
Pagi ini, sepasang manusia yang sejak semalam masih tak saling bertegur sapa itu terbangun dalam kondisi yang berbeda. Bila Kyra membuka mata dengan perasaan yang lebih tenang dan bugar, berbeda dengan Bara yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena tak bisa bergerak bebas selama tidur di sofa. Belum lagi karena terbangun tengah malam, Bara kesulitan untuk tidur lagi hingga akhirnya ia baru bisa menutup mata jam 3 pagi.
Seperti biasa, Kyra masih memasakkan sarapan untuk Bara meskipun ia masih kesal melihat wajah suaminya itu. Selesai memasak, Kyra yang hari ini ada jadwal berenang lantas menyiapkan peralatan berenangnya.
Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi, memperhatikan gerak-gerik Kyra yang terlihat memasukkan pakaian ke dalam tas ranselnya. Bila tak melihat kacamata berenang di dekat tas itu, mungkin Bara akan berpikir bila Kyra berencana kabur. Namun, ketika kacamata berenang dan handuk itu dijejalkan ke dalam tas, Bara akhirnya bisa bernapas lega.
"Sepertinya aku merasa kurang enak badan lagi," ucap Bara mencari perhatian ketika Kyra nampak asyik sendiri menyiapkan peralatannya.
Namun, bukannya merespon, Kyra malah keluar dari kamar dan mengacuhkan Bara. Ia tak ingin terpancing untuk menghujat suaminya itu lagi. Padahal jelas-jelas kemarin Kyra sudah memintanya untuk beristirahat, tapi nyatanya bertemu dengan Valeria lebih penting dibanding kesehatannya sendiri.
Melihat Kyra berlalu dengan wajah masam, Bara menghela dan menghembuskan napasnya berat. Sepertinya perang dingin kali ini akan lebih beku dan menyeramkan dibanding perang bulan lalu. Sambil menahan rasa pening di kepala dan sakit di seluruh tubuhnya, Bara menarik setelan suitnya dari lemari. Sebaiknya ia bekerja saja daripada terus di rumah tapi diacuhkan oleh istrinya. Setidaknya di kantor nanti, ia akan disibukkan dengan pekerjaan hingga lupa dengan gencatan senjata di rumah.
Setelah Bara berangkat, Kyra segera menyusul untuk berenang. Ia menghabiskan waktu 2 jam sebelum akhirnya pulang lagi untuk bersiap ke kantor Bara karena Lena sudah beberapa kali meneleponnya sejak tadi.
Tiba di GarmindoTex. Ternyata Dwi dan yang lain sudah bersiap untuk melaksanakan surprise mereka. Sisil kebagian tugas membawa Daniel ke loteng untuk mengalihkan perhatiannya sementara yang lain menyusul ke sana.
"Kyra, kamu yang bawa kuenya, ya?" tawar Dwi sembari menancapkan lilin angka 32 di cake coklat itu.
__ADS_1
"Kenapa aku? Bu Meta aja deh!" tolak Kyra sungkan, ia tak ikut mempersiapkan semuanya tapi dia malah kebagian peran penting.
"Kamu saja, lah! Kan, Daniel masih saudara Pak Bara." Bu Meta menolak juga.
Kyra menghembuskan napas panjang, cake coklat itu sudah siap dengan lilin dan topper tulisan Happy Birthday di atasnya.
"Baiklah, sini aku yang bawa." Kyra mendekat dan meraih cake itu.
Sambil berkasak-kusuk, Dwi, Lena, Puji, Bu Meta dan Kyra segera menyusul ke loteng. Kyra baru tahu bila jabatan Daniel di perusahaan ini cukup penting. Meskipun kerjanya serabutan dan selalu tampil dengan memakai seragam karyawan, namun ternyata dia memiliki saham yang sama besarnya dengan Bara.
"Kalian sudah siap?" bisik Dwi sembari mengintip Sisil dan Daniel dari celah pintu.
Meskipun awalnya Daniel nampak terkejut, namun ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena masih ada orang yang mengingat hari spesial kelahirannya selain Elena. Terlebih yang membawa cake ulang tahunnya adalah adik ipar yang sedang mengandung calon keponakannya.
"Selamat ulang tahun, Kak Niel!" ucap Kyra ketika mereka telah selesai menyanyikan lagu dengan riang gembira.
"Terima kasih, kenapa kalian repot sekali sampai memberi surprise seperti ini?" Daniel menolehi Sisil yang langsung tersipu malu. "Terima kasih semuanya."
__ADS_1
"Tiup dong!" saran Dwi sembari menunjuk lilin yang mulai meleleh.
Fuuh.
"Yeaaay!!"
Mereka berlima bertepuk tangan dengan heboh dan memeluk Daniel secara bergantian. Hanya Kyra yang tak bisa bergerak leluasa karena masih membawa cake itu di kedua tangannya.
"Kalian sudah makan siang? Ayo, aku traktir makan di restoran sebelah kantor!" ajak Daniel sumringah.
Ini adalah pertama kali Kyra melihat wajah yang biasanya dingin dan selalu murung itu tersenyum dengan bahagia.
"Boleh! Yuk, teman-teman!" Dwi bersorak.
"Kyra kamu ikut, kan? Ayolah, ikut ya!" bujuk Puji memohon.
Daniel menatap Kyra seolah memohon untuk ikut makan bersama mereka semua.
__ADS_1
"Baiklah, aku ikut!"
...****************...