I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Aku Mohon Bangunlah!


__ADS_3

Menjelang petang ketika Bara baru pulang dari kantor, ia langsung menuju Rumah Sakit untuk mengecek keadaan Kyra. Melihat istrinya itu meski hanya dari balik kaca, sudah cukup membuat rindu Bara terobati. Sejak Kyra terbujur koma, keinginan Bara tak pernah lagi semuluk dulu.


Entah hanya sebuah kebetulan atau sebuah kesempatan emas, Bara tak menemukan ayah mertuanya di depan ruangan Kyra. Seutas senyum merekah lega, Bara tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera berlari menghampiri dinding kaca tempat Kyra terlelap dalam komanya.


"Sayang, aku pulang," sapa Bara riang, tangan kekarnya mengusap lembut dinding kaca yang membatasi keduanya.


Ini adalah petang pertama yang ia habiskan bersama Kyra, sebelum-sebelumnya Bara baru bisa mendekat di jam 10 ke atas ketika Roni sudah tertidur pulas.


"Kamu masih belum kangen sama aku, ya? Kenapa tidurmu lama sekali? Ayo, bangun dong!" lanjut pria yang masih mengenakan jas itu dengan sedih. "Betewe, kamu tahu, tidak? Tadi pas perjalanan ke sini, aku lihat matahari tenggelam yang cantik banget. Kamu suka kan lihat sunset? Kalo kamu bangun, aku mau ajak kamu jalan-jalan ke Bali biar kita bisa lihat sunset yang indah!" janji Bara berapi-api.


Sekelebat ingatan kala Kyra sangat menyukai sunset ketika di pulau dulu membuat hati Bara terasa nyeri. Sejak menikah, ia bahkan tak pernah mengajak Kyra jalan-jalan. Kencan pertamanya kala itu berlangsung tanpa direncanakan dan sangat biasa saja.

__ADS_1


"Maaf kalo selama menikah denganku, kamu belum pernah sekalipun aku ajak jalan-jalan. Aku selalu sibuk dengan pekerjaanku dan mengabaikan kamu. Maafkan aku ya, Sayang." Bara mengusap dinding kaca itu dengan lembut seolah sedang mengusap wajah cantik istrinya yang masih memejamkan mata dengan erat. "Aku belum sempat membahagiakan kamu, Ky. Jadi tolong bangunlah. Jangan membuatku semakin merasa bersalah."


Setetes air mata lolos dari pelupuk Bara namun dengan cepat ia menyekanya.


"Apa kamu tidak mau bangun karena takut aku memarahimu gara-gara kabur? Apa kamu tidak mau membuka mata karena tidak mau melihatku, hm?" lirihnya pilu.


Terkadang Bara berpikir, memiliki Kyra adalah hal teregois yang ia lakukan pada gadis itu. Dengan kejamnya, Bara memaksa Kyra untuk menjadi miliknya tanpa pernah memikirkan perasaan istrinya. Ia memanfaatkan kehamilan itu untuk menguasai Kyra. Dan akhirnya, kini ia malah kehilangan segalanya.


Rasa sesak di dalam dada yang beberapa hari ini ia tahan sekuat tenaga, kini mulai semakin menyiksa. "Aku berjanji akan melakukan apapun keinginanmu, tapi bangunlah. Sadarkah, Ky. Aku sangat merindukan kamu. Tolong jangan hukum aku seperti ini."


Air mata itu tak terbendung lagi. Bara tak pernah tahu bila ia ternyata selemah ini kala berhadapan dengan ambang kematian. Ia sudah kehilangan bayinya, calon penerus yang sudah ia siapkan segala kebutuhan masa depannya. Dan Bara tak akan sanggup bertahan bila Kyra juga pergi meninggalkan dirinya. Bila semua yang ia sayangi pergi, lantas untuk apa ia masih bertahan di dunia yang penuh kepalsuan ini.

__ADS_1


Hanya Kyra yang sanggup merubah dunia kelam Bara. Dunia yang penuh dengan gelimang dosa, dunia yang penuh dengan keegoisan dan keserakahan. Namun, sejak mengenal Kyra, Bara  bisa tertawa hanya dengan melakukan hal yang sangat sederhana. Sesederhana melihat Kyra berebut pisang dengan monyet hingga mereka berdua bertikai.


"Bangunlah, Ky. Aku janji akan pergi asal kamu mau membuka matamu dan hidup dengan bahagia seperti dulu. Aku mohon, bangunlah."


Bara mengusap air matanya. Rasa pasrah dan takut kehilangan membuatnya berpikir mungkin Kyra tak mau membuka mata karena dirinya yang egois. Dengan perih, pria yang masih sangat berduka itu berbalik. Dan dengan rasa sesak yang semakin menyiksa di dalam hati, Bara meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi.


Sementara itu di dalam ruangan steril dengan dinding kaca dan seorang pasien wanita. Garis di layar komputer kecil itu mulai menunjukkan grafik yang berbeda dari sebelumnya. Grafik yang tadinya naik turun secara stagnan itu, perlahan berubah naik turun dengan landai. Beberapa orang perawat yang sedang berjaga di luar ruangan, sontak berlarian masuk ke dalam dengan panik.


"Dokter! Pasien positif respon! Dokter, mohon segera ke ruangan sekarang!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2