If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
76. Merahasiakan Hubungan


__ADS_3

"Kalau begitu, aku permisi mau makan siang dulu sebelum jam istirahat berakhir." Tanpa menunggu jawaban wanita tersebut, Edwin berjalan


cepat hendak menyusul kekasih yang sedang merajuk itu. Namun malang, pintu lift telah ditutup dan keduanya hanya bisa menatap dalam diam satu sama lain.


“Kita jangan terlalu dekat di kantor. Aku tidak mau ada gosip miring beredar dan akan mempengaruhi kinerja kamu nantinya.” Pesan singkat yang dikirim Sophia mampu mengembalikan senyum di bibir pria


berkacamata tersebut.


“Baiklah kalau itu yang kamu mau. Aku akan mampir ke rumah kamu setelah pulang kerja, sayang.” Balasan pesan singkat yang dikirimkan Edwin kali ini membuat wanita yang semula kesal karena ada wanita lain yang mendekatinya, perlahan mulai mengembangkan senyuman.


“Pak Edwin!” Suara lain di belakang pria yang masih berada di depan lift, memaksanya untuk memasukkan ponsel ke saku jasnya.


“Ya?”


“Pak Julian mengundang kita untuk makan siang bersama demi menyambut pak Edwin bergabung bersama kami.” Seorang rekan kerja pria yang berada


satu lantai dengannya itu menghampiri Edwin.


“Baiklah, ayo.” Suasana kerja baru dengan orang-orang baru, Edwin berjanji akan segera beradaptasi secepat mungkin agar bisa langsung


menjalankan pekerjaannya dengan semaksimal yang dia bisa. Alasan lainnya adalah dia ingin menunjukkan kepada orangtuanya kalau dia sudah memiliki pekerjaan yang membanggakan.


Tempat yang dipilih oleh Julian adalah restoran yang menjadi langganannya saat menjamu rekanan bisnis penting. Edwin duduk di sebelah Julian dan beberapa karyawan lainnya yang diundang berjumlah sepuluh orang adalah karyawan di jajaran inti saja. Emilia terpaksa menolak ajakan makan siang tersebut karena dia dan Sophia sudah berjanji untuk makan siang bersama di restoran


biasa mereka datangi.


Sophia terus mengaduk-aduk kopi yang ada di hadapannya. Emilia yang melihat dari tadi, tidak berinisiatif untuk bertanya. Dia ingin memberikan kebebasan waktu pada sahabatnya untuk menenangkan diri tanpa harus sendirian. Sophia


pasti shock mengetahui kekasihnya bekerja di kantor yang sama dengannya tanpa pemberitahuan dari awal.


“Kamu tahu? Tadi di lift aku bertemu dengan sekretaris lama pak Julian.” Ucap Emilia mencoba mencairkan suasana.


“Oya?” Jawaban singkat tanpa menatap lawan bicara diberikan Sophia.

__ADS_1


“Iya. Dia tanya ke aku, kenapa dia dipindahkan ke divisi yang lebih rendah? Posisi sebagai sekretaris bos adalah idaman semua sekretaris. Dia ingin bertanya langsung ke personalia tapi belum sempat katanya.”


“Ooh,” Lagi-lagi hanya tiga huruf yang diucapkan Sophia. Emilia menghela napas panjang dan menyesap Thai Tea yang dipesannya.


“Cepatlah makan. Jam istirahat kita sebentar lagi berakhir.” Emilia melirik angka di arloji pergelangan tangan kirinya. Tinggal lima belas


menit lagi dan itu juga belum termasuk perjalanan ke kantor sekitar lima menitan berjalan kaki.


“Emilia, kamu tidak tahu betapa … menyesakkannya merahasiakan hubungan aku dan dia di kantor. Aku tidak masalah kalau dia bekerja di tempat


yang sama tapi … banyak rubah yang mengelilingi dia sejak  hari pertama bekerja.” Sophia menyandarkan


punggungnya ke sandaran kursi yang terbuat dari kayu jati itu.


Merahasiakan hubungan? Sophia Sophia, andai kamu tahu kalau teman kamu ini sudah berjuang dengan hubungan itu sejak dua bulan yang lalu. Gumam Emilia dalam hati sambil tersenyum lebar. Hubungan yang dirahasiakan dari siapapun dan ketika saatnya ingin membukanya di depan khalayak umum, justru bingung bagaimana caranya. Emilia juga belum siap untuk berhenti bekerja. Meski Julian memastikan kalau dia bisa bekerja di perusahaannya yang lain, namun Emilia sudah merasa cocok bekerja di tempat ini.


“Ya sudahlah, semua juga perlu proses, tidak langsung nyaman begitu saja. Dan aku yakin, kekasihmu itu tipe setia. Dia tidak akan menyia-nyiakan pacarnya yang sangat cantik tapi jutek ini. Hahaha,” Sophia mendelik sinis begitu mendengar ‘pujian’ yang dialamatkan padanya.


berteman.


“Lia, kamu percaya tidak kalau pak Julian itu gay? Yang aku takutkan kalau Edwin bekerja dengannya. Bisa-bisa …”


“Hush! Jangan bicara yang tidak-tidak! Kita tidak boleh membicarakan bos kita begitu. Aku yakin pak Julian masih pria normal.” Jawab Emilia dengan tegas. Bahkan dia lebih pantas disebut buas dan posesif, gumam Emilia dalam hati.


Tiada satu malam pun dilewati Emilia dan Julian tanpa melakukan hubungan suami istri. Bahkan jika dia sedang tertidur pulas lebih dahulu karena


menunggu Julian pulang telat, maka pria itu tetap melancarkan aksinya setelah mandi. Di pagi harinya, Emilia akan berakhir dengan kepolosan di balik selimut tebal mereka.


“Ishhh kamu mengagetkan aku saja! Aku kan hanya takut kalau-kalau Edwin akan digoda pak Julian.” Jawab Sophia dengan bibir mengkerut.


“Kekhawatiran yang tidak penting! Kamu tidak mau makan? Masih ada waktu lima menit lagi loh.”


“Iya iya aku makan, dasar cerewet!”

__ADS_1


“Biarin cerewet! Daripada ngambekan dan moodyan.” Timpal balik Emilia yang langsung dibalas dengan timpukan selembar tissue yang sudah diremas oleh Sophia. Keduanya terkekeh menertawakan ejekan mereka satu sama lain.


***


“Persediaan sembako sudah mau habis. Aku harus keluar rumah untuk membelinya.” Netta memeriksa semua laci di dalam dapur tempat persembunyian Roy. Pria yang diajak bicara, justru sedang menatap keluar dari balik jendela ruangan tamu yang masih bisa terlihat dengan jelas dari dapur.


“Menurut kamu, apakah polisi sudah menetapkan aku ke dalam Daftar


Pencarian Orang? Aku tidak bisa memantau keadaan karena nomer dan ponsel lamaku sudah aku buang. Ibuku pasti sangat mengkhawatirkan aku. Hanya ibuku satu-satunya pendukungku.”


Ucapan Roy dibalas dengan seringai sinis Netta.


“Dasar anak mami!” Gumamnya dalam hati.


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin kamu bisa menonton berita.”


Jawab Netta acuh tak acuh. Dia berjanji akan melarikan diri dari rumah ini dan Roy kalau sudah bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Tempat yang menjadikannya sebagai budak Roy. Dia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, bahkan


dia juga harus melayani nafsu naluriah Roy yang muncul sewaktu-waktu. Netta tidak diberikan kesempatan sama sekali untuk membuka pintu, hanya Roy dengan atribut


penyamarannya yang bisa keluar rumah.


Beruntung rumah ini berada di lingkungan kompleks elit yang tetangga kiri kanannya tidak suka bergunjing dan mengurusi kehidupan orang lain. Sehingga mereka bisa bersembunyi dengan leluasa seminggu terakhir ini.


“Aku akan keluar sebentar. Kamu di rumah saja.”


“Kamu mau kemana? Aku ikut!” Netta menghampiri Roy yang sudah memakai topi dan kacamata penyamaran. Tidak lupa jenggot palsu yang menutupi rahangnya.


“Kamu di rumah saja. Jangan membantah ucapanku!”


“Aku juga mau menghirup udara luar. Aku bisa gila kalau dikurung


terus seperti ini!” Suara Netta yang berteriak histeris membuat Roy mencengkeram kedua pipi wanita itu dengan satu tangan lebarnya.

__ADS_1


__ADS_2