazuardi. The only Lazuardi you had!"
"Bara dan Daniel are the real Lazuardi. Sampai kapanpun kau tak akan bisa bersaing dengan mereka!"
Edy tertawa, dia menatap tajam pada Daniel dan Friz.
"Kalian menjebakku, huh!? Kalian menjebakku dengan wanita murahan itu!" teriak Edy kesal sembari menunjuk ke arah Kyra.
Namun, Kyra sudah tak lagi berada di tempatnya tadi. Friz dan Daniel mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Elena pun sama kebingungannya. Mereka semua terlalu fokus pada Daniel dan Edy hingga tak menyadari bila Kyra dan Bara sudah lenyap dari kamar itu.
"Di mana Bara!?"
__ADS_1
...****************...