
Tiba di penthouse-nya, Kyra langsung membersihkan diri dan memakan bubur ayam yang tadi ia bungkus untuk sarapan. Meski sebenarnya masih kesal pada Bara, nyatanya kini ia malah merindukan suami pemarahnya itu.
Penthouse yang besar dan mewah seolah tak berarti ketika dirinya kesepian seperti ini. Kyra menghela napas sembari menyantap bubur ayamnya perlahan-lahan. Demi bayi yang ia kandung, setidaknya ia harus makan meski tak ada selera.
Usai sarapan, Kyra beringsut ke kamar untuk istirahat. Rasa kantuk yang menderanya karena tak bisa nyenyak tidur semalam, entah mengapa kini malah lenyap ketika tubuhnya sudah berebah di ranjang. Beberapa kali Kyra mencoba menutup mata, berbalik ke kanan dan kiri hingga seprei yang tadinya rapi jadi lecek, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangun dan kembali ke Rumah Sakit saja.
Tidak bisa begini, Kyra terus-terusan kepikiran pada Bara meskipun suaminya itu sudah ditangani dengan baik di Rumah Sakit. Akhirnya, Kyra pun bangkit dan berganti pakaian. Ia pun membawa beberapa pakaian ganti untuk dirinya dan Bara. Setelah semua siap, ia memesan taksi online karena tak mau merepotkan Morgan untuk menjemputnya. Baru turun dari lobi, sebuah pesan yang masuk di ponselnya membuat Kyra menghentikan langkahnya sejenak. Pesan dari Annastasia.
[Kyra, how are you? Apa kamu baik-baik saja?]
Tentu saja Ann khawatir, terakhir kali bertemu temannya itu, Kyra tiba-tiba pergi begitu saja tanpa pamit. Tak ingin membuat Ann cemas, Kyra pun menghubungi nomor teman barunya itu. Dua kali nada sambung berbunyi, Ann langsung memgangkatnya dengan gercep.
"Halo, Kyra!"
"Ann, maaf sudah membuatmu khawatir. Aku nggak apa-apa, kok. Maaf ya," sesal Kyra.
"Fiuh, syukurlah kalo kamu nggak apa-apa. Aku kepikiran kamu terus sejak hari itu, mau menghubungimu tapi malah takut mengganggumu, hahaha ..." kekeh Ann di ujung sana.
"Hehe... Iya, aku pasti sudah membuatmu khawatir. Maaf, ya."
"Aaah, nggak apa-apa. Oh ya, betewe aku ada kabar bagus, nih! Suamiku sudah dapat identitas pembeli saham Garmindotex yang tempo hari aku ceritakan!"
Senyum lega Kyra sontak merekah. "Oh ya, siapa namanya?"
"Aku kirim via chat, ya?" putus Ann.
"Baiklah, Terima kasih banyak, Ann. Aku berhutang banyak padamu!"
"Ah, nggak perlu seperti itu. Santai saja! Maaf kalo sebelumnya aku baru tahu, lelaki yang tempo hari itu suamimu, kan? Dan dia adalah CEO di Garmindotex."
Kyra menghembuskan napas panjang. "Iya, kamu benar. Tolong rahasiakan hal ini ya, Ann. Sekali lagi aku minta tolong padamu."
"Baiklah, santai saja!"
.
.
Tiba di Rumah Sakit, hari sudah mulai siang. Kyra sudah merasa lapar lagi ketika kakinya baru saja menginjak lobi Rumah Sakit. Tak ingin merepotkan Morgan lagi, akhirnya Kyra berbelok menuju kantin Rumah Sakit untuk mengisi perutnya lebih dahulu.
__ADS_1
Ada banyak booth makanan yang menjual aneka menu. Bahkan ada bubur ayam juga di sana, tahu begitu tadi ia dan Morgan tak perlu repot-repot membelinya di luar Rumah Sakit!
Belum selesai Kyra menggerutu sembari mengamati booth makanan itu, tatapannya menangkap sosok Daniel di ujung ruangan dekat Booth Soto Ayam. Benar juga, ini jam makan siang, pasti kakak iparnya itu kelaparan. Dengan langkah lebar, Kyra menghampiri meja Daniel dan menarik salah satu kursi di situ.
Daniel yang sedang asyik menyantap sotonya, sontak tersentak kaget begitu mendapati seseorang menarik kursi di depan mejanya.
"Kyra? Kok kamu kembali?" tanya Daniel bingung.
Kyra tersenyum dan menengok ke booth soto ayam. "Bu, saya pesan 1 lagi sotonya dan es jeruk, ya!" pesannya ketika Ibu penjual soto mengawasinya.
"Baik, Mbak."
Kyra mengalihkan lagi pandangannya pada Daniel. Ia memperhatikan mangkuk sang kakak ipar yang masih penuh.
"Aku nggak bisa istirahat di rumah. Malah tambah kepikiran sama Bara, makanya mending istirahat di sini saja daripada di rumah tapi pikiranku ada di sini!" curhat Kyra kesal sendiri.
Melihat wajah menggemaskan adik iparnya itu menggerutu, mengingatkan Daniel pada Clara, mendiang mantan istrinya. Clara juga suka sekali menggerutu dan mengomel.
"Bara lagi tidur, ya?" tanya Kyra.
"Tidak. Dia sedang ada tamu."
"Tamu? Siapa?" tukas Kyra kepo.
Dengan kening mengerut, Kyra mulai berpikir. Setahu dia, Bara tak memiliki teman atau siapapun yang akrab dengannya kecuali Morgan.
"Valeria?" lirih Kyra sendu ketika yang muncul di ingatannya hanya wanita itu yang masih peduli pada suaminya.
Melihat sorot mata yang menyiratkan kecemburuan itu, mau tak mau Daniel terkekeh.
"Kamu mencintai Bara, ya?" ledeknya.
"Ih, nggak!" kelit Kyra tak terima.
Seporsi soto ayam dan segelas es jeruk pesanan Kyra datang, obrolan mereka pun akhirnya terhenti sejenak. Setelah ibu kantin itu pergi, Kyra lekas menyantap makan siangnya itu meski asap masih mengepul dari mangkuknya.
"Panas, Kyra! Jangan dimakan dulu kalo masih panas!" saran Daniel sembari merebut sendok Kyra sebelum adik iparnya itu menyantap soto pesanannya.
Kyra merengut, enak saja Bara berduaan dengan Valeria! Tahu begitu kan dia tak perlu repot-repot kemari!
__ADS_1
Daniel yang melihat ekspresi kesal Kyra, lantas menarik mangkuk milik iparnya itu dan mengipasi asap yang mengepul dari sana.
"Bukan Valeria yang datang. Tapi Mom dan Daddy," terang Daniel tak tega mengerjai Kyra.
"Iiih, Kak Niel, nih!"
"Hahaha ... Kamu cemburu, ya? Cie cieee ..."
Kyra menarik lengan Daniel dan mencubitnya dengan kesal. Sebersit rasa kesalnya entah mengapa jadi menguap begitu saja.
"Eh, Kak Niel, aku mau tanya sesuatu. Apakah Kak Niel kenal dengan Edy?" cetus Kyra begitu ingat pada pesan yang dikirim oleh Ann.
"Edy?" Daniel mengawasi Kyra dengan serius. "Ada apa dengan Edy? Apa dia mengganggumu?"
"Nggak. Aku bahkan nggak tahu wajahnya seperti apa. Tapi sebelum aku bercerita, bisakah Kak Niel menjaga rahasia?"
Meskipun merasakan feeling buruk, Daniel terpaksa mengangguk. Seharian ini, sudah dua orang yang membahas Edy padanya.
"Benarkah Kak Niel memiliki saham di GarmindoTex?" Kyra bertanya lagi.
Sekali lagi, Daniel mengangguk. "Bara, aku, Daddy dan Edy mempunyai saham masing-masing. Namun, saham Bara yang paling tinggi. Memangnya kenapa?" desak Niel mulai tak sabar.
"Edy sedang berusaha memonopoli saham perusahaan. Dia bahkan rela membeli dengan harga tinggi hanya untuk memiliki saham Garmindotex yang dilepas di pasar saham. Apakah Kak Niel nggak merasa ini aneh?"
Deg. Jadi benar dugaan Bara bila Edy sedang berusaha mengacaukan salah satu perusahaan induk milik keluarga Lazuardi. Sialan!
"Dari mana kamu tahu tentang informasi ini?" selidik Daniel curiga.
"Temanku memiliki saham GarmindoTex. Dia bilang ada orang yang selalu menghubungi suaminya dan memaksa untuk membeli saham perusahaan Bara dengan harga 3x lipat. Aku mencium aroma-aroma aneh."
"Aneh bagaimana?"
Kyra menarik dan menghembuskan napasnya secara berkala.
"Bisa saja dia mau melengserkan Bara dari posisinya dan menguasai perusahaan."
Daniel tersenyum kecut. "Tidak akan semudah itu, Kyra. Selama aku dan Daddy tidak melepas saham kami, posisi Bara akan tetap aman."
"Apa aku bisa mempercayaimu, Kak?" sela Kyra ragu. Bukankah Bara pernah bilang bila jangan mudah percaya pada orang baru.
__ADS_1
"Tidak percaya juga tidak apa. Lagipula aku tidak memiliki kepentingan apa-apa untuk melengserkan Bara. Yang jadi masalah justru Daddy. Dia tidak akan bisa tegas pada Edy."
...****************...