
"Kau mendapatkan copy videonya?" Bara mengalihkan perhatiannya dari layar laptop ke arah Morgan yang baru masuk ke dalam ruangannya.
"Sudah, Pak. Ini." Morgan menyerahkan sebuah flashdisk pada Bara dan dengan tanggap Bara segera mencolokkannya ke USB di laptop.
"Karena lantai 30 jarang digunakan dan hanya terpakai ketika ada acara besar, jadi kamera CCTV yang selalu online hanya ada 3, Pak. 2 Kamera yang menyorot jalan menuju lift dan lift itu sendiri, serta menyorot jalan menuju aula," jelas Morgan sembari menunjukkan 3 video yang ia maksud. "Nona Kyra tersorot kamera jam 13.12. Sebelum itu ada 4 orang yang berada di lantai 30 dan tersorot juga."
Bara menolehi Morgan dengan penasaran. "Siapa saja mereka?"
"Fendi, staf OB. Sisil, staf Produksi." Morgan berhenti sejenak, ia melirik wajah Bara yang masih mengawasinya. "Tuan Daniel dan Tuan Edy."
Kening Bara berkerut. Daniel?
Bila yang ada di lantai itu hanya Edy, mungkin Bara bisa langsung menuduh sepupunya itu. Tapi, di lantai itu juga ada Daniel?
Mengingat hubungan mereka sempat renggang sebelum Bara menikah, siapa yang bisa menjamin isi hati seorang Daniel?
"Tolong awasi Daniel, Morgan. Batasi ruang lingkupnya. Hanya dia yang berada di perusahaan ini selama jam kerja dan dia tahu seluk beluk perusahaan," tegas Bara dengan dada berdebar.
"Lalu Tuan Edy? Mengapa anda tak mencurigainya juga?" tandas Morgan heran.
"Edy tak memiliki banyak akses ke perusahaan ini kecuali saat meeting komisaris. Meskipun dia berniat menghancurkanku, tapi dia tak memiliki banyak kekuatan untuk melakukan itu. Apa kamu lupa semua fasilitasnya sudah aku batasi?" Bara menoleh pada Sekretarisnya itu.
Morgan akhirnya mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan memantau gerak-gerik Tuan Daniel mulai besok."
Mendengar kesigapan Morgan, Bara lantas bangkit dari kursinya. "Bagus. Sekarang aku harus pulang karena hari ini jadwal Kyra kontrol ke Dokter."
.
.
Di mobil yang disetir sendiri oleh Bara, Kyra nampak sibuk bermain game di ponsel yang baru beberapa minggu ini dibelikan oleh suaminya. Kyra sedang keranjingan bermain game survival dan tembak-tembakan. Sudah beberapa hari ini Bara menemukannya asyik bermain sendiri.
"Yaaaaah, kalah!" desis Kyra kecewa sambil menyandarkan tubuhnya yang sedari tadi tegang ke kursi penumpang di samping Bara.
Bara melirik Kyra sekilas, ia hanya menghembuskan napas panjang sebagai respon. Bara tak ingin diomeli seperti semalam, hanya gara-gara memperingatkan bila waktu tidur sudah tiba, Bara langsung disemprot dengan kalimat panjang kali lebar kali tinggi.
"Eh, kita sudah hampir sampai, ya?!" ucap Kyra begitu sadar mobil yang mereka kendarai sudah dekat dengan Rumah Sakit yang dituju.
__ADS_1
"Hm." Bara berdeham singkat.
Karena mereka berdua mendapat nomor antrian buncit, maka Bara tak terlalu buru-buru mengendarai kuda besinya. Meskipun mobil berlogo kuda jingkrak itu sepatutnya dilajukan dengan kecepatan tinggi, nyatanya motor bebek malah lebih cepat sampai di Rumah Sakit itu.
"Kamu marah karena aku daritadi main game?" selidik Kyra curiga karena daritadi Bara hanya diam membisu.
"Tidak. Siapa yang marah? Aku sedang fokus menyetir," kelit Bara cepat. Bisa gawat urusan kalo Kyra mengomel lagi seperti semalam.
"Aku kan sudah bilang, aku hanya akan fokus bermain ketika sedang war dan ada ancaman yang mendekat di koloniku."
"Iya, aku tahu, kok. Makanya daritadi aku tidak berani mengganggu konsentrasimu." Bara mengucapkan kalimat itu dengan sangat lembut dan senyuman lebar.
"Tapi aku ngerasa kamu ngambek, loh! Serius."
"Eh, kita sudah sampai!" Bara menunjuk Rumah Sakit di depan mereka dengan tatapan berbinar. Ia harus segera mengalihkan topik sebelum melebar dan membuat mood swing Kyra kambuh lagi.
Kyra menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Bara. Sudah dua kali ini mereka datang ke Rumah Sakit Internasional ini untuk kontrol. Rumah Sakit mahal yang memiliki fasilitas super lengkap dan taman yang lebih mirip disebut taman kota. Ketika sedang asyik memperhatikan bangunan Rumah Sakit yang megah, perhatian Kyra lantas beralih pada seorang lelaki yang sedang berdiri di teras Rumah Sakit.
"Daniel?" gumam Kyra sembari menajamkan penglihatannya.
Menggunakan softlens kadang masih membuatnya harus memicingkan mata untuk melihat dengan jelas raut wajah seseorang di kejauhan. Apakah mungkin minus matanya bertambah?
"Iya, itu dia!" Tunjuk Kyra pada seseorang yang terlihat sedang mengobrol di telefon.
Bara memarkir mobilnya dengan terburu-buru. Dia ingin memastikan dengan siapa Daniel mengobrol di telefon. Namun, belum sempat Bara mematikan mesin mobil, ternyata Daniel sudah lebih dulu naik ke mobil taksi online yang menjemputnya. Bara mendengus kesal.
Menyadari bila Bara terlihat terburu-buru untuk menyusul saudaranya, Kyra berencana untuk mengorek status Daniel karena ia belum terlalu mengenal kakak iparnya itu dengan baik.
Sambil berjalan bergandengan memasuki aula Rumah Sakit, Kyra memperhatikan Bara yang lebih banyak berdiam diri sejak tadi. Usai mendaftarkan ulang nomor antrian, Bara dan Kyra menunggu di kursi panjang di depan ruangan Obgyn.
"Bara."
Bara menoleh sekilas. "Hm?"
"Boleh aku tanya sesuatu?" bisik Kyra.
"Boleh. Kenapa harus ijin dulu untuk bertanya?"
__ADS_1
"Daniel itu kakak kandungmu?"
Wajah Bara sontak menegang ketika mendengar nama itu disebut. Senyumnya mendadak lenyap.
"Apa yang sudah dikatakan Elena padamu."
Giliran wajah Kyra yang tersentak tak percaya. "Kamu bahkan memata-mataiku di rumah?"
"Tidak. Sudah lama aku meletakkan CCTV di rumah," elak Bara sinis. "Apa Elena membahas Daniel dan aku?"
"Dia mamamu, Bara. Nggak sopan kalo kamu menyebut nama dia begitu saja."
Bara tersenyum kecut. "Dia juga meracuni pikiranmu rupanya. Hebat sekali permainannya."
Kyra melepas pagutan jemarinya dari genggaman Bara. Ada sisi lain Bara yang tak Kyra ketahui dan baru ia lihat hari ini. Menyadari bila Kyra terlihat tak nyaman dengan perkataannya, Bara mengepalkan tangannya yang tak lagi bertautan dengan tangan Kyra.
"Siapa kalian sebenarnya? Mengapa kalian sangat misterius? Bahkan aku seperti tak mengenalimu lagi, Bara," lirih Kyra kecewa.
"Aku tidak perlu menjelaskan hal yang tidak penting padamu, Kyra. Aku pikir kamu hanya perlu mengenalku dan itu sudah cukup. Tidak perlu membahas orang lain."
Kyra menggeleng tak percaya. "Mereka bukan orang lain, mereka keluargamu!"
"Aku tidak menganggap mereka penting. Meskipun kami keluarga tapi kami seperti orang asing," kelit Bara tak terima.
"Tapi mereka penting untukku. Keluargamu adalah keluargamu juga. Sama seperti Ayahku yang juga menjadi Ayahmu sejak kita resmi menikah."
Bara menggeram. "Jangan samakan Ayahmu dengan Daddy-ku. Mereka jauh berbeda."
Jauh berbeda? Kyra terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Bara.
"Tentu, Daddy-mu dan Ayahku memang berbeda. Kami memang tak selevel dengan kalian."
"Nyonya Kyra Sada Batari!"
Bara dan Kyra menoleh bersamaan ke arah petugas yang baru saja memanggil namanya untuk mendapatkan giliran di periksa. Bara hendak bangkit, namun Kyra menahannya.
"Aku masuk sendiri. Aku nggak mau anakku dilihat oleh orang yang nggak selevel dengan kami!"
__ADS_1
...****************...