I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Sekongkol


__ADS_3

"Berdasarkan jumlah kepemilikan saham, saya mempunyai posisi yang sama dengan Bara." Edy menatap semua jajaran komisaris dan direksi yang duduk mengelilinginya. "Dan hari ini, saya ingin kalian semua meloloskan harapan saya untuk melengserkan Bara sebagai CEO Garmindotex."


"Atas dasar apa kamu mau melengserkan Bara?"


Friz yang baru datang mendadak membuat Edy bungkam. Keduanya saling bertatapan dengan tajam sebelum kemudian Friz mendekati keponakannya itu dan berdiri sampingnya.


"Selama Bara menjadi pemimpin perusahaan ini, nilai saham tidak pernah anjlok bahkan selalu mendapatkan keuntungan. GarmindoTex adalah salah satu dari tiga perusahaan Garmen dan Textil terbaik di negeri ini. Bukankah permintaanmu itu tidak masuk akal dan perlu dikaji ulang?" lanjut Friz gamblang.


Daniel yang sejak tadi berada di dalam ruangan itu ikut merasakan amarah Friz. Bagaimana tidak marah? Setelah semua yang dilakukan keluarganya pada Edy, sekarang sepupunya justru menjadi musuh dalam selimut. Belum cukupkah semua previlege yang diberikan oleh keluarga Lazuardi? Mengapa Edy begitu tamak ingin memiliki semua yang menjadi milik Bara?


"Semua tergantung keputusan dewan direksi. Mari kita melakukan voting dan melakukan perhitungan ulang nilai saham!" Edy mengayunkan langkahnya mendekati Friz dan berdiri tepat di hadapannya. "Bukankah saat ini Bara mulai tidak profesional dalam bekerja? Bahkan kantor sudah seminggu ini terabaikan. Begitukah pemimpin yang kalian puja? Rela meninggalkan urusan pekerjaan hanya untuk menunggui istrinya yang sedang sekarat."


"Tutup mulutmu!" hardik Daniel sembari bangkit dan menunjuk wajah Edy dengan sengit. "Apakah rasa empatimu sudah mati?!"


Edy tak menjawab, ia hanya menantang tatapan dingin Daniel dengan senyum kecutnya. "Aku sudah kehilangan empati pada kalian sejak kalian semua bersekongkol untuk menjebakku!"


Brak.


Semua yang hadir dan berada di dalam ruangan sontak terkejut dan menoleh bersamaan ke arah pintu yang dibuka secara kasar. Bara sudah berdiri di pintu itu dengan napas naik turun. Tatapannya dan Edy bertemu dan terkunci di satu titik. Bila tak ingat pada dewan direksi dan komisaris yang memenuhi ruangan, mungkin Bara akan menghajar sepupunya itu sampai babak belur. Beraninya Edy mengganggu ketenangannya di perusahaan yang sudah ia rintis sejak lama.


"Wah, akhirnya CEO kita datang setelah seminggu lebih bertapa. Selamat datang Mr. Bara!" Edy melebarkan senyumnya dan mempersilahkan Bara bergabung bersamanya di tengah-tengah ruangan.


Sambil berusaha mengatur napasnya, Bara mendekat sembari memasang kancing jasnya. Ia membungkuk pada jajaran direksi dan komisaris untuk memberi hormat pada mereka semua. Dengan segala emosi yang sekian lama menumpuk di dalam dadanya, Bara menatap satu per satu orang-orang yang hadir di ruangan itu sebelum mulai bicara. Sesekali, ia mengepalkan tangannya untuk menahan letupan emosi itu agar tak meledak.

__ADS_1


"Mohon maaf atas keterlambatan saya. Dan mohon maaf juga atas rapat darurat kali ini yang menyita waktu anda semua." Bara sekali lagi membungkuk dengan sopan. "Terkait hal yang diajukan oleh saudara Edy, saya mohon anda semua mau berpikir ulang. Tidak semudah itu menduduki posisi yang saat ini saya dapatkan. Saya berjuang dari nol untuk membangun GarmindoTex hingga menjadi besar seperti sekarang," jelas Bara dengan suara tercekat.


Suasana hatinya masih belum pulih, ia masih berduka, namun Edy begitu teganya membuat kegaduhan di saat Bara butuh waktu untuk menepi.


"Meskipun ada campur tangan Ayah saya, namun itu semua tak serta merta membuat saya berpangku tangan. Tolong pikirkan kembali, saya sudah mengabdikan hidup saya sejak GarmindoTex berdiri," pinta Bara memohon.


"Tapi belakangan anda mulai tak profesional, Mr. Bara. Kami butuh pemimpin yang tangguh dan tidak menye-menye seperti anda!" protes Edy memprovokasi. "Saya punya nilai saham yang sama dengan milik anda. Bagaimana jika anda merelakan saja posisi anda pada saya!"


"Maaf, saya hanya ingin menengahi. Bila memang tidak menemukan jalan tengah. Maka kami akan mengadakan voting pada semua pemilik saham." Pak Kurnia berdiri, beliau adalah komisaris senior yang ditunjuk oleh perusahan.


Beberapa pemegang saham mengangguk setuju. Pak Kurnia pun berdiri ditengah ruangan dengan membawa sebuah spidol. Ia membuat dua kolom dan menuliskan dua nama di sana. Nama Bara dan Edy.


"Mr. Daniel, anda memilih siapa?"


Edy menggeram dan menatap Daniel dengan penuh kebencian.


"45% untuk Mr. Bara dan 30% Mr. Edy. Next, Mr. Friz?" Pak Kurnia menunjuk tempat duduk Friz dan mengawasinya.


"Tolong, selamatkan Bara, Tuan."


Sekelebat suara Kyra mendadak memenuhi gendang telinga Friz. Ia memejamkan matanya dengan gusar.


"Saya berjanji akan melakukan apapun asal anda mau membantu Bara."

__ADS_1


"Kyra koma, Dokter bilang kesempatan hidupnya sangat rendah. Tidak ada yang bisa membangunkan dia selain keajaiban."


Suara Kyra dan Elena bersahutan dan membuat Friz semakin frustasi.


"Mr. Friz? Anda baik-baik saja?"


"Bara. Saya mendukung Bara!" putus Friz setelah keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


Ia memang jahat karena telah mengorbankan Kyra. Namun, Friz bukanlah pengkhianat yang ingkar pada janjinya.


"Dad!" desis Edy kecewa. Padahal tadinya ia pikir Friz berada di pihaknya.


"Mr. Kiandro Bagaskara?"


"Tentu saja saya memilih Mr. Bara."


Semua mata beralih mengawasi seorang lelaki tinggi besar yang sejak tadi duduk diam mengamati gerak-gerik Bara.


"Dan Mr. Bara, saya ikut berduka cita atas musibah yang menimpa istri dan calon bayi anda. Istri saya menitipkan salam, semoga Mrs. Kyra segera sadar dan pulih kembali."


Bara tercekat tak percaya mendengar perkataan lelaki seusia Daniel yang berdiri tak jauh darinya. Ia hanya membalasnya dengan senyum kelu dan membungkuk berterima kasih.


"Baiklah, bila demikian maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Mr. Bara tetap menjadi CEO di GarmindoTex dan usul Mr. Edy ditolak!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2