I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Brothers


__ADS_3

"Valeria?" Daniel urung memejamkan mata. "Mantan kekasihmu?"


"Iya. Valeria mana lagi!" sungut Bara jengkel.


Dengan sigap, Daniel beringsut duduk dan mengawasi ranjang adiknya. "Ada apa dengan Valeria? Kenapa tiba-tiba bertanya tentang dia padaku?"


Melihat sorot mata Daniel yang apa adanya, kecurigaan Bara perlahan luluh. "Tidak apa. Aku tidak jadi bertanya."


"Apa kalian berhubungan lagi?" Kali ini Daniel bangkit, ia mengawasi adiknya dengan serius.


"Tentu saja tidak! Kamu pikir aku lelaki macam apa!" elak Bara emosi. "Pantang untukku kembali pada mantan yang sudah menjadi bekas orang lain!"


Daniel tertawa melihat wajah Bara yang jadi merah padam ketika mencerca Valeria. Sepertinya kebencian itu sudah mendarah daging.


"Baiklah. Santai saja kalo memang kalian tidak ada hubungan apa-apa," sindir Daniel masih dengan tawanya.


Bara mendengus. Daniel tahu betul bila Bara sangat temperamen, senggol sedikit saja bisa membuatnya kebakaran jenggot dan kumis sekaligus.


"Apa kamu masih memiliki sahammu, Niel?"


Kening mulus Daniel mengernyit. "Saham? Aku bahkan lupa bila memiliki saham. Aku tidak pernah mengecek portolofolio dan saldoku."


"Cih, sombong sekali kamu!" cemooh Bara. "Mulai besok, bantu aku mengawasi saham perusahaan. Seminggu ini aku melihat ada yang aneh dengan saham di perusahaan kita. Aku tidak tahu salahnya di mana, sepertinya ada yang berusaha menaikkan harganya untuk suatu tujuan."


Daniel mendekat ke ranjang Bara dan duduk di tepian ranjang adiknya. "Kamu serius?"


Dengan mantap Bara mengangguk. "Aku mencurigai satu orang. Tapi transaksi rekeningnya sejauh ini aman. Tidak ada yang mencurigakan."


"Siapa yang kau curigai?"


Bara menatap sang kakak dengan intens, cukup lama Daniel menelisik sorot mata itu sebelum kemudian ia tertegun.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan membantumu mengawasinya. Serahkan saja padaku."


"Bagus! Aku yakin dia merencanakan sesuatu yang buruk. Kyra pernah mendengarnya berbicara di telepon dengan Valeria. Itulah kenapa aku sempat menanyakan tentang Valeria padamu," jelas Bara panjang lebar.


"Berarti kamu sempat mencurigai ku?" tuduh Daniel.


Lelaki yang masih tak sanggup bergerak dari ranjang itu mengangguk lemah.


"Itu karena Vale sempat mengatakan bila kamu yang sedang bersekongkol dengannya."


"Dasar wanita gila! Kenal saja aku tidak pernah!" sungut Daniel marah, tangannya mengepal tanpa ia sadari.


"Yang penting sekarang kamu sudah tahu permasalahan di kantor kita. Aku harap besok kamu menggantikanku di kantor selama aku masih sakit."


"Jangan khawatir. Aku akan menangani semuanya bersama Morgan."


Tok tok tok tok.


Dua kakak beradik itu menoleh bersamaan ke arah pintu. Suara ketukan di luar terdengar tak asing karena mereka pernah mendengar tempo ketukan yang berbunyi 4 kali itu.


Daniel menggeleng. "Tidak. Untuk apa aku memberitahu dia?"


Tok tok tok tok.


Ketukan di pintu  kembali menggema. Namun, belum sempat Daniel berdiri untuk membukanya, pintu itu lebih dulu terbuka dengan kasar.


"Sudah kubilang tidak usah diketuk!" Friz bersungut sembari meringsek masuk ke dalam ruangan Bara dirawat.


Daniel terhenyak melihat Friz, padahal ia pikir tadinya hanya Elena yang datang. Keduanya sama-sama terpaku dan terdiam untuk beberapa saat. Melihat sorot kebencian itu masih tersirat di tatapan sang Ayah, mau tak mau Daniel akhirnya berlalu keluar.


"Niel!" Elena menahan lengan putranya dengan sigap sebelum dia berlalu pergi.

__ADS_1


"Aku mau beli sarapan dulu," pamit Daniel beralasan sembari mengurai cekalan Elena di lengannya.


Atmosfir tegang yang menguar di dalam ruangan membuat Bara kehabisan kata-kata. Friz dan Daniel memang masih belum berdamai sejak pertikaian mereka kala itu. Keduanya sama keras kepala, sama-sama tak mau mengalah.


"Dad, siapa yang memberitahumu bila aku dirawat?" cetus Bara mencairkan suasana tegang diantara mereka berempat.


Elena yang masih rindu pada putranya, mau tak mau merelakan Daniel pergi dari ruangan itu agar tak terjadi ketegangan yang lebih menyeramkan. Entah sampai kapan mereka akan berdamai, Elena sudah rindu makan bersama kedua putranya.


Sementara itu, Friz yang tadinya hanya diam mematung, akhirnya mendekat ke ranjang putranya.


"Kamu lupa bila Daddy-mu ini punya seribu mata, huh!?"  ujarnya menyombongkan diri.


"Yaa, aku sempat lupa karena aku pikir kalian sudah tidak menganggapku anak!"


"Omong kosong! Tidak ada yang namanya bekas anak, Bara. Camkan itu!" tandas Friz sembari mengawasi seisi ruangan Bara yang terbilang sederhana untuk ukuran konglomerat sepertinya. "Mengapa kamu memilih kamar ini?!"


"Kamar President suite penuh, Dad. Tidak ada lagi yang tersisa selain kamar ini." Bara mengawasi Elena yang berdiri di belakang suaminya. "Apa kau membawa makanan? Aku lapar!"


Wajah Elena mendadak panik. "Kamu belum makan? Btw, di mana istrimu?"


"Aku menyuruhnya pulang agar beristirahat di rumah. Semalaman dia tak tidur karena menjagaku di ICU. Aku tidak mau kandungannya kenapa-kenapa."


Friz melirik Elena sembari menghembuskan napas berat. "Belikan Bara makanan, atau suruh James membelikan."


"Tidak usah lah kalo begitu. Aku sudah menyuruh Morgan membeli sarapan. Sebentar lagi dia pasti datang. Aku pikir kalian kemari membawa makanan, mengapa menjenguk orang sakit tidak membawa oleh-oleh sih!" gerutu Bara lirih.


"Dasar anak kurang ajar! Kami datang kemari dalam keadaan panik! Mana mungkin kepikiran bawa makanan," dumel Friz tak terima.


Elena terkekeh melihat adu mulut ayah dan anak itu. Sudah lama ia tak menyaksikan keseruan ini sejak Bara menikah dan tinggal di penthouse-nya sendiri.


Sementara itu di luar, Daniel tersenyum lirih mendengar perdebatan Bara dan Daddy-nya. Hatinya menghangat hanya dengan mendengar umpatan demi umpatan Bara dan Friz yang saling bersahutan. Sudah lama sekali sejak Daniel pergi dari Mansion, ia tak pernah lagi menonton  live show debat Ayah dan Anak itu.

__ADS_1


"I miss you, guys!"


...****************...


__ADS_2