
Seandainya Bara mengatakan sejak awal pada Daniel tentang penyelidikan itu, mungkin ia tak perlu menunggu hingga sedemikian lama untuk menjebloskan Edy ke dalam jeruji besi. Kecurigaan Bara selama ini tak memiliki bukti yang kuat, ia juga tak mau terlalu gegabah karena segala kemungkinan bisa saja terjadi.
Tiba di rumah Edy yang tertutup oleh pagar tembok yang tinggi, Bara dan Daniel tak serta merta bisa menerobos masuk begitu saja. Kondisi sepi di kanan dan kiri membuat mereka berdua harus memutar otak untuk masuk ke dalam rumah misterius itu. Di dalam mobil, keduanya mulai menyusun strategi.
"Apakah di sana ada penjaga?" tanya Bara penasaran sambil menunjuk pintu pagar yang tertutup rapat.
Daniel mengedikkan kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Terakhir kali aku kemari bersama istrimu, Edy turun sendiri dari mobilnya untuk membuka pagar itu."
Bara berpikir sejenak, posisi tembok yang tinggi menyulitkan keduanya untuk mengintip keadaan di dalam.
"Kalo tidak ada penjaga, berarti kita bisa memanjat pagar itu, Niel. Bagaimana jika aku saja yang naik dan kamu berjaga di bawah?"
"Apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan polisi?" usul Daniel cemas. "Bila ketahuan, justru kamu yang nanti bisa dijebloskan ke dalam penjara!"
"Tidak akan. Percayalah padaku. Aku hanya perlu mengecek apakah benar mobil itu milik Edy, setelah mengumpulkan bukti, aku akan segera kembali!" janji Bara seraya melepas seatbelt yang melintang di tubuhnya.
__ADS_1
Mau tak mau, akhirnya Daniel menyetujui ide gila adiknya. Kondisi sekitar yang gelap memudahkan mereka untuk bergerak. Karena posisi tembok pagar yang tinggi, Bara meminta Daniel memundurkan mobilnya agar ia bisa naik ke kap mobil dan menjadikannya sebagai pijakan. Dengan gesit, Bara melompat dari atap mobil Daniel dan berpijak tepat di pagar tembok kokoh itu.
Sambil menjaga keseimbangan tubuhnya di atas ketinggian, Bara memperhatikan bangunan rumah di tengah-tengah halaman yang gelap gulita. Perhatian Bara beralih pada bangunan kecil di samping bangunan utama, itu pasti garasi yang menyimpan mobil milik Edy.
"Niel, aku turun dulu. Kamu berjagalah di sana!" bisik Bara ketika Daniel keluar dari mobil.
"Hati-hati, Bara. Selesaikan secepatnya tanpa membuat keributan!"
"Oke!" Bara mengacungkan jempolnya sebelum kemudian dia mengambil kuda-kuda untuk bersiap melompat ke bawah.
Plop.
"Berarti selama ini kamu menipu kami dengan berpura-pura miskin rupanya!" gerutu Bara sembari tetap waspada dan memperhatikan setiap pojok ruangan.
Tiba di depan pintu garasi yang ternyata terkunci dengan sebuah rantai yang digembok, Bara menghela napas panjang. Ia memperhatikan sekeliling garasi itu untuk mencari jendela atau apapun yang bisa ia gunakan untuk mengintip keadaan di dalam namun nihil. Garasi itu tak memiliki jendela.
__ADS_1
Tak kehilangan akal, Bara akhirnya memilih untuk menyelinap masuk ke dalam bangunan utama melalui jendela. Di dalam rumah itu pasti ada akses menuju garasi. Dengan keahlian yang ia dapatkan secara mendadak berkat menonton film-film thriller, akhirnya Bara berhasil masuk melalui jendela. Beruntungnya, di rumah ini tak ada CCTV, jadi Bara bisa bergerak bebas tanpa harus ketakutan aksinya tertangkap kamera.
Tiba di ruang utama yang menjadi ruang tamu, Bara mencium aroma alkohol yang sangat kuat. Kebiasaan Edy ternyata belum banyak berubah, sepupunya itu masih saja hobi mabuk-mabukan!
Sambil tetap fokus, Bara terus melangkah masuk untuk mencari akses menuju garasi. Sebuah lorong yang berada di sisi kanan living room membuatnya yakin bila jalan itu akan berakhir di garasi. Dengan langkah lebar, Bara lekas menyusuri lorong panjang itu dengan perasaan campur aduk. Dan benar saja, di ujung lorong ada sebuah pintu yang terbuat dari kaca. Ketika Bara memperhatikan isi garasi dari balik pintu kaca itu, tatapannya terpaku dan hatinya mencelos saat melihat sebuah sedan merah dengan nomor plat yang sama persis berada di dalam sana.
"Kenapa ..." lirih Bara dengan hati terluka. "Kenapa kamu begitu berambisi untuk menjadi aku! Kenapa kamu tega sekali, Ed!"
Tanpa Bara sadari, air matanya mulai menetes ketika tangannya bergerak mendorong pintu kaca itu agar terbuka. Bukan hanya hatinya, tapi juga dunianya seketika hancur lebur begitu melihat kenyataan yang selama ini sudah ia prediksi. Dengan sigap, Bara mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan mobil itu dalam kamera.
"Maafkan aku, Dad. Maafkan aku ..."
Tubuh ringkih Bara pun perlahan luruh di lantai, harusnya dia yang mati saat itu, harusnya ia yang dikubur dan meninggalkan dunia kejam ini. Namun nyatanya, justru Friz-lah yang menjadi korban yang salah sasaran. Kematian ayahnya merupakan kesalahan.
Getaran di ponsel Bara menyadarkannya dari ratapan dan penyesalan. Nama Daniel muncul di layar dan dengan sigap Bara mengangkatnya.
__ADS_1
"Bara, Edy datang! Cepat keluar dari sana!"
...****************...