
Suara detik jam yang biasanya tak banyak disadari orang, kini terdengar sangat nyaring di kamar berinterior klasik milik Bara. Sangat hening dan sepi, bahkan suara hembusan dan tarikan napas dua anak manusia yang sedang terbujur di ranjang yang sama itu seolah bersaing dengan suara detik jam.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Bara ketika ia melihat Kyra masih menatap langit-langit kamar.
"Aku takut."
Bara mengernyit. Ia memiringkan tubuh menghadap Kyra. "Takut apa?" tanyanya heran.
"Takut kamu menyentuhku ketika aku sedang tertidur!" sungut Kyra to the point.
Tawa Bara pecah, ia kembali memposisikan diri tidur terlentang agar tak semakin keras menertawai Kyra yang pucat pasi.
"Kenapa kamu tertawa? Kamu pasti sudah merencanakan niat buruk, kan?" Kyra beranjak duduk dan menatap Bara dengan tajam.
"Hahaha ..." Bara masih tertawa. Ia lantas ikut duduk berhadapan dengan Kyra. "Aku tidak akan menyentuhmu bila kamu belum siap. Memangnya aku lelaki apa'an! Aku masih bisa menahan Jhony-ku dengan baik."
Kyra mengernyit. "Jhony?"
Bara menunjuk miliknya yang berada di bawah sana tanpa diminta. Ia menamai adik kecilnya itu dengan sebutan Jhony.
"Kenapa dinamai Jhony? Kamu memang aneh!" Kyra menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.
"Bukankah ini berada di tubuhku? Jadi aku berhak menamainya dengan apapun. Daniel juga menamai adiknya dengan --"
"Hentikan! Aku nggak peduli kalian mau menamainya dengan sebutan apapun. Kalian memang keluarga aneh!" Kyra kembali merebahkan tubuhnya dengan lega karena Bara sudah menyatakan tak akan menyentuhnya malam ini.
"Apanya yang aneh? Justru kalian yang aneh karena menamai benda milik kalian sendiri dengan nama yang sama dengan milik orang sedunia. Bukankah itu namanya tidak kreatif?" Bara ikut berebah sambil mendumel.
"Ya ya, terserah lah. Aku mau tidur, aku lelah sekali seharian ini," pamit Kyra sembari menutup mata.
"Bila punyaku aku namai Jhony, bagaimana kalo punyamu aku namai Jhiny? Sepertinya mereka akan cocok."
Kyra melempar bantal yang ia dekap ke arah Bara. "Tidurlah! Jangan terlalu banyak berpikir biar otakmu tak semakin geser."
"Jhony jhony, yes Papa ... Say hello to Jhiny, yes Papa."
"Baraaaaaaa!!"
.
__ADS_1
Paginya, untuk pertama kalinya Kyra melayani Bara dengan mempersiapkan sarapan pagi untuknya. Meskipun Kyra tak jago memasak, namun ia masih bisa memasak makanan simpel yang tak membutuhkan keahlian khusus.
Seporsi nasi goreng mentega dengan orak arik telur dan segelas susu hangat telah tersaji di meja ketika Bara baru keluar dari kamar. Sambil menenteng sebuah map, Bara menghampiri meja makan dan mengawasi Kyra yang masih mencuci beberapa peralatan memasak yang tadi ia pergunakan.
"Kamu tidak sarapan?" tanya Bara ketika ia hanya melihat ada satu piring di meja.
"Nggak, aku takut mual lagi. Nanti saja agak siangan aku makan. Aku sudah minum susu tadi." Kyra meletakkan cucian terakhirnya dan menarik tisu sambil menghampiri meja makan.
"Nanti malam kita ke Dokter. Kamu harus banyak makan biar anakku tidak malnutrisi seperti Maminya," sindir Bara sembari menarik kursi dan duduk dengan anteng. Tak ada pelayan, ia harus mandiri mulai hari ini.
Menyadari Bara sedang menyindirnya, Kyra melotot kesal.
"Enak saja malnutrisi! Kamu tuh yang kelebihan omega 3 sampai-sampai otakmu terlalu overload dan bergeser dari posisinya."
Bara tertawa mendengar balasan sindiran Kyra yang lebih kejam padanya. Ia lantas menyodorkan map yang ia bawa untuk Kyra.
"Apa ini?" Kyra meraih map itu dan membukanya. Bola matanya bergerak dengan jallang membaca sebuah lembaran berisi surat kepemilikan saham yang mencantumkan namanya sebagai pemilik. "Bara ini?"
"Itu hadiah untukmu. Aku membeli 20% saham di Perusahaan tempatmu bekerja dulu. Aku sudah mendengar dari Morgan bila di perusahaanmu yang lama, kamu dipaksa untuk mengajukan resign atas kesalahan yang tidak kamu perbuat." Bara menyantap nasi goreng buatan Kyra dengan lahap.
"B-bagaimana Morgan bisa tahu?"
"Cih!" Kyra terkekeh. "Lalu untuk apa kamu memberiku hadiah ini?"
"Agar kamu bisa balas dendam pada mereka yang sudah memfitnahmu. Bukankah sejak dulu kamu ingin balas dendam pada mantanmu dan sahabatmu itu. Jadi inilah saat yang tepat."
Kyra kehabisan kata-kata. Sekali lagi ia membaca lembaran di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Nominal saham yang dibeli oleh Bara pun jumlahnya fantastis.
"Tidak usah berterima kasih padaku, aku melakukannya untuk anakku. Agar ketika dia lahir, Maminya bisa bercerita berapa hebatnya dia mengalahkan orang-orang yang sudah meremehkannya."
Bara berkata seolah tak peduli, namun Kyra yakin bila lelaki yang baru sehari menjadi suaminya ini adalah lelaki yang baik.
"Terima kasih, Bara. Aku nggak tahu harus berkata bagaimana lagi, aku--"
"Cukup jagalah anakku dengan baik, lahirkan ia dengan selamat. Aku tidak meminta apapun sebagai balasan selain itu, Kyra." Kali ini, Bara menatap Kyra dengan serius.
Dengan senyum yang merekah bahagia, Kyra mengangguk.
"Dan satu lagi, jangan buka identitasku. Anggap kamu membeli saham itu dengan uangmu. Jangan membahas apapun tentangku, mengerti?"
__ADS_1
Kyra mengangguk sekali lagi. "Iya, aku janji."
"Bagus! Dengan kepemilikan saham itu, kamu berhak untuk datang ketika ada rapat dewan komisaris. Tunjukkan pada mereka bahwa kini kamu sudah berubah, jangan lagi takut pada apapun. Aku mau Kyra yang sekarang mengandung anakku menjelma menjadi Kyra yang tangguh dan tak terkalahkan," ungkap Bara penuh semangat.
"Iya, aku akan melakukannya untukmu."
"No no, bukan untukku! Semua ini untuk kedamaian dirimu sendiri, Kyra."
Kyra mengangguk, ia menutup lembaran map itu dan memperhatikan Bara yang sudah menghabiskan seporsi nasi goreng buatannya. Melihat hal sepele begini, entah mengapa hati Kyra menghangat.
"Nanti malam kamu pulang jam berapa? Biar aku masakkan menu lain untuk makan malam," tawar Kyra sembari menatap Bara dengan mesra.
"Nanti malam kita makan di luar. Bukankah aku sudah memintamu untuk periksa ke dokter? Aku akan mengantarmu!" janji Bara sebelum ia menghabiskan segelas susu yang masih hangat itu.
Ketika seluruh makanan dan susu yang ia santap sudah sepenuhnya mendarat aman di lambung, Bara pun bangkit dari kursinya.
"Aku berangkat dulu," pamitnya sembari menghampiri Kyra.
Menyadari bila Bara akan berpamitan pada janinnya, Kyra pun berdiri dengan sigap.
Cup.
Sebuah ciuman mendarat di kening Kyra tanpa ia duga. Ratusan volt sengatan listrik seolah menyetrum seluruh tubuh Kyra melalui ciuman itu. Ia mematung kaku, pun ketika Bara membungkuk sambil mencium perutnya dengan sangat mesra dan lama.
"Daddy berangkat dulu ya, Baby. Sampai jumpa nanti sore!" Bara mengelus perut datar itu dengan lembut.
Ketika telah sepenuhnya berdiri, tatapan Kyra dan Bara bersiborok. Tak ingin terbawa suasana, Kyra cepat-cepat berpaling dan hendak berbalik kembali ke dapur.
Grap.
Tangan Bara lebih dulu menangkap istrinya itu sebelum ia berhasil kabur. Ia lantas menarik Kyra sedikit kuat hingga membuat tubuh mungilnya membentur badan Bara.
"Sebuah ciuman lagi tak apa, kan?"
"A-ap--"
Belum sempat berucap, Bara sudah menyumpal mulut Kyra dengan bibirnya. Sebuah ciuman pagi yang manis beraroma susu.
...****************...
__ADS_1