
Brak.
Bara dan Morgan tersentak bersamaan ketika pintu ruangannya dibuka secara kasar oleh seseorang. Bara menghentikan tangannya yang sedang menandatangani berkas-berkas perjanjian kerjasama dan menatap lorong yang terhubung ke pintu.
Sesosok lelaki setinggi Bara dengan wajah yang sekilas mirip dengan dirinya muncul dari balik lorong itu lantas menatap putranya dengan tajam.
Morgan terbelalak, ia mundur dari tempatnya berdiri di samping Bara. Aura mencekam seolah menguar di ruangan itu. Tatapan dua bos besar itu saling terkunci satu sama lain.
"Morgan, kamu bisa tinggalkan kami," perintah Bara tegas sembari meletakkan bolpoin dan menutup berkas yang tengah ia tandatangani.
Morgan menurut, ia lekas keluar setelah membungkukkan badan untuk memberi salam pada Friz.
"Apa ada hal yang sangat penting hingga Daddy menyempatkan diri datang kemari?" Belum sempat Bara menyelesaikan pertanyaannya, Friz melempar sebuah koran yang sejak tadi ia simpan di dalam saku jasnya.
Bara memperhatikan lembaran kertas yang jatuh tepat di depan wajahnya. Dengan sangat kebetulan, halaman pertama koran gosip itu menampilkan foto dirinya ketika menggendong Kyra.
"Jelaskan apa maksud semua ini!? Siapa wanita itu!?" hardik Friz dengan emosi.
Perlahan tangan Bara meraih koran itu, membuka lembarannya untuk membaca tulisan yang tertera di sana.
[Tunangan Valeria Alianzo menolak memberi keterangan tentang berita pernikahan mereka dan tertangkap kamera sedang menggendong mesra wanita lain di depan Valeria]
Tawa Bara pecah setelah membaca artikel itu sekilas. Berita yang memukul Valeria secara telak dan pasti sangat mempermalukan harga dirinya sebagai seorang artis. Bara patut memberi hadiah pada wartawan-wartawan itu.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" bentak Friz semakin marah.
"Ups, sorry, Dad! Tapi berita ini sungguh menyenangkan untukku."
"Menyenangkan katamu!?" potong Friz cepat.
Bara bangkit dari kursinya dan menghampiri Friz tanpa rasa takut sedikitpun.
"Dad, jadi tujuanmu datang kemari hanya untuk memberi tahu tentang berita ini?"
"Bukan hanya itu, jelaskan padaku apa benar kamu menghamili gadis bersama Kyra Sada itu!?"
__ADS_1
Napas Bara yang tadinya stagnan mendadak sesak. Secepat inilah sang ayah mendapat informasi terkait dirinya?
"Siapa yang memberi tahumu, Dad?"
"Tidak penting siapa yang memberitahuku, Anak Sialan! Beraninya kau meniduri anak orang yang tidak selevel dengan kita!"
Bara menggeleng tak percaya mendengar umpatan Friz padanya.
"Dad belum berubah rupanya."
"Apa maksudmu!?" tukas Friz sembari mendorong bahu putranya dengan kalap.
"Dad masih saja sama seperti dulu! Mengharuskan kami mencari wanita yang selevel dengan kita. Padahal hati tidak bisa memilih harus dengan siapa kita merasa nyaman."
"Hentikan omong kosongmu itu, Bara! Jangan membuatku ingat pada Daniel."
"Nyatanya kami sama, Dad! Kami dilahirkan dari ibu yang sama."
Plak.
"Tinggalkan perempuan itu. Gugurkan bayinya dan lupakan semua omong kosong ini! Kembalilah pada Valeria karena dia lebih pantas menjadi menantu Lazuardi daripada gadis kampungan itu!" titah Friz mutlak.
Bara tersenyum kecut. "Valeria? Setelah Edy menidurinya, Dad masih berharap dia menjadi menantu Lazuardi?"
"Setidaknya mereka hanya tidur dan tidak sampai hamil!"
"Bullshit, Dad! Tidak semua yang aku miliki juga bisa dimiliki oleh Edy! Bahkan Daniel sekalipun tak memiliki segala hal yang sama sepertiku. Kenapa aku harus menurutimu setelah apa yang kamu lakukan pada kakakku?"
Plak.
"Jaga bicaramu! Setidaknya aku masih mengasihani Daniel meskipun dia bukan lagi bagian dari Lazuardi."
Bara mengusap pipinya yang terasa perih setelah ditampar kesekian kali. Secercah darah mengecap di bibirnya ketika Bara hendak membuka mulut.
"Tinggalkan gadis itu. Atau kamu akan berakhir seperti Daniel!"
__ADS_1
Satu jam setelah Friz pergi, Bara sedang mengompres pipi dan bibirnya dengan es batu sambil menunggu jadwal rapat dewan komisaris yang beberapa menit lagi akan dimulai.
"Perlu saya belikan obat anti nyeri, Pak?" tanya Morgan cemas ketika melihat pipi kiri Bara sedikit bengkak dengan bibir yang terluka.
Bara menggeleng lemah, ia akan terima pukulan sekeras apapun dari Friz dan Roni karena memang bersalah. Sebagai lelaki yang terbiasa melampiaskan kekesalannya dengan kekerasan, Bara paham pasti Roni dan Friz sekarang sudah lega. Tak apa meskipun dengan begitu Bara terluka, yang terpenting saat ini adalah fokus pada Kyra dan bayinya. Bara tak ingin meloloskan permintaan sang Ayah yang semena-mena. Meski Bara belum mencintai Kyra, tapi Bara sangat mencintai bayi mereka.
Tiba jam meeting. Para manajer melakukan presentasi terkait laporan dua bulanan mereka di depan Dewan komisaris. Bara yang duduk berdampingan dengan Friz hanya diam dan memperhatikan para manajer itu bergantian melaporkan tugas mereka.
Di kursi paling ujung, Edy sedang mengawasi Bara dan Friz bergantian dengan tatapan menyelidik. Ia sudah mendengar berita mengejutkan tentang Bara dari Valeria semalam, sudah pasti kebekuan suasana antara Ayah dan anak itu terjadi karena peristiwa heboh kemarin sore. Edy tersenyum sumbang. Rupanya Bara lebih memalukan dibanding dirinya. Sebagai lelaki berpengalaman, bagaimana bisa Bara seceroboh itu menghamili anak orang! Edy tak habis pikir dan masih terheran-heran sendiri.
Tiga jam setelah meeting berakhir, Edy sengaja menunggu Bara untuk menanyakan kabar itu. Ia menunggu dengan sabar sampai Bara selesai menyapa dan menyalami semua dewan komisaris. Sebagai salah satu pemegang saham, Edy juga berhak dihormati di perusahaan ini, bukan?
"Bara," panggil Edy ketika sepupunya itu melewatinya begitu saja tanpa menyapanya terlebih dahulu.
Langkah Bara terhenti, ia menoleh sekilas ke kursi Edy. "Ada apa?" tanyanya singkat karena tak ingin berlama-lama menghabiskan waktu.
Edy bangkit dari kursinya dan menghampiri Bara.
"How's your baby, ya?" tawa Edy dengan tatapan mencemooh.
Tatapan Bara berubah dingin, kedua tangannya mengepal dengan cepat.
Bug. Gubrak!
Sebuah pukulan melayang telak di wajah Edy hingga ia terhuyung ke meja dan tersungkur dengan keras.
"Damnn you! How dare you hit me!" Edy bangkit setelah mengusap darah yang mengucur dari bibirnya.
Morgan yang terkejut dengan pukulan Bara yang dilayangkan ke Edy hanya bisa mendelik panik. Semua orang sudah keluar dari ruangan meeting, hanya ada mereka bertiga di ruangan besar dan kedap suara ini.
Setelah Edy berdiri, perkelahian pun tak bisa dihindari. Keduanya saling pukul dan hajar hingga membuat meja dan kursi semburat berantakan. Morgan tak berani mendekat karena tatapan kedua manusia itu seolah berkata tak ingin diganggu. Setelah cukup lama berkelahi dan kehabisan tenaga, Bara bangkit dengan wajah membiru penuh darah di bibir, hidung dan pelipisnya.
"Sekali lagi kamu mengolok-olok anakku, aku pastikan hidupmu berakhir!"
...****************...
__ADS_1