
"Ayah sudah makan?" Kyra meletakkan segelas teh hangat di meja, sementara Roni berkeliling mengamati setiap sudut penthouse Bara yang mewah bak istana.
"Sudah." Roni menyahut dari ruang living room minimalis yang didominasi furniture berwarna putih dan hitam, dengan tivi berukuran super besar menempel di tembok dan sofa leather berwarna hitam.
Sementara itu, Kyra mengawasi sang ayah yang terlihat mengagumi semua sudut kediaman Bara dengan haru. Tadi pagi-pagi sekali, Bara sudah berangkat ke kantor dan meminta Kyra untuk tidak pergi ke mana-mana. Di luar sudah ada bodyguard yang sengaja disewa oleh Bara untuk menjaga Kyra selama ia tak ada. Bara benar-benar memperketat penjagaannya pada ibu dari calon bayinya itu dan tak ingin kecolongan lagi.
"Kamu beruntung sekali, Ky."
Kyra tersentak, Roni sudah duduk di depannya dengan pandangan mata berkaca-kaca.
"Ah, beruntung apanya! Aku malah merasa seperti hidup di penjara, Yah. Sejak kemarin Bara mengurungku dan memintaku untuk tak bergerak dari tempat tidur. Memangnya aku selemah itu sampai mau jalan ke kamar mandi saja dilarang!"
"Bara melarangmu ke kamar mandi?" tanya Roni heran.
Kyra mengangguk cepat. "Di memaksa mau menggendongku ke kamar mandi. Lebay sekali, kan!?" sungutnya dengan wajah terlipat.
"Terus kamu nggak jadi ke kamar mandi?"
"Ya jadi lah. Masa mau pipis di kasur!" Kyra terkekeh sendiri, kenapa mereka berdua jadi membahas perjalanan menuju kamar mandi? Apa tidak ada hal yang lebih penting untuk dibahas?
"Besok kalian akan menikah. Ayah harap, kali ini kamu mau menurut sama Bara."
Tawa renyah Kyra seketika lenyap, ia membuang muka sembari menghembuskan napas panjang.
"Kamu harusnya bersyukur karena Bara masih mau bertanggung jawab. Dengan kekayaan dan segala yang ia punya, sebenarnya Bara bisa mendapatkan wanita yang jauh segala-galanya dibanding kamu!" timpal Roni.
Kyra masih terdiam, ia hanya tak mau mood-nya terdistraksi oleh pembahasan tentang pernikahan ini.
"Kyra, tolonglah buka hatimu untuk Bara. Demi anak kalian, demi Ayah juga."
"Ayah, jangan bilang begitu, aku jadi sedih." Kyra menarik tangan Ayahnya yang terkulai di meja dan menggenggamnya dengan erat.
"Kamu sudah dewasa. Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan. Ayah bisa mentolerir kebohonganmu, tapi Ayah nggak bisa mentolerir bila sampai kamu lari dari tanggung jawab dan menambah permasalahan baru." kali ini Roni memberi penekanan pada setiap kata-kata yang ia ucapkan.
__ADS_1
"Orang tua Bara nggak menyukaiku, Yah. Itulah kenapa aku nggak mau menikah dengan Bara," ungkap Kyra lirih.
Roni mengernyit bingung. "Kamu menikah sama orang tuanya atau sama Bara? Kenapa urusan orang tuanya malah membuatmu membenci Bara?"
"Aku nggak benci sama Bara, Ayah. Justru karena aku memikirkan kebaikan Bara, makanya aku nggak mau menambah beban dia. Aku nggak mau menjadi jurang pemisah bagi Bara dan kedua orang tuanya." Kyra menundukkan kepala, ia menatap perutnya dengan sedih.
"Kamu hanya terlalu terbawa perasaan, mereka belum menyukaimu karena mereka belum mengenalmu dengan baik," tutur Roni dengan lembut seraya mengeratkan genggaman di tangan putrinya. "Nanti bila mereka tahu betapa baik hati dan tulusnya putri cantikku ini, mereka pasti akan menyukaimu." Roni mengangkat dagu Kyra yang masih menunduk dan tersenyum ketika tatapan mereka bertemu.
"Percayalah, ini hanya soal waktu. Sementara ini, cobalah membuka hatimu dan menerima takdirmu dengan hati lapang."
.
.
"Bagaimana kondisi saya, Dok?" Daniel mengancing kemejanya sambil menghampiri meja Dokter Steven dan duduk di hadapannya.
"So far so good, Niel. Teruslah jalani hidup sehat dan rutin kontrol seperti ini. Apakah obat-obatan masih ada?" tanya Dokter Steven sembari mencatat perkembangan kondisi jantung Daniel di jurnalnya.
"Masih, Dok. Tapi tak ada salahnya saya menyetok obatnya lagi. Bulan depan sepertinya saya absen kontrol."
Daniel mengernyit. "Bara?" tanyanya balik.
"Apa kamu punya adik yang lain?" Dokter Steven terkekeh mendengar pertanyaan Daniel.
Mau tak mau, Daniel ikut tertawa meski ia cukup syok mendengar pertanyaan Dokter Steven padanya.
"Seharusnya sih pernikahan itu lebih cepat dilaksanakan lebih baik. Apalagi bulan depan sepertinya perut calon istrinya pasti bertambah besar."
Daniel mendelik. Kyra hamil?? Bara menghamili Kyra? Oh, yang benar saja!
"Kamu tidak tahu tentang berita ini?" selidik Dokter Steven begitu melihat wajah syok Daniel. "Ups, sepertinya aku terlalu banyak membocorkan rahasia adikmu."
"Berapa usia kandungan wanita itu, Dok?" tanya Daniel penasaran. Sejauh yang ia tahu, Bara dan Kyra baru saja saling kenal setelah Kyra bekerja di perusahaan keluarga mereka.
__ADS_1
"Hmmm, sepertinya sekitar 8-9 minggu." Dokter Steven, yang telah menangani Daniel sejak ia terdiagnosa kelainan jantung, adalah salah satu tim Dokter yang menjadi langganan keluarga Lazuardi. Itulah mengapa ia tahu seluk beluk dan kabar terbaru mereka.
"Jujur saya baru tahu kabar ini. Tadinya saya pikir, mereka hanya saling suka saja. Tapi ternyata ..."
"Tapi ternyata adikmu lebih berani darimu! Hahahaa ..." tawa Dokter Steven membuat Daniel ikut tertawa sumbang. "Aku akui, Bara memang mewarisi sifat keras Friz. Tapi untuk urusan wanita, rupanya dia memiliki selera yang hampir sama denganmu, Niel."
"Kami mendekam di rahim yang sama meskipun berbeda benih. Betapapun banyaknya perbedaan sifat kami, pasti masih ada yang sama meskipun hanya satu." Daniel mengucapkan kata-kata itu sembari menatap pemandangan langit di luar jendela.
"Ya, dan Friz sangat beruntung memiliki istri seperti Elena yang sangat menyayangi kalian berdua meskipun tidak terlahir dari rahimnya."
Daniel tersenyum kecut. Elena memang sayang padanya dan Bara juga Edy, tapi ibu sambungnya itu terlalu sering ikut campur dan membuat Daniel muak.
"Ini resep obatmu. Jangan terlalu memforsir tubuhmu sendiri, Niel." Dokter Steven menyerahkan selembar kertas resep pada Daniel.
Dengan tanggap, Daniel meraih kertas itu dan melipatnya untuk disimpan di saku.
"Terima kasih banyak, Dokter."
"Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting. Datanglah kemari kapanpun kamu butuh teman untuk mengobrol."
Daniel tersenyum dan mengangguk sebelum kemudian menyalami Dokter Steven dan keluar dari ruangan poli. Sambil melangkah santai,seluruh pikiran Daniel tertuju pada Bara. Pantas saja tempo hari ia melihat Friz datang ke kantor, padahal biasanya dia selalu mewakilkan rapat dewan komisaris ke sekretaris karena Friz fokus mengurusi bisnis perhotelan mereka di Bali.
"Jadi kamu benar-benar menghancurkan hidup Bara?" gumam Daniel sembari memikirkan Kyra. "Semoga saja kamu betah bertahan hidup di keluarga Lazuardi, Kyra!"
Langkah kaki Daniel berhenti di apotek lantai 1 Rumah Sakit. Ia menebus obat yang sudah diresepkan oleh Dokter Steven tadi dan kembali merenung.
Itu berarti terakhir kali bertemu Kyra di Rumah Sakit ini, kondisi Kyra sudah berbadan dua? Ah, semoga saja Bara tak berakhir seperti dirinya!
Drtttt drtttt ....
Daniel tersentak dan merogoh ponsel yang ia simpan di saku celana.
Bara is calling ...
__ADS_1
...****************...