
"Apa maksudmu?" Kyra mencoba menelaah perkataan Bara yang entah bagaimana terasa ganjil di telinganya.
"Jangan lagi berbuat onar!"
"Bukan itu, kalimat setelah kamu merugi puluhan milyar. Aku tak jelas mendengarnya." Kyra menurunkan kakinya yang masih terasa lunglai.
Bara tersenyum, masih dengan sorot mata yang dingin. "Aku menjemputmu dan anakku. Kamu tidak salah dengar, Kyra. Bayi kita masih tumbuh dengan nyaman dan aman di rahimmu."
Tatapan dingin Bara dan Kyra terkunci untuk beberapa saat. Kyra menahan letupan api amarah yang perlahan berubah menjadi bara yang membakar seluruh tubuhnya. Napasnya mulai naik turun saking kuatnya ia menahan amarah itu agar tak meledak.
"Kenapa? Kamu mau marah? Marah saja," tantang Bara.
Kyra hendak bangkit dari ranjang itu, namun sekelebat rasa pening sontak mengganyang kepalanya hingga ia oleng dan kembali terjerembap di ranjang.
Hampir saja secara reflek Bara meraih tangan Kyra untuk menahannya agar tak jatuh, namun rupanya tubuh mungil dan sintal itu malah roboh kembali ke ranjang yang empuk.
Air mata Kyra menetes lagi, entahlah mengapa ia merasa kesal sendiri pada dirinya yang bodoh. Sekuat tenaga kabur, tapi ujung-ujungnya ia gagal melakukan aborsi.
"Menangislah. Aku yakin arti tangisanmu yang kali ini karena kamu telah gagal membunuh anakku." Bara melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa kamu menghalangiku? Apa susahnya berpura-pura tak peduli agar semuanya kembali seperti dulu."
"Karena yang ada di perutmu itu anakku. Bagaimana mungkin aku tidak peduli dengan darah dagingku!" Bara tak habis pikir mendengar ratapan Kyra yang tak masuk akal, apakah nalurinya sebagai seorang ibu sudah mati?
"Tapi aku juga berhak atas anak ini. Aku berhak memutuskan yang terbaik untuk masa depan anak ini. Dia juga darah dagingku, Bara. Dan aku nggak mau dia punya Ayah sepertimu!" jerit Kyra diantara tangisannya. "Aku nggak rela anak ini kelak menderita karena memiliki orang tua seperti kita. Aku nggak mau dia menjadi alasan kamu dijauhi oleh keluargamu!"
Deg. Bara tergugu mendengar kalimat terakhir Kyra.
"Kamu pikir aku nggak tahu kalo luka-luka di wajahmu itu gara-gara aku dan bayi ini? Kamu pikir aku sebodoh itu menganggap kamu babak belur hanya karena kamu salah minum obat atau karena terjatuh?" Kyra menatap Bara dengan tajam. "Kamu menganggapku remeh! Padahal aku tahu segalanya!"
__ADS_1
"Masalah antara aku dan orang tuaku, biar menjadi urusanku. Aku sudah pernah bilang kan, kita fokus saja pada perkembangan bayi kita. Jangan memikirkan yang tidak seharusnya kamu pikirkan!"
"Bagaimana aku nggak memikirkan itu bila semuanya terjadi gara-gara aku? Bagaimana bisa aku melihat kamu menderita demi aku? Sampai kapanpun aku nggak akan rela. Sudah cukup, Bara. Hentikan semuanya."
Bara menghembuskan napasnya kasar, ia beringsut ke ranjang dan mencekal kedua bahu Kyra dengan erat.
"Sampai mati pun, aku tidak akan pernah melepaskan kamu, Kyra. Camkan itu!"
"Kenapa? Kamu nggak mencintaiku tapi kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?!"
"Karena kamu adalah wanita yang pantas menjadi Ibu dari anak-anakku. Titik. Sudah cukup, aku tidak mau lagi berdebat denganmu!" Bara mengendurkan cekalannya dan bersiap untuk berdiri namun dengan gesit, Kyra menarik lengan kekar itu sebelum ia beranjak pergi. "Ada apa lagi!?" hardik Bara kesal.
Kyra menyeka air matanya. Tiba-tiba ia merasakan perih yang amat sangat di perutnya. "Aku lapar."
"....."
"Aku lapar, Bara! Cepatlah! Rasanya aku mau pingsan."
"Akh, sial! Ke mana Morgan ini!" dengus Bara kesal. Ia melirik Kyra yang kini bergelayut manja di lengannya. Apa-apaan ini? Beberapa menit yang lalu Kyra sangat beringas dan menakutkan dengan tatapan mematikan, sekarang dia berubah menjadi sejinak kucing.
"Tunggu di sini, aku pesankan makan di restoran bawah."
"Aku ikut!" rengek Kyra masih memegangi tangan Bara.
"Baiklah, ayo sini aku gendong!" Bara bersiap untuk berjongkok namun Kyra menggeleng cepat.
"Aku mau jalan saja, aku nggak mau digendong!"
"Tidak. Kamu masih lemah dan belum kuat berjalan. Tidurlah. Nanti aku bangunkan jika makanannya sudah datang." Bara beringsut pergi sebelum Kyra kembali merajuk.
__ADS_1
Belum hilang rasa kesal Bara pada wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya itu, kini ia dibuat bingung dengan tingkahnya yang tiba-tiba berubah dengan sangat drastis. Kyra yang biasanya sangat mandiri dan tidak pernah mau menyusahkan orang lain, seolah menjelma menjadi sosok baru yang sangat manja.
Sambil melangkah menuju lift private di penthouse-nya, Bara berpikir keras apakah efek obat bius itu sangat keras hingga merubah kepribadian Kyra sedemikian rupa? Bila benar begitu, sepertinya Bara lebih menyukai Kyra dengan tipe yang manja dan menggemaskan seperti ini. Mungkinkah Bara perlu menyetok obat bius di rumah? Jadi ketika sifat menyebalkan Kyra kambuh, ia hanya perlu menyuntikkan cairan memabukkan itu. Bara terkekeh dalam hati.
Ting.
Lift terbuka di lantai 1 tempat restoran berada. Ia lekas memesan beraneka menu makanan bergizi agar kondisi Kyra cepat pulih. Saat ini, Kyra dan bayinya butuh nutrisi yang cukup untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Ini pertama kali Bara memesan makanan sendiri di restoran, seumur hidup ia selalu dilayani oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi demi Kyra, demi anak yang dikandung wanita itu, Bara rela menurunkan ego dan merubah kebiasaannya.
"Permisi, Pak. Ini pesanannya."
Bara menoleh, seorang waitress meletakkan sebuah bungkusan besar di meja tempat Bara menunggu sedari tadi. Ia pun bangkit dan menenteng paper bag itu pergi. Namun belum sampai di pintu, Bara teringat akan sesuatu, ia pun membalikkan badan tepat di saat waitress itu akan pergi.
"Ada yang bisa dibantu lagi, Pak?" tanya waitress itu ramah.
Bara tercekat, ia hanya diam mematung untuk beberapa saat.
"Pak?"
"Mmm ... terima kasih!"
Damnn! Kenapa begitu sulit mengatakan terima kasih pada orang lain?? Dan kenapa pula Bara harus mengucapkan kata-kata itu? Sepertinya ia mulai ketularan linglung seperti Kyra.
Sambil merutuki dirinya sendiri selama kembali ke Penthouse-nya, perut Bara mulai merespon aroma masakan yang terendus oleh indra penciumannya. Ia mencoba mengingat-ingat jam berapa terakhir perutnya terisi, dan ketika ia sadar waktu terakhirnya makan adalah ketika sarapan di Rumah Sakit tadi pagi, Bara menghembuskan napas panjang. Sepertinya memang ia sudah tertular efek nge-fly obat bius itu sampai-sampai baru merasakan lapar sekarang.
Sebelum memanggil Kyra di kamar, Bara meletakkan makanan yang sudah ia pesan di meja. Ia menyiapkan piring, sendok dan minum untuk pertama kali selama hidupnya!
Setelah semua siap, Bara beringsut ke kamar untuk menggendong Kyra ke ruang makan.
"Ky ...." panggilan Bara terhenti ketika ia melihat Kyra tertidur dengan pulas dengan tubuh meringkuk di tengah-tengah ranjang kingsize milik Bara.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya kita harus menunggu lagi sampai Bunda Ratu bangun," desisnya sembari mengelus perutnya dengan lemas.
...****************...