
"Pak, are you oke?"
Bara terkesiap dan sontak menoleh pada Morgan yang telah berdiri di samping mejanya.
"Ada apa, Morgan?" tanya Bara ketika kesadarannya sudah kembali.
"Anda pucat, Pak. Apa anda yakin masih akan melanjutkan meeting setelah jam makan siang?" Morgan mulai cemas.
Sejak tiba di kantor tadi, pusing yang Bara rasakan semakin menjadi-jadi. Sepertinya sakit yang sempat menderanya kemarin kini datang lagi.
"Bila anda butuh istirahat, biar saya yang menggantikan meeting nanti siang, Pak?"
"Tidak, Morgan. Aku tidak apa-apa. Istirahat hanya akan membuat sakitku semakin parah. Bisa minta tolong ambilkan obat di tas kerjaku?" perintah Bara sembari menunjuk tas kerjanya di meja sideboard.
Dengan cekatan, Morgan mengambilkan obat yang diresepkan oleh Dokter Clarisa tempo hari dan menyiapkan segelas air untuk Boss-nya.
"Anda tidak makan siang dulu, Pak?" protes Sekretaris itu ketika sang Boss langsung meneguk 3 jenis pil itu.
Bara menggeleng. Ia lantas bangkit setelah obat itu meluncur mulus melewati kerongkongannya. "Ayo, kita lanjut meeting lagi!"
Belum sempat Morgan menyela, Bara sudah lebih dulu pergi dengan sangat tergesa-gesa. Ia tak paham mengapa Bara sangat ingin menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.
Sambil berjalan menyusuri lorong menuju lift, Bara yang belum menyantap makan siang mulai merasa perutnya melilit. Namun, alih-alih berhenti sebentar untuk menahan rasa sakit yang perlahan-lahan semakin menusuk itu, Bara semakin mengayunkan langkahnya dengan lebar.
Tting.
Pintu lift terbuka perlahan ketika Bara dan Morgan telah berdiri cukup lama. Sedikit mengusap perutnya yang mulai tak nyaman, Bara masuk ke dalam lift sambil meringis menahan sakit. Morgan memencet angka 30 dan lift pun bergerak naik.
Hanya dalam beberapa detik, keringat dingin mulai membasahi tubuh Bara ketika rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Ia mundur dan bersandar pada dinding lift yang terbuat dari kaca itu untuk sejenak meredakan sakit yang menderanya.
"Pak, are you oke?" Morgan mulai panik ketika napas Bara nampak sesak.
__ADS_1
Bara menggeleng. "Telepon ambulan, Morgan. Perutku sakit!" rintihnya kesakitan sembari membungkuk untuk menahan sakit itu
"B-baik, Pak!" Morgan merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Saking paniknya, ponsel itu terjatuh begitu ia hendak menelepon Rumah Sakit.
Tting.
Pintu lift terbuka dengan perlahan-lahan. Perhatian Morgan mulai teralihkan pada segerombolan staf yang nampak berdiri di depan pintu. Pun Bara yang sejak tadi duduk meringkuk, perlahan mendongah dengan lemas. Betapa terkejutnya semua staf itu ketika melihat sang CEO berada di dalam lift sambil berjongkok kesakitan. Pun Bara tak kalah terkejut ketika di antara para staf itu, ia melihat Kyra berada di sana sedang membawa sebuah cake coklat bertoping lilin angka 32.
"Bara?" desis Kyra bingung ketika melihat suaminya nampak pucat dan berkeringat sebesar biji jagung di dalam lift itu.
"Bara kamu kenapa?" Daniel lebih dulu meringsek masuk ke dalam lift dan mendudukkan adiknya yang mulai lemas. "Morgan, ada apa dengan Bara?"
"Sepertinya Pak Bara overdosis, Pak!"
"Overdosis?!" semua staf wanita yang masih mematung di pintu itu terbelalak tak percaya.
Bara masih bergeming, ususnya seperti di obrak-abrik oleh sesuatu yang tajam di dalam sana. "Tolong aku, Niel ..." liriknya kesakitan sembari mencengkram lengan Daniel dengan erat.
Kyra yang sejak tadi mematung syok, sontak melempar cake ulang tahun Daniel dan menghampiri suaminya. Ia mengusap peluh di kening Bara dengan panik. "Cepat telepon ambulans, Morgan!"
"Kamu tidak makan? Tadi kita bahkan tidak jadi makan siang bersama?" Daniel yang sejak tadi menemani Kyra di Rumah Sakit, mulai khawatir pada keadaan adik iparnya yang sejak tadi tak berhenti menangisi Bara.
Kyra menggeleng lemah. "Mana mungkin aku bisa enak-enak makan sementara Bara masih belum sadar seperti itu!" Ia menunjuk suaminya dengan dagu.
Meskipun masih ada rasa kesal buntut pertikaian mereka kemarin, namun Kyra tak menampik bila ia sangat khawatir pada keadaan Bara.
"Bara laki-laki yang kuat. Dia pasti akan cepat sadar beberapa jam lagi. Apa perlu aku minta Morgan untuk membelikan makanan untukmu?"
"Nggak mau. Aku nggak selera makan, Kak Niel."
"Kamu harus makan karena bayi kalian butuh nutrisi. Setidaknya isi perutmu meski cuma sedikit," potong Daniel memaksa.
__ADS_1
Bau obat-obatan yang cukup menyengat di Rumah Sakit membuat Kyra beberapa kali menghirup aroma minyak kayu putih untuk menetralkan indra penciumannya. Mau tak mau, akhirnya Kyra mengangguk setuju. Hanya demi bayinya tak kekurangan gizi.
"Halo, Morgan. Bisa belikan makan siang untuk Kyra? Kami masih menunggui Bara di ICU," tutur Daniel kalem.
Bila dilihat sekilas, wajah Daniel memang mirip dengan Bara. Namun, dari segi sikap dan tutur kata, mereka sangat jauh berbeda. Bara lebih meledak-ledak sementara Daniel lebih kalem dan tenang.
"Apakah aku ganteng sampai kamu menatapku seperti itu?" canda Daniel ketika ia menyadari bila Kyra sejak tadi tak berkedip mengawasinya.
Kyra tersentak, ia buru-buru mengalihkan tatapannya dan menggeleng. "Bara jauh lebih ganteng!"
Mendengar jawaban terpaksa itu, Daniel terkekeh. "Bara memang lebih ganteng, tapi aku jauh lebih berkharisma!"
"Dih, Kak Niel kalo gitu mirip sekali dengan adiknya! Si Tuan Paling Percaya Diri."
"Hahaha ..." tawa Daniel yang lebar entah mengapa membuat Kyra ikut tertawa juga.
"Sepertinya semua keturunan Lazuardi memiliki sifat yang sama. Bahkan Mom Elena juga 11-12 dengan kalian!"
Tawa Daniel lenyap seketika. "Mom Elena? Kamu bertemu lagi dengannya?"
"Iya, kami sempat bertemu dan mengobrol cukup lama."
"Apa dia memintamu menggugurkan kandunganmu lagi?" selidik Daniel cemas.
Kyra menggeleng. "Dia hanya ke rumah untuk memastikan apakah aku istri yang baik atau tidak."
"Bara membencinya." Daniel menatap adiknya yang masih terbujur lemah di ranjang pasien.
"Ya, aku tahu. Bara sudah menceritakan semuanya."
"Apa dia juga menceritakan tentang aku?"
__ADS_1
...****************...
...Bestieeee, besok Otor umumin pemenang 3 besar Top Fans yang beruntung. Jadi jangan lupa kencengin like dan vote-nya....