
"Aku nggak mau pulang, Bara!"
Senyuman di wajah tampan itu perlahan memudar. Rasa bahagia karena akan pulang ke Indonesia bersama istri kesayangannya mendadak berubah drastis.
"Tidak mau pulang?" ulang Bara tercekat.
Ia masih mencoba mencerna penolakan wanita kesayangannya itu.
Dengan sigap Kyra mengangguk. "Aku baru tiga bulan di sini. Lagipula kuliahku sedang sibuk-sibuknya. Kalo aku pulang--"
"Di sini tidak aman, Kyra. Edy sedang mengintai kita!" tandas Bara cemas. "Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, toh kamu bisa melanjutkan kuliahmu di Indonesia, bukan?"
Persetan dengan kuliah! Bara lebih mencemaskan keselamatan Kyra daripada gelar sarjananya. Dia sudah kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai, dan satu-satunya yang tersisa hanyalah Kyra.
"Berhenti memaksakan kehendakmu padaku. Jangan bertingkah seolah-olah kamu peduli padaku!" Kyra menatap tajam pada pria yang masih berstatus suaminya.
"I did! Dan aku masih peduli padamu sampai detik ini. Jika aku hanya berpura-pura lantas untuk apa aku menyewa bodyguard dan terbang jauh-jauh kemari untuk menemanimu!"
Tanpa Kyra sadari, mata yang selalu menyorot dingin dan angkuh itu mulai berkaca-kaca.
"Edy merencanakan kejahatan untuk mencelakaiku, tapi dia salah sasaran hingga akhirnya justru Daddy yang tewas. Butuh waktu berbulan-bulan untukku mencari fakta dibalik kecelakaan itu. Dan ketika aku sudah menemukan bukti kejahatannya, Edy justru lari kemari untuk menjadikanmu target berikutnya!"
__ADS_1
Penjelasan Bara tak pelak membuat sekujur tubuh Kyra membeku. Fakta yang baru saja ia ketahui tentang cerita dibalik kecelakaan itu, entah mengapa membuat Kyra jadi ikut terluka. Betapa jahatnya Edy pada Bara. Setelah merebut kekasihnya, berusaha menguasai perusahaannya, ternyata dia belum juga puas!
"Tolonglah, aku hanya tidak mau kehilangan orang yang sangat aku sayangi," bisik Bara lirih sembari menggenggam jemari istrinya yang terkulai. "Kehilangan anakku dan Daddy sudah membuat hidupku hancur, aku bisa menjamin kehancuran yang lebih hebat akan terjadi bila sampai aku juga kehilangan kamu."
"Kenapa polisi nggak menangkap Edy?" protes Kyra kesal.
"Andai semudah itu. Edy sangat licik, dia bersekongkol dengan Valeria untuk menghancurkanku. Polisi sudah mengamankan Vale, tinggal Edy yang masih buron."
Hembusan napas panjang Bara membuat Kyra ikut merasakan beban dan ketakutan yang saat ini menderanya. Pasti sangat berat melalui semua tragedi itu sendirian.
Kryuuuk...
"Maaf, aku kelaparan," lirih Bara sembari melepas genggamannya dan mengelus perutnya yang perih.
Melihat ekspresi malu dan rasa bersalah itu membuat tawa Kyra pecah. Ia lekas berbalik untuk mencari tas-nya.
"Aku akan pesankan makanan enak untukmu. Ada makanan yang sangaaaat enak yang pasti kamu doyan!" Kyra menurunkan kedua kakinya dari ranjang dan beringsut meraih tasnya yang berada di sofa.
Mau tak mau, Bara pun akhirnya ikut bangkit dan mengikuti sang istri.
"Tapi aku kangen nasi goreng buatanmu, Ky."
__ADS_1
Mendengar rayuan itu, tangan Kyra yang telah berhasil meraih ponselnya di dalam tas jadi urung mengeluarkan ponsel itu. Ia berbalik dan mengawasi Bara yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan memelas. Kedua tangannya masih memegangi perutnya yang rata. Cekung dan lingkaran hitam di kedua matanya seolah menggambarkan betapa tidak berkualitas istirahat suaminya itu.
"Kamu mau makan nasi goreng buatanku?"
Seketika senyum Bara merekah, ia mengangguk beberapa kali dengan sorot mata berbinar bak sinar mentari di siang hari.
"Baiklah, kalo begitu kita harus pulang ke apartemen Mamaku. Sekalian aku akan mengenalkanmu pada mereka!"
"A-apa?"
"Mereka pasti akan senang melihatmu. Jadi ayo cepat kita berangkat!" Kyra menyampirkan tasnya dan bergegas menarik tangan Bara.
"Kita tidak boleh pergi ke manapun demi keamanan! Selain itu Edy bisa saja melukai kita berdua karena--"
Kyra mendengus mendengar penolakan Bara. "Lalu apa gunanya kamu menyewa para pria berotot itu, huh? Bukankah mereka berada di sini untuk menjaga kita? Kalo begitu suruh mereka untuk mengawal kita hingga sampai dengan selamat ke tempat Mama!"
Mau tak mau akhirnya Bara pasrah ketika Kyra menariknya pergi dari kamar hotel. Meskipun belum siap untuk bertemu Mama mertuanya, tapi fase ini memang harus ia lewati cepat atau lambat. Dengan mengendarai mobil van bersama para Bodyguard itu, mereka akhirnya melaju menuju Sky Habitat Apartemen.
Masih banyak yang harus mereka berdua bahas dari hati ke hati, namun untuk saat ini urusan perut lebih penting!
...****************...
__ADS_1