I Love You, Mr. CEO!

I Love You, Mr. CEO!
HoneyMoon


__ADS_3

Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Dengan mengendarai mobil, Bara dan Kyra berangkat menuju pelabuhan tempat kapal pesiar mereka akan berlayar.


Din din.


Suara klakson yang dibunyikan dengan nyaring oleh Bara membuat Kyra tersentak kaget. Ia mengawasi jalan di depannya yang sepi lantas menoleh bingung pada suaminya yang tengah tersenyum.


"Begitukah caraku menyapamu dulu?" gumam Bara sembari menerawang.


Seketika itu, Kyra ingat momen pertama kali ia bertemu dengan Bara. Benar, bila merunut momen kala itu, pertama kali pertemuan mereka berdua sangatlah mengesalkan untuk diingat. Tas travel Kyra yang terjatuh ditengah jalan, membuat Bara kesal dan membunyikan klakson berkali-kali padanya.


"Kamu jahat banget waktu itu," keluh Kyra dengan wajah manyun.


Bara tertawa, ia menarik tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat. "Maafkan aku. Aku sudah menggantinya dengan menyerahkan seluruh hidupku padamu, bukan?"


"Cih!" Kyra tersenyum kesal. Ia mencubit lengan Bara dengan gemas.


Mobil yang mereka kendarai pun masuk ke dalam lambung kapal. Setelah melakukan serangkaian pengecekan tiket dan kesehatan, mereka pun diperbolehkan naik menuju deck kamar yang berada di lantai paling atas. Seorang porter membantu membawakan koper dan barang-barang sembari menjelaskan beberapa hal terkait jam makan dan aktifitas di kapal pesiar.


Bara dan Kyra mendengarkan sembari bergandengan tangan dan sesekali terkekeh berdua ketika mengingat momen mereka dulu.


Tiba di deck yang terisi jejeran kamar VVIP. Kyra memperhatikan sisi kanan dan kirinya yang sepi.


"Aku memesan satu lantai ini khusus untuk kita berdua." Bara mendekat ke telinga istrinya dan berbisik, membuat Kyra mendelik kaget.


"Apa kamu sudah gila? Kenapa buang-buang uang?"


"Aku tidak membuangnya. Aku menikmatinya," kilah Bara santai sembari tetap menggandeng Kyra menuju kamar mereka.


Setelah meletakkan koper di dalam lemari serta menjelaskan beberapa detail di tempat mereka menginap, porter itu pun pamit keluar.


Kyra yang masih tak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya karena Bara menghambur-hamburkan uang, akhirnya menepis genggaman suaminya dan beringsut menuju balkon. Udara hangat yang menyapanya dari balkon serta pemandangan pelabuhan yang indah, membuat hati Kyra sedikit terhibur.


"Kamu marah?" tanya Bara sedih ketika melihat Kyra seolah menghindarinya setelah memberitahu tentang jumlah kamar yang ia pesan tadi.

__ADS_1


Hening. Kyra tak menyahut. Ia membiarkan hembusan angin sepoi-sepoi menyapa wajah dan mengurai rambutnya yang ia biarkan tergerai. Padahal harusnya momen bulan madu ini mereka lalui dengan hati gembira, akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya.


Tangan yang kekar melingkar di pinggang ramping Kyra dan memeluknya dari belakang. Bara membenamkan kepalanya di ceruk leher istri kesayangannya yang sedang ngambek itu.


"Maaf, aku melakukannya karena ingin membahagiakanmu, aku juga melakukan hal yang sama ketika akan melamar Vale dulu. Lantas, mengapa aku tak bisa melakukannya juga untukmu?"


Tubuh yang tadinya rileks saat dipeluk itu mendadak tegang. "Kamu menyamakanku dengan Vale?"


Bara menggeleng cepat. "Bukan begitu. Aku hanya ingin membuatmu merasa spesial. Bahkan lebih spesial dari gadis manapun yang pernah aku sukai dulu."


Hening kembali. Kyra hanya menghembuskan napas panjang karena mulai lelah.


"Aku mohon maafkan aku. Aku janji ini yang terakhir aku menghambur-hamburkan uangku." Bara mulai merengek di pelukan Kyra, ia seperti bayi besar yang minta digendong ibunya.


"Ky ... maafkan aku," ulangnya ketika Kyra tak kunjung bersuara dan memilih bungkam. "Jangan marah lagi. Bukankah kita sudah sepakat untuk melalui bulan madu kita tanpa marah-marah?"


"Aku nggak marah."


"Tapi kamu ngambek!" Bara merengut kesal. "Levelnya di atas marah. Lebih menyeramkan daripada kamu ngomel."


"Seminggu saja, bersikaplah romantis padaku. Bisa, kan?" pinta Bara memohon sembari menangkupkan kedua tangannya.


Kyra mengangguk dan Bara langsung memeluknya dengan erat.


"Aku janji, aku akan memperbaiki momen kita di sini dan membuat kenangan yang indah bersamamu."


.


.


"Kamu tahu apa yang lebih indah dari senja?" bisik Bara ketika mereka berdua kini tengah berendam di bathtub yang menyajikan langsung pemandangan lautan bebas di depan mereka.


Kyra menggeleng di pelukan hangat suaminya. Ia tak paham mengapa bisa sangat menyukai senja, ia hanyalah penikmat tanpa pernah memikirkan alasan mengapa harus begini dan begitu.

__ADS_1


"Yang lebih indah dari senja adalah bertemu kembali dengan orang yang sangat kita rindukan dan kita cintai."


Bara semakin mempererat pelukannya hingga membuat tubuh mungil Kyra sepenuhnya tenggelam didalam pelukan lelaki kesayangannya.


"Sejak kamu pergi, aku selalu berharap kita bisa bertemu kembali dan menikmati senja berdua."


"Bukankah sekarang impianmu sudah terkabul?"


Bara mengangguk lemah. "Terkabul setelah aku kehilangan semuanya," lirihnya kelu. "Kehilangan Daddy dan kehilangan putra kita."


Merasakan aura kesedihan yang terdengar dari suara Bara yang mulai parau, Kyra akhirnya berbalik dan duduk berhadapan dengannya. Sesuatu di bawah sana yang bisa dipastikan adalah Jhony yang terhimpit mulai bereaksi membuat gerakan Kyra terhenti sesaat.


"Aku minta maaf karena nggak bisa menjaga anak kita dengan baik."


"Bukan salahmu--"


"Tapi aku masih merasa berdosa karena--"


"Ssst, cukup. Kita berdua sama-sama kehilangan dan berdosa. Akulah yang harusnya minta maaf karena terlalu egois. Padahal kamu melakukan semuanya untuk kebaikanku." Bara mengecup kening istrinya cukup lama.


Sengatan demi sengatan listrik yang terasa mengalir melalui ciuman sederhana itu membuat tubuh Kyra memanas. Air di bathtub yang mulai dingin tak membuat suhu tubuhnya menurun. Ia justru semakin kepanasan.


"Aku mencintai kamu, Ky. Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi seberat apapun masalah yang kita lalui nanti." Bara menangkup wajah mungil istrinya dan menatapnya dengan lekat. "Janji?"


Dengan seutas senyum yang tersungging, Kyra mengangguk pasti.


"Aku janji."


Dan untuk kedua kali, setelah melakukannya di bathtub, kini Bara membawa tubuh Kyra ke atas ranjang. Masih ada 2 jam tersisa sebelum makan malam, dan Bara akan menggunakan waktu itu sebaik mungkin untuk menyalurkan hasratnya yang selama beberapa bulan ini terpendam. Sepulang dari bulan madu, Kyra harus sudah hamil agar ia bisa memiliki alasan untuk membawanya pulang ke Indonesia. Bara tak ingin lagi hidup sendirian, ia butuh Kyra yang bisa mengimbangi dirinya.


"I love you, Sayang," bisik Bara lembut setelah permainan mereka usai untuk sore ini.


Kyra mengusap sedikit peluh di kening suaminya dan mengecup bibir yang sangat menggoda itu dengan singkat.

__ADS_1


"I love you, Mr. CEO!"


...****************...


__ADS_2