
Jam 3 dinihari, Bara membuka mata dan menyadari bila dirinya kini berada di tempat yang berbeda. Ia mencoba mengingat-ingat mengapa ia berada di tempat dingin dan penuh alat medis ini. Namun, ingatan terakhirnya mentok di kejadian ketika baru pulang dari rumah Mama Kyra.
"Kamu sudah sadar?"
Suara yang sangat Bara kenal membuatnya tersentak dan menoleh ke sisi kanan ranjang. Daniel? Tunggu, bukankah saat ini ia berada di Singapura untuk menjemput Kyra? Apa yang Daniel lakukan di sini?
"Syukurlah! Kami semua mengkhawatirkan keadaanmu seharian ini."
"Ada apa denganku, Niel?" tanya Bara penasaran. Sekuat tenaga ia mengingat, akan tetapi tak ada satupun kilas kejadian yang bisa menjelaskan mengapa ia bisa berada di rumah sakit ini.
"Kau tertembak. Edy berhasil menyelinap ke hotelmu dan membuatmu hampir mati." Daniel menjelaskan sembari memencet tombol di samping ranjang yang terhubung langsung ke ruang perawat.
Tertembak? Tapi bagaimana bisa? Efek obat bius membuat penjelasan Daniel terasa tak masuk akal.
Belum terjawab pertanyaan itu, pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar dan beberapa orang perawat meringsek masuk.
"Bisa tolong tunggu di luar, Pak? Kami akan memeriksa kondisi pasien," pinta perawat itu dengan sopan sembari mempersilahkan Daniel untuk keluar.
Daniel mengangguk, ia pun beringsut keluar setelah memastikan Bara baik-baik saja. Meskipun sangat mengantuk dan lelah, akan tetapi Daniel memilih untuk tetap terjaga. Ia merogoh kotak obat seukuran korek api di dalam saku celananya dan menelan obat itu dengan cepat. Seumur hidup, Daniel bergantung pada obat yang menunjang kinerja jantungnya itu. Setelah melihat keadaan Bara yang sempat kritis tadi, kini Daniel sangat mensyukuri hidup yang ia jalani.
"Apa Tuan Bara sudah sadar?"
Daniel tersentak dan menoleh cepat ke sisi kiri tubuhnya. Carlo?
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Daniel heran.
"Saya akan tetap melaksanakan pekerjaan saya sampai batas kontrak kami selesai, Tuan Daniel." Carlo yang berwajah sangar itu rupanya memiliki sisi yang lembut ketika berbicara dengan majikannya.
Meski agak kesal karena Carlo gagal menjaga adiknya dengan baik, akan tetapi Daniel mengakui bila lelaki bertato itu sangat profesional.
__ADS_1
"Benar. Bara sudah sadar. Meskipun aku masih kesal karena kelalaianmu, tapi aku berterima kasih karena kamu sudah membalaskan dendam keluarga kami."
.
.
Setelah dicek suhu tubuh, tekanan darah dan responnya, Bara akhirnya bisa dipindah ke ruang rawat inap.
Daniel memilih kamar President Suite agar adiknya itu bisa istirahat dengan maksimal dan tetap diawasi oleh Carlo dkk.
Sejak keluar dari ICU, Bara tidur dan baru membuka mata ketika suara berisik mengganggu lelapnya. Suasana kamarnya berganti lagi. Sepertinya ia tidur terlalu nyenyak hingga tak menyadari bila dia sudah dipindah ke ruang rawat inap.
"Bara."
Suara lembut yang terdengar diselingi isak tangis sesekali, membuat Bara menoleh lemah ke arah si empunya suara.
Netra coklat Kyra yang sejak tadi tak henti berurai air mata, mendadak membulat heran. Ia menoleh pada Daniel yang duduk di sofa, Kakak iparnya itu menggeleng pelan sebagai tanda bila Bara tak mengingat kejadian terakhir yang menimpanya. Entah harus bersyukur atau sedih karena Bara melupakan pengorbanannya yang hampir merenggang nyawa, Kyra hanya mampu tersenyum kelu membalas senyuman suaminya itu.
"Terima kasih sudah mau datang menjengukku. Apa kamu sehat? Aku merindukanmu, Ky." Bara mengulurkan tangannya agar Kyra mendekat.
Namun, hentakan kecil ketika tangannya terangkat barusan menimbulkan rasa nyeri yang membuat Bara meringis kesakitan. Ia menyibak selimut yang menutupi hingga leher dan tertegun melihat perban tebal yang membalut dadanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganku, Ky? Kenapa aku ada di sini?" desak Bara ketika Kyra hanya mematung dan tak sekalipun mendekatinya. "Niel, katakan apa yang terjadi padaku!" Bara beralih mengawasi kakaknya yang rebahan di sofa. Ia lupa pada penjelasan Daniel semalam karena efek obat bius.
"Kamu terluka, Bara. Seseorang menembakmu," jelas Kyra dengan suara tercekat, ia masih trauma bila mengingat kembali kejadian itu.
Mau tak mau akhirnya Daniel pun bangkit. Ia mendekat ke tempat adiknya dan duduk di tepian ranjang itu.
"Sampai di mana ingatan terakhirmu? Apa kamu ingat tujuanmu datang ke mari?"
__ADS_1
Bara mengangguk lemah. "Aku kemari untuk menjemput Kyra karena Edy berniat untuk mencelakainya."
Mendadak Bara terdiam. Kilasan ingatan ketika dia turun dari mobil van hitam sembari bergandengan tangan dengan Kyra lantas membuka pintu hotel dan DOR.
Bara terhenyak. Ia menolehi Kyra yang masih menjauh.
"Kamu tak apa-apa, kan? Edy melukaimu?"
Dengan menahan sakit, Bara mencoba untuk beringsut duduk, akan tetapi Daniel lebih dulu mencegahnya agar tetap di posisi tiduran.
"Jangan banyak bergerak dulu, Dokter memintaku untuk--"
Bara tak mengindahkan perkataan Daniel, ia menangkis tangan kakaknya itu karena ingin memeluk Kyra yang pasti sangat ketakutan dan trauma pasca kejadian penembakan itu.
Merasa Bara berontak karena hendak menghampirinya, akhirnya Kyra mendekat dan menahan bahu suaminya agar tetap berebah dan tenang.
"Kamu tak apa?" Bara menarik tangan Kyra dan menggenggamnya dengan erat. "Edy tidak melukaimu, kan? Dia tidak --"
"Aku nggak apa-apa, Bara. Berhenti mengkhawatirkanku. Apa kamu tahu bila kamu sendiri bahkan hampir mati gara-gara menyelamatkanku?" tukas Kyra dengan air mata yang kembali berlinang. "Jangan lagi membahayakan dirimu seperti itu. Aku lebih takut kehilangan kamu daripada ... Hiks!"
Kyra tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya yang mendadak tercekat di kerongkongan. Rasa sesak di dada karena menahan ketakutan akan kehilangan Bara membuatnya kembali menangis dengan histeris sembari memeluk suaminya dengan erat.
Daniel yang menyaksikan momen mengharukan itu hanya menghela napas panjang. "Sepertinya kalian butuh waktu untuk bicara berdua. Aku akan keluar untuk cari udara segar!"
...****************...
Yuhuuuu, jangan klik vote-nya dong, Bestie 😚😚
Karena bentar lagi cerita ini akan tamat jadi yuk buruan hadiahkan vote untuk Bara dan Kyra yang sudah menghibur kalian dengan kisah seru mereka. Terima kasih ❤
__ADS_1