I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Jebakan


__ADS_3

"Anda yakin sudah sehat betul, Pak?" tanya Morgan sembari melirik Boss-nya dari kaca spion tengah.


Bara membalas lirikan Morgan melalui spion itu. "Tidak pernah sesehat ini, Morgan. Kerjasama yang selama ini aku impikan tinggal selangkah lagi!" tawanya lega.


Sembari tetap fokus pada kemudi, Morgan membiarkan Boss-nya itu tertawa sendirian. Meskipun wajah Bara masih sedikit pucat, tetapi ia bisa menutupinya dengan ekspresinya yang selalu terlihat dingin dan menyebalkan.


“Mr. Lucas menunggu kita di Restoran  Italia, Pak. Apa anda mau pindah ke Restoran lain?"


"Tidak perlu. Aku akan menuruti kemauannya selama dia tidak mengajakku ke pub!" tukas Bara cepat. "Aku jadi teringat pada Mr. Scott, bagaimana mungkin dia memberiku hadiah wanita malam sementara dia tahu aku sudah beristri!" gerundelnya.


Morgan melirik Boss-nya itu sekali lagi hanya untuk memastikan bila ekspresinya masih sama ketika sedang marah. Dan ketika tatapannya dan Bara bersiborok, buru-buru Morgan membuang muka.


"Aku dengar kamu dan Kyra kemarin makan rujak buah bersama-sama, ya?" selidik Bara seraya memicingkan mata.


"Oh, eh, itu Nona Kyra yang mengajak saya, Pak. Saya kasihan karena kemarin dia sepertinya butuh teman. Jadi--"


"Kenapa kamu jadi sering mencari muka di depan istriku, huh? Apa kamu menyukainya?"


"Ap-apa?" Morgan memotong gugup, tanpa sadar tangannya menggenggam setir kemudi dengan erat.


Bara menelisik perubahan ekspresi Sekretarisnya itu dari kaca spion tengah. Tak puas hanya melihat dari spion, Bara lantas bangkit dan menyelipkan tubuhnya di antara sekat kursi supir dan penumpang depan. Ia mengawasi Morgan dengan tatapan tajam membunuh.


"Awas saja kalo kamu berani macam-macam, aku kejar kau sampai ke neraka!"


"Btw, anda bisa menemukan saya di surga, Pak. Saya tidak berminat untuk masuk ke dalam neraka," kelit Morgan.


Plektak.


Sebuah jitakan di kepala Morgan membuatnya sontak melindungi kepalanya dari pukulan Bara.


"Aku akan mengamatimu, Morgan. Berhati-hatilah!"


Tiba di Mall, Morgan langsung membawa Bara ke Restoran Italia yang merupakan restoran favorit Mr. Lucas. Di sana, mereka bertiga bertemu dan mengobrol cukup lama hingga tiba jam makan siang. Meeting santai namun serius ini membahas rencana kerjasama perusahaan Bara dengan perusahaan Mr. Lucas yang bergerak di bidang kecantikan. Rencananya, Bara ingin semua produk garment khusus wanita dari perusahaannya nanti akan berkolaborasi dengan produk make up dari perusahaan Mr. Lucas. Entahlah akan berwujud seperti apa, namun mengingat sebagian besar konsumen Mr. Lucas adalah artis hollywood, jiwa enterpreneur Bara tergelitik untuk melebarkan sayap ke dunia gemerlap artis yang menjadi pusat dunia hiburan.


"Aku mengenal salah seorang artis yang akan ikut denganku minggu depan ke Amerika. Dia akan menjadi model iklanku untuk pemasaran di Asia." Mr. Lucas menyantap pizza-nya dengan sangat lahap.


Bara menghentikan kunyahan makanannya. "Oh ya? Artis siapa itu? Mungkin aku juga mengenalnya."


"Sure kamu mengenalnya, Mr. Bara. Artis itu bilang dulu kalian pernah bersama dalam waktu yang cukup lama."

__ADS_1


Deg. Bara melirik Morgan yang juga tengah menatapnya.


"Valeria?" tanya Morgan menengahi kecanggungan Bara.


"Ya! Dia artis yang berkarakter. Aku suka tipe wajahnya yang sangat Asia. Sangat original!" puji Mr. Lucas dengan sorot mata berbinar.


Selera makan Bara lenyap seketika. Ia meneguk air mineral hangat di sisi kiri piringnya hingga tandas dan mendadak tak mood untuk melanjutkan obrolan.


"Dia bilang akan menyusul kemari setelah menyelesaikan syutingnya. Dia sangat senang ketika aku bilang akan bertemu denganmu siang ini." Mr. Lucas seolah tak menyadari perubahan wajah Bara yang tak menyukai tema pembicaraan mereka.


"Mr. Lucas, apakah anda sudah pernah berkunjung ke Bali?" tanya Morgan mengalihkan topik.


Lelaki bule itu menoleh pada Morgan. "Sure. Tapi itu sudah lama sekali, Mr. Morgan. Jika berkunjung ke Indonesia lagi, mungkin aku akan main-main ke Bali."


"Kita bisa menjadwalkan untuk liburan bersama bila anda datang kembali ke Indonesia, Mr. Lucas," janji Morgan.


"Sure. Aku akan sangat senang bila kita bisa liburan bersama."


Tatapan Bara yang menyiratkan rasa tak nyaman pada Mr. Lucas seketika beralih ke arah pintu di mana seorang wanita yang pernah menjadi pusat dunianya muncul dan mendekat ke meja mereka. Dengan jantung berdebar, Bara membuang muka untuk menetralisir amarahnya yang tiba-tiba kembali mencuat setelah sekian lama. Melihat wajah Valeria masih menyisakan luka di hatinya.


"Oh, Valeria! Akhirnya kamu datang." Mr. Lucas berdiri dan mengalami calon artis yang akan menjadi modelnya. "Kemarilah, duduklah di sini," tawarnya seraya menunjuk kursi di sebelah Bara yang kosong.


"Hai, Nona Vale. Senang bertemu anda lagi!" sapa Morgan sembari berdiri dan menyalami Valeria.


Bara melirik Morgan dengan tajam. Namun, demi menyenangkan Mr. Lucas, ia pun akhirnya ikut berdiri dan menyalami Valeria.


"Hai, Vale!" sapa Bara acuh sembari membuang muka.


"Bara, I miss you!" Valeria berhambur memeluk lelaki yang masih sangat ia puja itu dengan erat.


Morgan yang tak menyangka bila Valeria akan sangat agresif, sontak mendelik dengan syok.


"Valeria jaga sikapmu. Jangan membuatku kehilangan kendali di depan Mr. Lucas!" bisik Bara sembari menunduk dan mengancam di telinga Vale.


Mr. Lucas yang tak mengetahui bila Bara telah menikah, merasa sangat senang ketika sepasang manusia yang pernah menjalin kasih itu akhirnya bertemu kembali berkat dirinya.


"Silahkan pesan makananmu, Valeria. Sayangnya aku tak bisa menemani kalian lebih lama. Aku sudah mendapatkan telepon dari pilotku bila pesawat jet kami akan segera berangkat 30 menit lagi," sesal Mr. Lucas dengan wajah kecewa.


Bara menghela napasnya lega, senyumnya yang tadi sempat lenyap mendadak merekah kembali. Akhirnya ia bisa segera bebas dari Valeria. Setelah Mr. Lucas menghabiskan minumannya, ia pun berpamitan pada Bara dan Valeria.

__ADS_1


"Mr. Morgan, maukah anda mengantarku ke basement. Aku takut nyasar," pinta Mr. Lucas dengan sopan.


Mendadak Morgan kehilangan kata-kata, tak mungkin ia menolak, mengingat Mr. Lucas adalah orang penting bagi perusahaan Boss-nya. Pun Morgan tak bisa meninggalkan Bara yang pasti akan murka bila ditinggal berdua dengan Valeria.


"Tak apa, Morgan. Antarlah Mr. Lucas. Aku akan menyusul ke bawah setelah membayar bill." Bara mengkode Sekretarisnya itu agar menuruti permintaan Mr. Lucas.


"Baik. Mari, Mr. Lucas!" Morgan mempersilahkan tamunya itu berjalan lebih dulu.


"Goodbye, Bara and Valeria! Nikmatilah waktu kalian berdua!"


"Sure! Thanks, Mr. Lucas!" tukas Vale sembari melambaikan tangan.


Setelah Mr. Lucas dan Morgan menghilang di balik pintu. Bara buru-buru meraih ponselnya yang ia geletakkan di meja dan berbalik.


"Tunggu, Bara. Aku mau membicarakan hal serius denganmu!"  pinta Vale sembari menarik lengan mantan kekasihnya dengan cepat sebelum Bara berlalu. "Ini tentang keselamatan perusahaanmu."


Mendengar kalimat terakhir Vale, Bara urung menepis tangan wanita itu dan menolehinya dengan sinis.


"Apa maksudmu?" tanyanya menyelidik.


"Duduklah dulu, kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin."


Valeria menarik lengan Bara agar kembali duduk di kursi di sampingnya. Namun, Bara memilih untuk duduk menjauh dan berhadapan dengan kursi wanita itu.


"Katakan, apa maksud perkataanmu tadi," perintah Bara tak sabar.


"Aku mendengar ada seseorang yang sedang berusaha mengacaukan perusahaanmu. Aku yakin kamu sudah tahu tentang hal ini."


"Jangan bertele-tele, Valeria. Cepat katakan siapa orang itu!" tandas Bara kesal sembari membuang muka.


"Daniel. Dia sedang merencanakan hal buruk untuk menjatuhkanmu. Berhati-hatilah dengan dia karena--"  Vale belum selesai mengucapkan kalimatnya karena Bara tiba-tiba bangkit dari kursinya.


"Kyra."


Lirih ucapan Bara namun terdengar seperti gelegar guntur di telinga Valeria. Dua orang wanita hamil yang berdiri di depan pintu masuk membuat Valeria bersorak gembira. Sebelum salah seorang wanita itu berpaling, Valeria lebih dulu menggamit lengan Bara untuk membuat situasi semakin runyam.


"Kyra, tunggu!" teriak Bara sembari menepis kasar tangan Valeria dan berlari mengejar istrinya. "Kyra! Tunggu dulu."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2