
Julian memegang pinggang Emilia dan berjalan di sebelahnya tanpa berjarak sedikitpun. Arka dan Sonia mengerutkan alis dan saling bertukar pandang. Emilia bukannya tidak tahu kalau dia menjadi pusat perhatian tuan rumah namun dia tidak bisa menolak perlakuan Julian. Dia juga ingin menunjukkan betapa kini dia sudah memiliki kehidupan yang lebih baik setelah menikah dengan pria yang harus ditunjukkan ke semua orang kalau mereka berdua saling mencintai.
Seorang pembantu rumah datang membawakan empat cangkir teh manis hangat untuk empat orang yang akan melakukan percakapan serius. Cangkir berwarna putih yang terbuat dari keramik itu tampak sangat rapuh dan pasti akan pecah jika terjatuh ke atas lantai. Emilia teringat kembali dengan hatinya yang sangat mudah rapuh kala menjadi menantu keluarga ini. Semua yang diucapkan Sonia dan Roy ditelannya mentah-mentah. Tidak ada tempat bersandar dan mengadu untuk sekedar meringankan beban pikiran yang ada di hati dan otaknya. Dan, ketika kejadian di hotel itu lah puncak dari semuanya.
Perselingkuhan Roy dengan Netta menjadi titik balik hidup pertamanya berakhir. Dan, kini dia harus melupakan semua luka lama itu dan hidup bahagia bersama Julian. Tapi, keinginan tidak seindah dan semulus kenyataan. Roy dan Netta masih terus membayangi dan mengganggu hidup Emilia dan Julian. Emilia tersadar dari lamunannya ketika Julian memegang tangannya dan menggenggam erat seolah mengatakan, ‘kamu akan baik-baik saja, ada aku disini.’ Emilia tersenyum lega dan kembali mantap menatap kedua orang pemilik rumah yang dia datangi saat ini.
“Jadi, apa ada yang bisa aku bantu, ayah eh Om?” Emilia membuka percakapan dengan suaranya yang lembut namun penuh ketegasan.
“Lia, kamu tahu kan kalau … anak sialan itu menjadi buronan pihak kepolisian?”
“Mas, apa sih yang kamu katakan? Roy anak kita berdua. Kenapa kamu …?” Sonia memerah wajahnya geram karena sang suami sama sekali tidak menunjukkan rasa bangga pada anaknya sendiri dan malah justru menghina anak kandung mereka di hadapan orang lain.
__ADS_1
“Kalau aku tidak bilang sialan, lalu dia pantas disebut apa? Kamu pergi saja kalau tidak mau diam dan mendengarkan.” Arka mengeraskan nada suaranya. Emilia sempat dibuat terkejut dengan sikap ayahnya Roy yang setahu Emilia memiliki sifat lembut dan sangat welas asih. Namun, dia tidak ingin mencampuri urusan suami istri keluarga lain. Dia hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun, begitu juga dengan Julian yang kaget untuk sesaat.
Sonia membanting bantal kursi yang dipegangnya dan pergi dengan kaki terhentak ke atas lantai meninggalkan semua orang yang ada di ruang tamu. Arka menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
“Maafkan sikap kami, Emilia. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku jadi punya sifat emosi begini. Jangan-jangan setelah kamu membatalkan pertunangan dengan Roy.” Emilia masih diam mencoba bersabar mendengarkan perkataan Arka, pria paruh baya yang sudah Emilia anggap sebagai ayah sendiri di kehidupan pertamanya.
“Iya, om.”
“Aku dan Lastri adalah teman baik sejak masih kecil. Kami berteman baik hingga kami sama-sama menikah dengan pasangan pilihan kami. Hingga suatu ketika, entah firasat apa yang dimiliki Lastri hingga dia menitipkan kamu kepada aku. Dia berharap aku bisa menjaga kamu hingga kamu mandiri dan tidak jatuh ke orang lain dengan cara yang salah. Sejak saat itulah, aku sudah menganggap kamu sebagai anakku sendiri. Dengan pernikahan yang dijodohkan denganmu, aku berharap Roy bisa merubah sifatnya dan bisa menjadi pria yang lebih baik setelah menikah denganmu. Tapi ….” Arka mengusap dahinya dan menghentikan ucapan yang tertahan di tenggorokannya.
“Maafkan aku, om. Aku benar-benar berhutang budi pada om dan keluarga. Tapi, aku tetap saja tidak bisa menikah dengan Roy setelah semua yang dia lakukan padaku. Walaupun begitu, silaturahmi kita tidak akan putus. Aku akan selalu menjadi anak perempuan om yang selama ini telah om jaga dengan baik.” Emilia tahu betapa sayangnya Arka pada dirinya. Bahkan Emilia sempat lupa kalau dia sudah tidak memiliki orangtua sejak kecil hanya karena perhatian dan kasih sayang yang diberikan Arka padanya dan nenek. Hanya saja memang Sonia sebagai calon ibu mertua selalu menunjukkan sikap bermusuhan pada Emilia dan neneknya.
__ADS_1
“Tetap saja itu beda, Lia. Tapi sekarang aku sudah lega karena kini kamu ada yang menjaga dengan baik. Aku merasa sangat berdosa sekali jika membiarkan kamu terlantar dan hidup tanpa kasih sayang.” Arka melihat Julian sesaat dan terlihat pria paruh baya itu menghela napas panjang untuk ke sekian kalinya. “Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu dan aku harap … kamu bisa menjaga Emilia dengan baik hingga ajal memisahkan kalian.” Kali ini tatapan mata Arka tertuju pada Julian yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya pada Emilia. Wanita berambut hitam panjang lebat itu berusaha sepelan mungkin menarik tangannya dari genggaman Julian karena tidak enak hati dengan tatapan pemilik rumah. Namun, Julian bersikukuh untuk terus menggenggam tangan Emilia tanpa melepasnya sedikit pun.
“Anda tidak perlu khawatir. Tanpa ada yang meminta pun aku pasti akan menjaga istriku dengan baik dan mencintainya dengan sepenuh hatiku. Aku sudah mencintai Emilia sejak kami masih remaja karena Emilia adalah cinta pertamaku.” Ucap Julian sambll tersenyum ke arah wanita yang duduk di sebelahnya dengan senyum penuh cinta. Sementara itu wanita yang dimaksud itu justru menganga lebar mulutnya karena baru kali ini dia mendengar pengakuan Julian dan itu di hadapan orang lain.
“Julian, kamu ….”
“Iya, maafkan aku sayang kalau aku baru memberitahukan kamu sekarang. Nanti kita bicarakan lagi di rumah ya.” Julian mengusap punggung tangan sang istri dan mengecupnya dengan tatapan mata syahdu dan cinta yang meluap-luap.
Emilia tentu saja sangat malu dibuatnya karena mereka tidak hanya berdua, tapi ada ayahnya Roy yang memperhatikan sikap mereka berdua sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.
“Syukurlah, sekarang aku lebih lega dan tenang bisa menitipkan Emilia pada penjagaanmu. Anakku benar-benar tidak bersyukur telah mengenal wanita sebaik Emilia. Dia justru memilih perempuan tidak baik-baik untuk menemaninya dan membuatnya semakin jauh dari kebaikan. Sekarang saja dia sudah terang-terangan menunjukkan kalau dia keluar dari pekerjaannya dengan memilih menjadi seorang buronan. Andai saja aku tahu dia dimana, aku akan langsung melaporkannya ke pihak berwajib agar dia jera dan bisa bersikap dewasa.” Arka tersenyum lirih ke Emilia dan Julian.
__ADS_1