
"Sepertinya hari ini anda lebih murah senyum, Pak?" selidik Morgan terheran-heran menyaksikan keanehan sikap Bosnya.
Masih dengan langkahnya yang lebar dan teratur, Bara menoleh sejenak ke arah Sekretaris yang mengikutinya.
"Apa tersenyum sudah dilarang di kantor ini?" Bara balik bertanya.
"Bukan begitu, hanya saja sangat aneh melihat anda sangat friendly dan murah senyum."
"Aku sangat senang hari ini, Morgan! Keluargaku sepertinya sudah menerima kehadiran Kyra. Kami akan makan malam bersama nanti malam!" jelas Bara sumringah. "Bagaimana menurutmu? Apakah itu juga merupakan sinyal bila Daddy mulai menyukai Kyra?"
Langkah lebar Bara terhenti ketika menunggu pintu lift terbuka. Morgan pun ikut berdiri di sampingnya sambil berpikir keras.
"Tempo hari Nona Kyra meminta nomor Tuan Friz pada saya."
Deg. Bara menolehi Sekretarisnya dengan kaget.
"Untuk apa Kyra meminta nomor Daddy padamu? Kenapa tidak memintanya sendiri padaku?"
Morgan menggeleng tak paham. "Sepertinya mereka sedang mencoba mengakrabkan diri, Pak. Buktinya malam ini kalian akan makan malam bersama."
"Makan malam bersama?"
Suara Daniel yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang membuat Bara dan Morgan menoleh bersamaan.
"Oh, Niel. Apakah Elena tidak mengundangmu?" Bara menggeser posisinya agar Daniel bisa berdiri di sampingnya.
"Tidak. Memangnya sejak kapan mereka peduli padaku!" cibir Daniel terkekeh.
"Datanglah, Niel. Nanti malam aku dan Kyra akan makan bersama di Mansion!"
"Lalu mengacaukan acara makan malam indah kalian? Tidak, terima kasih!" tolak Daniel masih dengan tawa santainya. "Aku masih bisa membeli seporsi makan malam tanpa harus mengemis pada mereka."
Mendengar penolakan dari kakaknya, akhirnya Bara menyerah. Pintu lift terbuka dan mereka bertiga masuk bersamaan.
"Edy sudah mendapatkan total 30% saham, Bara. Bersiaplah bila minggu depan dia akan membuat kekacauan!" bisik Daniel sembari mendekat ke telinga adiknya.
Bara mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku tidak takut selama kamu dan Daddy berada di pihakku."
"Aku tidak mau berada di pihakmu."
__ADS_1
Secepat kilat, Bara menoleh ke arah Daniel dan menatapnya tajam. "Coba saja! Kamu tidak akan berhasil mengalahkanku."
"Cih!" Daniel terkekeh mendengar kesombongan adiknya. "Jagalah istrimu dengan baik! Baru aku akan memikirkan untuk berada di pihakmu!"
.
.
Tiba di Penthouse, Kyra sudah tampil cantik dengan gaun hitam sebatas paha, make up mata mencolok, dan rambut yang diikat ke atas dan di catok lurus.
"Aku lebih suka rambutmu yang lama!" keluh Bara sesekali melirik penampilan istrinya yang sangat berbeda. "Itu bulatan hitam di matamu juga menyeramkan. Kita tidak sedang menghadiri pesta halloween, Kyra!"
Kyra menyentuh matanya dengan keki. Bila bukan untuk menyembunyikan matanya yang bengkak akibat seharian menangis, Kyra pun tak sudi memoles eyeshadow hitam ala smokey eyes begini!
"Ini tren baru, tahu! Kamu hanya belum terbiasa saja melihatku memoles make up setebal ini," sungut Kyra tak terima.
Masih dengan tatapan penasaran, Bara menyelesaikan kegiatannya bersolek dan menyemprotkan parfum kesukaannya. Aroma yang sangat Kyra sukai menguar memenuhi kamar dan membuat dadanya berdetak kencang. Astaga, bahkan mencium wanginya saja tubuh Kyra sudah meremang menginginkan Bara menyentuhnya.
"Ky?" Bara melambaikan tangannya di depan wajahnya Kyra yang menatap kosong ke depan. "Kamu ngantuk?"
Kyra menepis tangan suaminya yang berada tepat di depan wajahnya dan berlalu.
Tanpa merasa curiga sedikitpun pada sikap dingin istrinya, Bara pun mengikuti langkah Kyra yang sudah sampai di depan pintu lift. Kyra mengenakan gaun di atas lutut berwarna hitam yang sedikit terbuka di bagian punggungnya. Dari kejauhan saja, Bara sudah berkali-kali menelan saliva saat punggung mulus nan putih itu seolah melambai menggodanya. Itu hanya punggung, apalagi bila bagian depannya juga terbuka!
'Akh, damnn! Pikiran kotor macam apa ini!'
Tak ingin semakin larut dalam pikiran mesumnya, Bara segera mengalihkan perhatiannya dengan mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Di dalam mobil, Kyra yang lebih banyak diam dan sibuk dengan ponsel di tangannya membuat Bara semakin salah tingkah. Sesekali ia memperhatikan paha Kyra yang sedikit tersingkap ketika sedang duduk. Perhatiannya terpecah, ia jadi tak bisa fokus menyetir.
"Ky, bisakah kamu menarik rokmu sedikit ke bawah! Aku pusing melihatnya."
Kyra menoleh ke arah Bara, ia lantas menunduk dan memperhatikan roknya. Benar, sejak kapan roknya itu tersingkap sedemikian tinggi hingga memperlihatkan sebagian besar paha mulusnya. Dengan keki, Kyra menarik rok gaunnya dan kembali sibuk dengan gadget di tangannya.
"Apa nanti malam--"
"Nggak boleh!" tukas Kyra cepat. Ia seolah paham bila Bara mencoba kembali merayu untuk menyentuhnya.
Bara mendesah kecewa. "Kenapa masih tidak boleh? Aku bisa mati kejang kalo terlalu lama menahannya, Ky."
__ADS_1
"Ya sudah, sewa saja perempuan di luar!"
Deg. Bara menoleh kaget ketika mendengar Kyra mengucapkan kalimat itu.
"Ky, jangan main-main dengan perkataanmu."
Mencoba membuat Bara sedikit kesal adalah misi Kyra malam ini. Ia menoleh dan menantang tatapan tajam Bara.
"Aku serius. Selama aku belum siap, kamu boleh menyewa perempuan manapun yang kamu mau!"
Meski masih tak terima dengan pernyataan istrinya, Bara akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi jangan menyesal bila aku menuruti perintahmu."
Dengan rasa sakit yang terasa semakin menusuk-nusuk di dalam dadanya, Kyra mengangguk. Ia hanya tak mau Bara menunggunya terlalu lama, toh mulai malam nanti mereka berdua akan berpisah, bukan?
Sementara Kyra meratapi nasibnya yang berada di ujung tanduk, Bara malah merasa semakin terabaikan dengan sikap dingin istrinya. Ia merasa tak diinginkan, merasa tak pantas untuk menyentuh Kyra. Apakah karena Kyra adalah wanita kesekian yang pernah ia tiduri? Jadi Kyra merasa jijik padanya? Begitukah??
Dengan hati yang sama-sama terluka, pasangan suami istri itu tiba di Mansion mewah keluarga Lazuardi. Untuk pertama kalinya, Kyra dibuat takjub oleh rumah besar bak istana itu. Ia semakin yakin, pengorbanannya untuk Bara tak akan sia-sia. Justru inilah jalan terbaik agar Bara bisa tetap mendapatkan kemewahan yang sejak kecil ia dapatkan.
Mobil sedan hitam Bara berhenti di teras. Dua orang pelayanan berlari menghampiri mobil dan membukakan pintu milik Tuan dan pasangannya.
"Selamat malam, Tuan!" sapa pelayanan itu sembari membungkukkan badan pada kedua majikannya.
Bara menarik tangan Kyra agar menggamit lengannya dengan sedikit paksa.
"Setidaknya di rumahku, bersikaplah seolah-olah kamu sangat mencintaiku. Bisa, kan?" bisik Bara sembari mendekat ke telinga istrinya.
Kyra mengangguk, ia menghela dan menghembuskan napas untuk berelaksasi. Melihat pintu besar nan kokoh di hadapannya, tubuh mungil Kyra terasa semakin kerdil. Sambil bergandengan, mereka berdua pun masuk ke dalam Mansion Lazuardi.
"Selamat datang, Bara dan Kyra!"
Sapaan Elena yang terdengar dari meja makan membuat Kyra menghembuskan napasnya lega. Namun, ketika melihat sesosok lelaki yang juga berada di meja makan itu di dekat kursi Friz, jantung Kyra seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Pun Bara juga mematung terkejut ketika lelaki yang paling ia benci, ternyata berada di meja yang sama dengan Daddy dan Mommy Elena-nya.
"Apa yang dia lakukan di sini, Dad? Aku pikir kalian hanya mengundangku dan Kyra!"
...****************...
Bestie, udah pada follow author belom? Kalo belom, cuz buruan follow biar bisa otor undang di grup Noveltoon dan kita bisa saling ngobrol 🥰
__ADS_1