I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
Belum Saatnya Pulang


__ADS_3

Kilasan demi kilasan kejadian seolah bergerak dengan sangat cepat dan memaksa Bara ikut terlibat di dalamnya. Hanya saja, ia tak bisa berinteraksi dengan orang-orang yang sudah ia kenal di setiap adegan kilas balik itu. Bara hanya berlakon sebagai penonton tanpa bisa melakukan apapun.


"Lihat, Dad! Aku berhasil mendapat peringkat satu di kelas!" Bara kecil nampak berlari menuju meja makan sembari membawa rapor dan menunjukkannya pada sang ayah.


Senyum bangga dan pelukan Elena menyambut kedatangan bocah kecil itu.


"Good boy! Tingkatkan prestasimu, Nak! Kamu harus jadi yang terbaik!"


Adegan pun berganti setelah Bara menyaksikan senyum bahagia dari wajah ayahnya. Ia berada di sebuah danau dengan pemandangan alam yang indah lengkap dengan sebuah tenda di dekat api unggun.


"Bara, makanlah!"


Bara kini telah beranjak ABG dan sedang duduk di dalam tenda bersama Daniel, Kakaknya.


"Tidak mau. Aku membencimu, Niel!" sungut lelaki keras kepala itu sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Bara, aku harus melanjutkan sekolahku dan kuliah. Bukankah sudah ada Edy yang akan menemanimu?"


"Aku tidak menyukainya, Niel! Daddy selalu membelikan barang yang sama untukku dan dia. Membosankan sekali bermain dengan anak peniru sepertinya!"

__ADS_1


"Kalo begitu apa kamu mau melanjutkan sekolahmu di luar negeri bersamaku? Tapi sepertinya Daddy tak akan setuju."


"Yaaa, kau benar. Daddy tidak akan mengijinkan aku pergi sebelum dewasa sepertimu! Aaaaah, aku ingin cepat dewasa dan menikah, Niel!" Bara menghela napas panjang.


"Hei, kau saja baru memotong Jhony dua bulan yang lalu!" protes Daniel terkekeh. "Sok sekali malah ingin menikah!"


"Apa setelah dikhitan dulu Baronmu ikut membesar, Niel? Aku merasakan Jhonyku semakin membesar akhir-akhir ini!"


Sret. Adegan berganti lagi setelah Daniel tertawa keras mendengar pertanyaan Bara. Kini ia berada di sebuah pulau yang dikelilingi lautan lepas. Hujan deras mengguyur pulau tak berpenghuni itu.


"Calm down. Inhale ... Exhale ... Inhale ... Exhale ..." Lelaki berusia 26 tahun itu memberi contoh pada seorang wanita yang tampak kesusahan dalam bernapas.


"Aku nggak mau mati di sini, Bara ..." Kyra menarik napasnya sekuat tenaga.


Dengan air mata yang berurai, Kyra mengikuti arahan dari Bara hingga kemudian secara ajaib napasnya kembali stagnan beberapa menit kemudian. Padahal selama ini, hanya obatlah yang sanggup meredakan asmanya.


"Sudah membaik?" tanya Bara ketika Kyra menyeka sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Sudah, thanks!" lirih Kyra malu-malu.

__ADS_1


Lelaki yang sejak tadi sangat ketakutan itu menghembuskan napasnya lega. Ia beringsut duduk di samping Kyra.


"Kita akan selamat, Kyra. Kita akan pulang. Percayalah padaku."


Deg.


Adegan itupun terhenti. Air hujan yang menetes pun mendadak melayang di udara dan tak berhasil bersua dengan tanah. Bara yang sejak tadi hanya terdiam menyaksikan adegan demi adegan itu berganti, mendadak tercekat ketika lelaki yang sedang memeluk wanita bernama Kyra itu berdiri dan menghampirinya.


T-tunggu, bagaimana bisa kini ada dua orang Bara? Bara yang berwujud roh mulai menyadari keanehan yang terjadi di sekitarnya. Ia berjalan mundur ketika Bara yang basah kuyup usai menenangkan gadis itu semakin dekat padanya.


"Siapa kamu?!" tanya Bara panik sembari terus menghindari lelaki itu.


"Aku adalah kamu, Bara. Jangan takut." Lelaki itu terus saja mendekat hingga akhirnya Bara berhenti ketika kakinya menyentuh gulungan ombak yang tak bergerak seperti sedang di pause oleh seseorang.


"Kamu sedang terjebak di ruang waktu. Jiwamu sedang berkelana ditempat yang salah. Kembalilah, Bara. Selesaikan yang belum tuntas di duniamu."


Usai mengatakan kata-kata itu, sinar putih menyilaukan mendadak muncul di belakang Bara dan menyedotnya masuk ke dalam. Rasa dingin yang menusuk tulang serta sinar yang sangat terang membuat Bara meringkuk sembari memejamkan mata. Cukup lama ia terombang-ambing di dalam lorong sinar itu sebelum kemudian tubuhnya terhempas secara keras di sebuah ranjang.


"Och!" Bara menyentuh kepalanya yang terasa sakit usai membentur benda keras itu.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar?!"


...****************...


__ADS_2