
Setelah semalaman tidur dengan sangat pulas usai meminum obat yang diresepkan Dokter Clarisa, esok paginya Bara terbangun dengan tubuh yang lebih fit. Suara denting pesan dari ponselnya membuat Bara membuka mata. Ia meraih benda pipih itu dari meja nakas dan memperhatikan notif pesan di layar. Sebuah pesan dari Morgan.
[Pak, apakah anda sudah sehat?]
Bara tersenyum kecut, tangannya mulai mengetik di keypad untuk membalas pesan itu.
[Sudah. Ada apa kamu menghubungiku sepagi ini?] send.
Terlihat Morgan sedang mengetik sebelum kemudian ponsel Bara berdenting lagi.
[Sepertinya anda lupa bila jam 11 nanti ada meeting dengan Mr. Lucas. Saya hanya menghubungi untuk bertanya apakah meeting-nya jadi dilaksanakan atau dicancel saja sampai Mr. Lucas berkunjung ke Indonesia lagi?]
Bara menepuk keningnya karena melupakan meeting penting dengan calon partnernya dari Amerika. Dengan kekuatan jemari thanos, Bara kembali mengetikkan pesan balasan di layar ponselnya.
[Tetap jadwalkan meeting-nya! Jemput aku 1 jam lagi.]
Usai memastikan pesan itu terkirim, Bara bangkit dari ranjang sambil berpegangan pada sisi head board. Kepalanya masih terasa sangat ringan usai tidur seharian kemarin. Ia hanya membuka mata ketika Kyra menyuapinya makan dan memintanya minum obat.
Ketika langkahnya hampir sampai di kamar mandi, Kyra yang baru saja selesai masak memasuki kamar dan mengawasi suaminya dengan bingung.
"Kamu mau ke mana? Mau pipis?" tanyanya cepat sembari meletakkan nampan berisi sarapan itu di meja dan lekas menyusul Bara untuk memapahnya menuju kamar mandi.
Bara menggeleng. "Aku mau mandi. Aku lupa kalo hari ini ada meeting penting dengan partner dari Amerika."
"Tapi kamu belum sehat, Bara. Mending ditunda dulu deh rapatnya!" saran Kyra cemas.
Mereka berdua sudah sampai di ambang pintu kamar mandi ketika Bara melepas cekalan Kyra di lengannya dengan perlahan.
"Aku sudah sehat, Sayang. Apa kamu mau bukti?"
Kyra mengernyit. "Maksudmu?"
"Jhony-ku sudah bisa merespon dengan sangat baik dan itu menandakan tubuhku sudah sehat!" kelakar Bara.
Kyra mendengus dan mengibaskan tangannya. "Yasudah sana mandi! Aku tunggu di luar untuk sarapan!"
__ADS_1
.
.
Setelah Bara berangkat, Kyra yang kesepian mulai menyibukkan diri dengan game-nya. Ia sedang tak ada jadwal les apapun hari ini. Sebuah notif pesan yang muncul dari bilah notifikasi layar membuat Kyra tersenyum. Pesan dari teman barunya, Annastasia.
[Apa hari ini jadwalmu kosong? Di salon langgananku sedang ada promo untuk Spa berdua. Apakah kamu mau ikut Spa bersamaku?]
Kyra berpikir sejenak. Spa? Seumur-umur ia ke salon hanya untuk potong rambut, creambath dan mewarnai rambutnya dulu. Kyra bukan tipe wanita yang suka bersantai di salon. Tapi tak ada salahnya di coba mumpung ia sedang gabut.
[Baiklah. Kirim alamat salonmu, aku akan siap-siap.]
Dengan gesit, Kyra bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ia pun lantas bersolek dan memilih baju yang nyaman untuk dipakai nyalon.
Satu jam berikutnya, di sebuah mall elit, Ann sudah menunggu Kyra di salon langganannya. Mereka berdua menghabiskan waktu hingga melewatkan jam makan siang. Alhasil, dua bumil kelaparan itu melipir ke restoran sebelum pulang ke rumah masing-masing.
"Apa kamu sudah mendengar kabar terbaru tentang dunia persahaman?" tanya Ann sambil melahap nasi goreng seafood-nya.
Kyra menggeleng. "Kabar apa itu?" tanyanya balik.
Kyra tertegun. GarmindoTex adalah perusahaan milik Bara.
"Apa kamu tahu siapa orangnya?" tanya Kyra gugup.
Ann menggeleng. "Suamiku nggak menceritakannya secara jelas, sih! Lagipula kami nggak berniat menjual saham milik kami."
"Kamu juga punya saham di sana?" tukas Kyra cepat, dadanya mulai berdebar aneh.
Ann mengangguk. "Kami memilikinya sudah lama, dan profitnya lumayan. Kalo memang harus menjual saham, lebih baik aku menjual saham BusanaTex daripada GarmindoTex," sahut wanita cantik itu sembari meneguk es jeruknya sesekali.
Entah mengapa perasaan Kyra mulai tak nyaman. Pikirannya jadi tertuju pada kesibukan Bara beberapa hari ini. Mungkinkah itu saling berhubungan?
"Kenapa wajahmu jadi tegang begitu! Apa membahas saham membuatmu tak nyaman?" tanya Ann tak enak hati.
"Ah, nggak apa, kok. Ann apa kamu bisa membantuku?"
__ADS_1
Ann mengangguk. "Tentu! Selama aku bisa pasti aku bantu."
"Bantu aku mencari tahu, siapa yang sedang membeli saham GarmindoTex dengan harga tinggi itu?" pinta Kyra memohon.
Melihat wajah yang tadinya tegang itu kini berubah memelas, Ann mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Apakah Kyra masih memiliki hubungan dengan GarmindoTex?
"Baiklah. Aku akan coba tanyakan lagi pada suamiku, Kyra."
Setelah hampir satu jam menghabiskan waktu dengan makan dan mengobrol ke sana ke mari, Ann dan Kyra akhirnya memutuskan untuk pulang. Sambil bersenda gurau, mereka berdua berjalan menyusuri setiap lantai mall.
"Ya ampun, di sini ada restoran Italia juga ternyata! Tahu gitu kan kita makan di sini tadi!" gerutu Ann sambil mengawasi restoran favoritnya itu dengan tatapan kesal.
Kyra terkekeh, ia menggamit lengan Ann agar tak berlama-lama berdiri di depan restoran Italia itu dan mengomel sendiri. Ann yang kesal hanya berdecak sambil menghentakkan kakinya ke lantai karena tak rela.
"Apa kamu mau bungkus saja? Bagaimana kalo kita bungkus risotto di dalam? Aku akan membelikannya untukmu," tawar Kyra.
Ann menoleh cepat. "Tapi aku kenyang, Kyra."
"Kamu bisa memakannya nanti malam. Tenang saja, bumil seperti kita akan gampang lapar!" Kyra menarik lengan Ann untuk masuk ke restoran itu.
Ann menurut, ia membiarkan sahabat barunya itu menyeretnya ke dalam restoran Italia yang membuatnya tergila-gila. Namun, belum sampai masuk sepenuhnya ke dalam restoran, langkah Kyra terhenti secara tiba-tiba. Ann yang bingung lantas mengawasi Kyra yang termenung menatap meja di ujung restoran.
"Kyra? Ada apa?" tanya Ann penasaran, ia mengikuti arah pandang Kyra dan melihat seorang lelaki yang terlihat baru saja selesai makan dengan seorang wanita. "Kamu mengenal dia? Bukankah wanita itu seorang artis?"
Artis?? Tubuh Kyra terasa panas saat itu juga. Pun hatinya semakin terbakar ketika melihat Bara sedang duduk satu meja dengan mantan kekasihnya. Mereka nampak membicarakan sesuatu dengan sangat serius. Jadi inikah meeting yang Bara maksud?
Cukup lama Kyra mematung sebelum kemudian Bara menyadari keberadaannya. Dengan wajah panik, Bara sontak berdiri. Mulutnya yang menyebut nama Kyra secara lirih, seolah menggambarkan betapa tak berartinya posisi Kyra di hati Bara saat ini.
"Ky? Ada apa?" Ann menggoyang lengan Kyra yang masih mematung kaku. "Kamu mengenalnya?"
"Nggak. Aku nggak kenal!" Kyra membalikkan tubuh usai mengucapkan kalimatnya. Dengan tubuh gemetar menahan amarah, ia bergegas pergi dari restoran itu.
"Kyra! Tunggu!"
...****************...
__ADS_1