I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Jangan Menyentuhku


__ADS_3

Di Penthouse, sejak Bara pulang tadi, Kyra nampak sibuk dengan ponsel yang selalu menempel di tangannya. Meskipun istrinya itu sudah menyiapkan makan malam untuknya, namun Bara merasa sikap Kyra sangat aneh seharian ini.


"Kamu tidak makan?" tanya Bara ketika Kyra menganggurkan nasi dan lauk di piringnya.


"Hm?" Tatapan Kyra masih tak lepas memandangi layar ponsel di tangannya. Ia sedang mempelajari tentang saham sambil sesekali mengirim pesan pada Ann dan Daniel.


"Kyra, letakkan ponselmu. Makanlah dulu!" perintah Bara kesal.


Mau tak mau, Kyra akhirnya menurunkan ponsel di tangannya dan melahap makan malamnya sambil sesekali melirik layar ponselnya.


"Kamu lagi chat sama siapa, sih? Penting sekali ya sampai harus mengacuhkan suamimu dan makan malammu!" kecam Bara tak suka.


Merasa suaminya mulai terpancing emosi karena ulahnya, akhirnya Kyra membalik ponselnya agar nyala layar itu tak menyita perhatiannya.


"Iya, ini aku makan." Kyra menunduk takut.


Suasana kembali hening, hanya suara denting piring yang bergesekan dengan  sendok yang terdengar. Usai makan, Kyra lantas membersihkan piring dan meja makan seperti biasa.


[Sudah ya Kak Niel, lanjut lagi besok materi tentang sahamnya. Bara sudah mulai ngomel karena aku nyuekin dia daritadi. Sampai jumpa besok!] send.


Kyra buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celana piyamanya dan masuk ke kamar. Di dalam, Bara baru saja naik ke atas ranjang dan membenamkan tubuhnya di bawah selimut.

__ADS_1


Setelah menyikat gigi dan menggunakan skincare malamnya, Kyra menyusul naik ke tempat tidur. Ponsel yang sejak tadi ia letakkan di saku celana, ia pindahkan ke meja nakas. Ia pun beringsut merebahkan diri dan memunggungi suaminya.


Bara yang masih belum tidur, entah mengapa merasa tak nyaman melihat gelagat Kyra. Ia berbalik dan mengawasi punggung dan rambut coklat Kyra yang panjang berombak.


"Kamu sudah tidur?" bisik Bara sembari meraih pundak Kyra agar berbalik dan berhadapan dengannya.


Meskipun sudah sangat mengantuk, mau tak mau Kyra pun berbalik hingga tubuh mereka saling berhadapan. Bara menatap manik netra coklat milik Kyra dengan lekat. Setelah mengakui perasaannya pada Kyra di Rumah Sakit kala itu, entah mengapa Kyra seolah menjauh dan menjaga jarak.


"Kenapa kok lihatin aku kaya gitu? Aku cantik, ya?" canda Kyra terkekeh, ia menirukan gaya bicara Bara yang penuh percaya diri.


Bara masih bergeming, ia seolah sedang mencari sesuatu di sorot mata  istrinya. Sesuatu bernama cinta yang ingin sekali ia temukan di sana.


"Apakah malam ini kamu mau melakukannya denganku, Ky? Aku sudah menahan sangat lama untuk menyentuhmu."


Perkataan Bara tak pelak membuat Kyra terbelalak. Napas yang sedari tadi terhembus santai, mendadak ia tahan karena kaget dengan permintaan suaminya.


"K-kenapa tiba-tiba begini?" desis Kyra panik.


Bara tak merespon, ia tak tahu harus menjelaskan dari mana perihal nafsunya yang selalu menggila tiap kali melihat Kyra. Sayangnya, karena sebuah alasan 'Belum Siap', terpaksa Bara mengubur dalam-dalam gelora nafsu itu.


"Kamu masih belum siap?" keluh Bara lirih.

__ADS_1


Kyra mengangguk cepat. Ia buru-buru merapatkan selimutnya dan berbalik memunggungi Bara lagi. Sungguh, terakhir kali melakukannya dulu sangat sakit dan perih. Kyra belum siap bila harus melakukan itu lagi. Padahal dulu, ia dan Bara melakukannya tanpa ada rasa malu sedikitpun.


"Baiklah. Tidurlah. Selamat malam, Kyra," ucap Bara kelu sebelum kemudian ia bangkit dan turun dari ranjangnya.


Menyadari Bara pergi dan keluar dari kamar, Kyra menoleh ragu ke sisi ranjang suaminya. Entah mengapa ia jadi menyesal telah menolak Bara dengan cara seperti tadi. Bara pasti tersinggung dan menganggap dirinya menjijikkan bagi Kyra. Padahal bukan karena itu, Kyra hanya belum siap. Ia masih butuh waktu untuk meyakini perasaannya pada Bara.


Sementara itu, di balkon yang tenang dan sunyi. Bara mengawasi lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Sekian lama menahan diri dan berakhir gagal lagi untuk menyentuh Kyra, Bara merasa kecewa pada dirinya sendiri yang lemah. Dulu, Valeria akan dengan senang hati memberikan tubuhnya tanpa perlu Bara meminta, tapi kini keadaan berbalik dan semesta seolah menghukumnya. Bahkan untuk mencicipi tubuh wanita yang sudah halal untuknya, Bara masih perlu menyediakan stok sabar yang melimpah.


Setelah merasa cukup lama merenungi nasibnya, akhirnya Bara kembali ke kamar. Kyra sudah terlelap dengan selimut menutupi hingga kepala. Dengan hembusan napas panjang, Bara pun naik ke atas ranjang dan menurunkan selimut yang menutupi kepala istrinya.


"Apa yang masih membuatmu ragu, Ky? Harus bagaimana lagi aku membuktikan padamu bahwa aku benar-benar  mencintaimu," racau Bara lirih sembari menatap wajah cantik istrinya yang tengah terlelap.


Menyadari bila yang diajak bicara sudah tenggelam dalam dunia mimpi, akhirnya Bara merebahkan dirinya di bantal yang empuk dan memejamkan mata. Tak ingin  tubuhnya semakin memanas karena melihat Kyra yang tidur terlentang, akhirnya Bara berbalik dan memungunginya. Ia benar-benar terlelap sepuluh menit kemudian.


Sementara itu, ketika suara dengkuran halus Bara sudah terdengar. Kyra membuka mata dengan sedih. Ia menatap punggung bidang yang sedikit lebih kurus usai opname itu sambil meneteskan air mata. Ia mendengar dengan jelas perkataan Bara beberapa menit yang lalu. Andai saja bersenggama bisa dilakukan semudah itu?


"Maafkan aku, Bara."


...****************...


Bestie, otor punya grup chat baru loh! Yang mau bergabung bisa langsung cek di profil, ya. Nantinya kita bisa mengobrol random tentang apapun. Sampai jumpa di grup!

__ADS_1


__ADS_2