
Atmosfir yang kaku dan tak bersahabat sangat kentara di ruang makan dengan meja yang penuh oleh aneka menu masakan. Tatapan dingin Raymon entah mengapa membuat Kyra sangat tak nyaman berada di meja yang sama dengannya. Beberapa kali Shakira terlihat berusaha mencairkan suasana itu dengan menanyakan kegiatan Raymon di tempat kursusnya namun lelaki kulkas itu hanya menjawab sesingkat-singkatnya dalam waktu yang secepat mungkin.
"Papa akan pulang minggu depan. Bagaimana jika kita bertamasya?" usul Shakira dengan riang.
Sambil mengunyah makanannya, Kyra mengangguk dengan ragu. Sesekali tatapannya bersiborok dengan Raymon namun secepat mungkin Kyra berpaling.
"Minggu depan aku akan sibuk dengan tugas praktikum. Kalian tamasyalah sendiri!"
"Oooh, C'mon, Ray! Papa cuma seminggu di sini, kapan lagi kita jalan-jalan selayaknya keluarga?" bujuk Shakira sembari bergelayut manja di lengan putranya.
Raymon meraih segelas air di sisi kanan tangannya dan meneguk air itu hingga tandas. Ia melirik tingkah Shakira yang memang terbiasa merajuk untuk merayunya. Tiap kali Raymon menolak atau tak setuju dengan ide apapun, sang Mama akan meluncurkan jurus andalan itu hingga Raymon luluh pada bujuk rayunya.
"Stop it, Ma. Pergilah bersama dia. Don't bother me!" Raymon mengurai tangan Shakira di lengannya dan beranjak.
"Ray, besok antarkan Kakakmu ke Raffles Institude. Kalian akan satu kampus mulai minggu depan!"
Langkah Raymon terhenti, ia mencerna perkataan Mamanya kata demi kata. Raffles Institude? Oh, yang benar saja!
"Ma!"
"Jangan membantah, Ray! Atau uang sakumu akan Mama kurangi hingga tersisa seperempat."
__ADS_1
"Maa!!" dengus Raymon semakin jengkel mendengar ancaman Shakira. "Dia punya kaki sendiri, untuk apa aku harus mengantarnya?"
"Kau takut Anya cemburu?" kekeh Shakira dari meja makan.
Mendengar nama gadis itu disebut, Raymon menggeram dan lekas berbalik tanpa menoleh lagi.
"Selamat tidur, Big Boy! Have a nice dream!" teriak Shakira membahana.
Melihat interaksi yang tak berbeda jauh dengan dia dan Ayahnya di Indonesia, Kyra tertawa sendiri. Ternyata setiap orang tua selalu menakut-nakuti anak mereka dengan ancaman!
"Kenapa tertawa? Raymon lucu, ya?" ledek Shakira.
"No, Ma. Melihat kalian bertikai barusan mengingatkanku pada kebiasaanku dan Ayah di rumah! Haha ... " Tawa Kyra semakin keras hingga perutnya kram.
"Dia belum menikah lagi?" Shakira mengawasi putrinya dengan perasaan bersalah.
"Lebih tepatnya nggak berminat untuk menikah lagi, Ma."
Shakira menghela napas panjang. "Why? Roni tampan, dia juga sangat sabar dan baik hati, yaaa meskipun terkadang menyebalkan karena suka memaksakan kehendaknya sendiri tapi ..." Untuk sejenak Shakira menghembuskan napasnya berat. "Roni tetaplah pria yang baik. Dan dia berhasil mendidikmu dengan sempurna."
Tangan Shakira yang terulur di meja membuat Kyra memberanikan diri menggenggam tangan sang Mama. Hangat dan lembut, jadi begini rasanya melakukan kontak fisik dengan wanita yang melahirkannya ke dunia? Seolah ada ikatan batin tak kasat mata yang mengalir melalui sentuhan itu.
__ADS_1
"Aku berharap Roni menemukan wanita yang tepat setelah aku pergi. Doaku setiap kali merindukan kalian adalah semoga kalian berdua menemukan kebahagiaan lain yang jauuuuh lebih indah daripada saat bersamaku."
"Ma ..."
Setetes air bening mengalir dari sudut mata Shakira namun dengan cepat ia menyekanya.
"Maaf, Mama jadi mellow begini! Membahas Ayahmu selalu membuatku mellow," sesal Shakira sebelum kemudian menyunggingkan senyum terbaiknya. "Cepatlah selesaikan makan malammu. Besok kamu harus bangun pagi agar bisa ikut Raymon."
Kyra mengangguk, ia kembali menyantap makan malamnya yang masih tersisa separuh dengan lahap. Lidahnya bisa beradaptasi dengan cepat. Ia bahkan bisa menerka bumbu apa saja yang terasa di lidahnya. Tak percuma Kyra kursus memasak, keahliannya sangat bermanfaat di waktu yang tak terduga.
Usai menghabiskan makan malam mereka, Kyra membantu Mamanya mencuci piring dan bergegas kembali ke kamar untuk beristirahat. Shakira berjanji akan membangunkan putrinya itu pagi sekali agar tak ditinggal Raymon. Rencananya, besok ia hanya akan mengambil formulir pendaftaran dan sekalian jalan-jalan di sekitar kampus. Mengingat di Singapore sebagian besar warganya selalu berjalan kaki ke manapun pergi, baiknya Kyra mempersiapkan staminanya sedari dini agar besok tak teler.
Sebelum tidur, Kyra teringat pada janjinya untuk menghubungi sang Ayah. Seharian ini Kyra tak sempat memegang ponselnya sama sekali karena sibuk mengeluarkan baju-bajunya di koper dan menatanya di lemari. Barisan notifikasi pesan yang masuk membuat kening mulusnya mengenyit bingung. Entah siapa saja yang menghubunginya hingga jumlah pesan yang masuk berjumlah puluhan. Salah satu nama yang akrab dengannya membuat Kyra tergelitik untuk membuka pesan darinya. Pesan dari Daniel.
[Apa kamu sudah sampai di Singapore? Ada berita duka yang mungkin perlu kamu tahu. Daddy berpulang siang ini. Bila ada kesalahan yang pernah Daddy Friz lakukan padamu, atas nama dirinya aku memohon maaf. Bila ada waktu sempatkanlah telepon Bara. Dia sangat berduka dan terpuruk seharian ini.]
Jantung Kyra berhenti berdetak saat itu juga ketika membaca pesan berisi berita duka tentang kematian Ayah Bara. Sekilas kejadian menyakitkan kala Friz memintanya menjauhi Bara tiba-tiba melintas dan membuat air matanya berderai. Gara-gara Friz, Kyra kehilangan bayinya dan juga Bara. Gara-gara Friz, Kyra harus merelakan dan melepas semua yang pernah jadi miliknya. Dan sekarang, lelaki jahat itu telah kembali ke sisi Tuhan. Semua perbuatan buruk Friz pada Kyra seolah tak berarti lagi dibanding rasa sedihnya karena tak bisa menemani Bara yang saat ini pasti sedang bersedih.
Diantara isak tangisnya, entah mengapa Kyra sedikit menyesal karena terburu-buru berangkat ke Singapura. Andai mau tinggal sehari lebih lama, mungkin ia bisa datang ke pemakaman dan sedikit menghibur Elena juga Bara. Lelaki angkuh yang hobi marah-marah itu pasti sedang sangat berduka hari ini, setelah kehilangan bayi mereka kini Bara pun harus kehilangan orang tuanya. Tak bisa Kyra bayangkan betapa hancurnya dunia lelaki yang masih sangat ia cintai itu. Terlalu fokus memikirkan Bara membuat Kyra lupa untuk menghubungi Ayahnya. Ia pun terlelap dengan mata yang masih basah.
"Aku memaafkanmu, Tuan Friz. Selamat jalan, semoga Tuhan juga mengampuni perbuatanmu padaku dan Bara."
__ADS_1
...****************...