
"Sungguh lelaki yang tidak punya harga diri." Ucapan Julian yang terdengar cukup keras membuat Emilia cukup kaget dibuatnya. Roy hanya bisa mendengus kesal dan meninggalkan wanita yang hampir hilang mahkotanya.
Sepeninggal Roy, Julian berkata,
"Cepat kemasi barangmu dan mulai pindah denganku malam ini juga. Kecuali kamu ingin bertemu dengan lelaki brengsek itu dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Ucapan Julian ada benarnya juga. Namun Emilia masih ragu untuk tinggal satu atap dengan pria yang belum jadi suaminya itu.
"Kita akan segera menikah secara hukum dan agama kurang dari satu minggu. Aku butuh kamu untuk dikenalkan ke keluarga besarku segera." Ujar Julian dengan nada mendominasi seperti biasanya.
"Bos, beri aku waktu untuk berkemas." Emilia pun merapihkan barang-barang yang ada didalam kamar. Setelah siap, wanita itu berdiri di sekitar Julian dengan perasaan was-was dan ragu. "Benarkah aku akan menikah dengan bosku? Benarkah pria ini yang akan merubah masa depanku? Aku harap aku tidak jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam setelah terlepas dari Roy." Gumam Emilia dalam hati.
Singkat kata, Emilia dan Julian pun tinggal dalam satu atap namun di kamar yang berbeda. Rencana mengurus pernikahan yang diperkirakan hanya memakan waktu 1-2 hari, ternyata baru selesai dalam waktu satu minggu lebih. Asisten pribadi Julian, Charlie mengatakan kalau saat ini sedang musim nikah jadi banyak yang melalui antrian, meskipun diusahakan dengan jalur prioritas.
Selama satu minggu itu, Emilia dan Julian bersikap biasa tanpa menunjukkan tanda-tanda kalau mereka akan menjadi sepasang suami istri. Emilia juga mengatakan kalau dia tidak ingin status menikahnya diketahui oleh rekan-rekan kerjanya kelak.
Lima hari sebelumnya menikah ...
"Nona Emilia, aku membutuhkan laporannya segera." Ini sudah ke tiga kalinya Julian memanggil Emilia hari ini untuk keruangannya. Semua karyawan tidak ada yang menaruh curiga karena memang saat ini perusahaan ini sedang menghandle mega proyek yang bekerjasama dengan konglomerat nomer satu negeri ini. Ditambah lagi, Emilia adalah seorang manajer yang memiliki kecenderungan lebih besar untuk bolak balik bertemu CEO perusahaan ini.
"Ada yang bisa aku bantu, bos?" Emilia menunjukkan sikap profesionalitasnya dengan menghormati Julian sebagai bos di kantor.
__ADS_1
"Nona Emilia, sayang sekali surat-surat untuk proses pernikahan kita tidak bisa selesai hari ini. Charlie baru saja menelponku kalau butuh waktu beberapa hari lagi untuk menyelesaikan semuanya." Dengan kedua tangannya dilipat didepan dada dan tubuh tinggi tegapnya bersandar di tepi meja, Julian mengatakan hasil yang didapat asistenya hari ini.
"Oh begitu. Jadi, aku akan lebih lama tinggal di apartemen bos tanpa kejelasan status. Aku pikir bos memanggilku untuk urusan pekerjaan." Gumam Emilia.
"Aku merasa harus memberitahu kamu agar kamu tidak berpikiran macam-macam. Malam ini aku akan pulang sangat malam, kamu tidak perlu memasak makan malam untukku." Ucap Julian lagi.
Sebenarnya, Emilia belum terbiasa mengurus orang lain. Selama ini bahkan neneknya saja makan dan mengerjakan hal lain seorang diri, tanpa bantuan Emilia. Kini, Emilia harus memasak makanan untuk bos yang notabene akan menjadi suaminya.
"Baik, bos. Apa ada lagi yang bos inginkan?"
"Tidak ada. Kamu boleh kembali ke tempatmu." Ucap Julian sambil membalikkan punggungnya menuju kursi kerjanya. Emilia pun keluar setelah memberikan sikap hormat.
Julian memegang dadanya yang berdegup kencang jika berada di dekat Emilia. Meski sikapnya terkesan tegas dan galak namun dihadapan Emilia, Julian langsung luluh dan tidak berdaya. Dia terlalu lama memendam rasa pada wanita yang sejak pertama dilihatnya itu.
"Aneh sekali pria itu. Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku saja?" Emilia menyeringai kesal karena dia khawatir teman-teman kerjanya akan mengetahui rahasia ini. Cepat atau lambat, semua pasti akan ketahuan. Tapi, Emilia berharap kalaupun mereka akan ketahuan itu nanti setelah satu tahun.
"Lia, ada apa? Kenapa muka kamu bingung gitu? Apa yang pak bos bilang padamu?" Sophia yang baru keluar dari pantry, melihat sahabatnya berdiri dengan wajah tampak kebingungan.
"Tidak apa-apa. Kamu baru selesai buat kopi? Tiba-tiba aku jadi ingin ngopi." Ujar Emilia mencoba mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
-----
Ini adalah malam ketiga Emilia menginap di apartemen milik bosnya ini. Selama ini, Julian selalu pulang ketika Emilia sudah beranjak tidur di kamar. Mereka akan bertemu kembali saat makan pagi bersama dengan makanan yang dibuat oleh Emilia. Nasi goreng, telur omelet, ayam goreng, adalah menu sarapan yang dibuat Emilia selama dua hari berturut-turut. Julian tidak pernah membantah dan melahapnya begitu saja sampai habis tidak bersisa. Segelas susu putih menjadi teman sarapan Julian setiap pagi, dan itu juga sesuai dengan apa yang diminta Julian setiap pagi.
Malam ini Emilia sengaja keluar dari kamar untuk memasak menu makan malam ringan yang mungkin akan disukai Julian sepulang bekerja. Hanya roti bakar dengan isian keju, salada, sosis, dan daging burger. Lebih mirip seperti menu sarapan namun Emilia tetap membuatnya. Jika Julian tidak menyukainya, setidaknya Emilia bisa memakannya. Itupun kalau tidak disentuh sama sekali.
Karena sibuk di dapur, Emilia tidak menyadari kedatangan Julian. Pria itu berdiri dan menatap wanita yang memunggunginya dengan rambut digulung ke atas sehingga menampakkan leher putih jenjangnya. Daster warna monokrom lengan pendek dan sepanjang lutut itu membuat tampilan seorang wanita berstatus manajer berubah menjadi ibu rumah tangga. Tanpa sadar, Julian tersenyum melihatnya.
"Bos, sejak kapan anda berdiri disitu?" Emilia kaget bukan main ketika membalikkan tubuhnya untuk meletakkan roti sandwich buatannya ke atas meja.
Alih-alih menjawab pertanyaan Emilia, Julian justru melepaskan jas dan menggulung lengan kemejanya hingga ke sikut. Tampaklah otot lengannya yang kokoh dan besar. Emilia sempat sedikit panik melihat tampilan bosnya yang sangat santai dan tanpa beban.
"Ini buatku kan?" Tanya Julian pada wanita yang masih berdiri gugup didepan kompor.
"I-iya, bos."
"Buat kamu mana?" Julian tidak melihat roti untuk Emilia tersaji diatas meja.
"Aku tidak makan malam, bos." Jawab Emilia dengan wajah menunduk takut-takut.
__ADS_1
"Emilia, kamu ini kan seorang manajer. Kenapa kamu justru seperti orang yang tidak punya kepercayaan diri? Menurutku itu bukan sikap yang baik dan bisa dicontoh oleh bawahan. Dan, aku tidak ingin istriku memiliki sifat penakut dan pesimis. Aku ingin wanita yang menjadi istriku adalah wanita yang kuat, dan tidak mudah diintimidasi." Ujar Julian sambil memotong roti sandwich itu dengan garpu dan pisau ditangannya.
Emilia merasa tersentak dan tersadarkan. Di kehidupannya yang sekarang, sudah seharusnya dia tidak lagi menjadi wanita yang apatis, pengecut, dan selalu mengalah. "Percuma saja aku diberikan kesempatan hidup kembali kalau sifatku tidak berubah." Gumam Emilia sambil mengepalkan kedua tangannya.