I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Siapa Orang Itu?


__ADS_3

Angin yang cukup kencang di loteng membuat rambut Kyra yang tadinya di gerai, terpaksa ia tali dengan karet agar tak semakin terlihat seperti singa betina.


Bara sejak tadi mengawasi istrinya itu dengan tatapan menyelidik yang seolah-olah hendak menyantap Kyra sebagai pengganti makan siang. Ia penasaran, mengapa tadi Kyra menangis ketika melihatnya memasuki lift.


"Kenapa nasinya nggak di makan?" protes Kyra ketika nasi padang di box Bara masih utuh tak tersentuh. "Mau aku suapin?" lanjutnya menawarkan diri.


Pada akhirnya Bara hanya menghela dan menghembuskan napasnya panjang. Ia merampas sendok yang dipegang Kyra dan menyantap makan siangnya dengan tak berselera lagi. Kyra masih tak mau menceritakan penyebab ia menangis dan itu membuat Bara merasa tak dihargai.


"Kamu marah, ya?" bisik Kyra tak enak hati.


"Tidak. Untuk apa marah!" Bara melahap seporsi nasi hingga mulutnya terisi penuh dengan makanan.


Kyra mengawasi Bara dengan tatapan penuh sesal. "Maaf. Aku kan sudah bilang kalo aku sedang mengalami mood swing yang aneh belakangan ini. Dan aku nggak tahu kenapa melihatmu tadi malah membuatku ingin menangis."


Bara membuang muka, tempo hari ketika kontrol, Dokter memang menjelaskan perihal perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi pada ibu hamil seperti Kyra. Akan ada mood swing, fase mual muntah, fase kelelahan yang tak jelas sumbernya dan yang terparah adalah fase ngidam. Bara berdoa pada Tuhan semoga ia bisa sabar menemani Kyra melewati setiap fase itu, mengingat level kesabarannya hanya setipis lembaran tisu.


"Bara."


"Hm."


"Jangan marah!" sosor Kyra ketus. "Kalo kamu marah, aku tinggal pulang nih!"


Bara berdecak, ia menarik tangan Kyra dan menahannya dengan erat. "Sekarang kamu sudah berani ngancam, ya!"


"Habisnya kamu ngeselin! Aku kan sudah minta maaf, tapi masih dicuekin." Bibir Kyra mengerucut maju.


Bara memberikan box nasinya pada Kyra. "Suapin aku! Cepat."


Masih dengan wajah terlipat, Kyra menerima box itu dan menyuapi Bara dengan telaten.

__ADS_1


"Enaknya tadi makan seblak pedas," sindir Bara setelah Kyra menyuapinya.


Tatapan dingin Kyra mendadak berubah keki. "Kok kamu tahu?"


"Aku kan sudah bilang, aku tahu segala hal tentangmu. Jangankan cuma makan siangmu, kamu pake underwear warna apa aku tahu!" sombongnya dengan wajah congkak.


Bola mata Kyra mendelik, ia mencubit lengan Bara dengan gemas. "Kamu ngintip aku, ya!" tuduhnya.


"Buat apa ngintip!"


"Atau kamu juga naruh CCTV di ruang ganti?"


"Ck, pikiranmu jelek sekali. Aku tidak sepiktor itu!" kelit Bara tak terima.


"Apa lagi itu piktor? Kenapa kamu punya banyak istilah untuk semua bagian di tubuhmu." Kyra mengawasi seluruh tubuh Bara dengan heran.


"Piktor itu pikiran kotor, Sayangku! Haduh, kamu ini terlalu polos atau memang bodoh sih!" Bara menjitak kepala Kyra dengan gemas hingga membuat istrinya itu mengaduh sakit.


Bara mengernyit. "Siapa? Piktor?"


"Bukannn! Bagian setelah piktor!" Kyra menatap Bara penuh harap.


Bara termanggu untuk sejenak. "Sayang?"


Kyra mengangguk cepat dengan senyum yang polos.


"Oooh, kamu suka dipanggil sayang? Bilang dong! Jangan berbelit-belit," kekeh Bara sembari mengusap puncak rambut Kyra dengan lembut. "Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu sayang! Apa kau suka, Sayang?"


Kyra kembali mengangguk dengan malu-malu. Seperti ada ribuan kepak sayap kupu-kupu yang menggelitik perut Kyra ketika Bara mengucapkan kata 'sayang' itu meskipun dengan tatapan acuh.

__ADS_1


"Mmmm, Bara. Apakah di kantor kamu memiliki musuh?" tanya Kyra setelah cukup lama ia menimbang untuk bertanya tentang percakapan seseorang yang ia dengar secara tidak sengaja tadi.


"Musuh?" Bara berpikir sejenak. "Sepertinya satu-satunya musuhku yang nampak hanya kamu. Musuh di bawah selimut yang selalu menolak untuk dipeluk, musuh yang belum bisa aku jinakkan." Bara meneguk air mineral botolan setelah mengucapkan kalimat itu.


"Hih, aku serius!" Kyra mencubit lengan Bara.


"Apakah ini bagian dari mood swing-mu?"


Kyra melotot kesal.


"Ya ya, baiklah. Aku tidak punya musuh, semua orang yang berada di bawah kendaliku adalah orang-orang pilihan yang sudah aku percaya. Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" selidik Bara curiga. "Apa kamu melihat sesuatu?"


Kyra bergeming. Ia ingin bercerita namun sebelum itu ia ingin memastikan satu hal, Kyra tak mau salah bicara dan asal menuduh.


"Sayang?" Bara membelai pipi Kyra lembut. "Ada apa?"


Dengan berat hati Kyra menggeleng. "Aku hanya mau kamu berhati-hati. Pada siapapun itu. Jangan terlalu percaya pada siapapun, Bara."


"Hei, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini, hm?" Bara bergeser lebih dekat ke tempat Kyra dan merangkul bahunya dengan hangat. "Ada apa? Jangan membuatku khawatir!"


"Aku mendengar seseorang sedang mengobrol di telefon dan berkata dia akan menghancurkanmu. Dia juga menyebut nama mantan kekasihmu. Aku nggak tahu siapa dia karena aku tiba-tiba panik dan menutup pintu lift lagi. Aku takut, Bara." Tangis Kyra mulai pecah, ia memeluk Bara dengan erat.


"Ssssst, it's oke. Aku akan mengecek siapa orang itu nanti. Jangan menangis." Bara mengusap rambut Kyra dengan panik, ia benci melihat istrinya ini menangis.


"Aku takut terjadi sesuatu denganmu. Aku nggak mau orang itu mencelakaimu."


"Tidak ada yang bisa menyentuhku selain kamu, Sayang. Percayalah. Aku akan baik-baik saja. Mulai besok, jangan pergi keluar dari penthouse tanpa ijinku. Mengerti!?"


Kyra mengangguk di dalam dekapan Bara yang hangat. Mencium aroma parfum yang sangat maskulin ini membuat sekujur tubuhnya meremang. Sangat mendamaikan.

__ADS_1


"Berhentilah menangis. Tidaklah kau tahu memelukmu terlalu lama bisa berakibat fatal pada Jhony."


...****************...


__ADS_2