If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
43. Cinta Masa Kecil


__ADS_3

"Selena Moretti. Kamu masih ingat?"


Wajah seorang wanita Italia yang sangat cantik dengan rambut pirang dan bermata biru, terpampang jelas di selembar foto yang sedang dipegang Julian. Suami dari Emilia itu hanya mencebikkan bibirnya lalu mengembalikan foto itu ke papinya.


"Ya, lalu?" Tanya Julian dengan nada tidak semangat. Dia tahu akan kemana arah percakapan ini. Selena adalah anak perempuan dari rekan bisnis papinya. Julian dan Selena sudah berteman sejak kecil. Mereka biasa bertemu di acara pertemuan antara orangtua. Selena langsung menyukai Julian saat pertama mereka bertemu sekitar usia mereka lima tahun.


Yang Julian tahu, Selena adalah anak yang hidupnya sangat mewah dengan segala fasilitas yang diberikan kedua orangtuanya. Semua teman lelaki menyukainya dan banyak yang menyatakan cinta padanya, namun Selena menolak mereka semua. Julian baru tahu kalau Selena menyukainya dari maminya sendiri ketika Selena mengatakannya langsung pada Caitlyn.


Sayangnya, Julian tidak pernah menaruh hati pada Selena. Yang Julian sukai hanya satu anak perempuan ketika dia pertama dibawa ke Indonesia oleh papinya saat usianya sepuluh tahun.


Anak perempuan yang sangat kental dengan nuansa Indonesianya. Rambut hitamnya dikepang dua dan anak perempuan bertubuh kurus itu memakai kaos lengan pendek dan celana selutut bermain dengan teman-teman sebayanya. Saat itu sang papi mengajak berkunjung ke rumah kakek nenek Julian yang juga aseli orang Jawa. Rumah papinya yang berada di pedesaan dibawah kaki gunung membuat Julian langsung merasakan suasana yang sangat tenang dan damai.


"Kamu anak bule ya? Mata kamu biru jernih. Cakep sekali." Begitulah ucapan pertama yang Julian dengar dari anak perempuan yang tingginya hanya sebatas dadanya. Entah anak perempuan itu yang terlalu pendek atau Julian yang terlalu tinggi.

__ADS_1


"Perkenalkan, namaku Emilia Lavanya. Aku tinggal di ujung kampung ini. Aku tinggal bersama ayah dan ibuku. Kamu tinggal dimana?" Sapa anak perempuan cantik itu. Tampaknya dia anak yang supel dan mau berteman dengan siapapun.


"Julian, Julian Miller." Hanya itu yang bisa diucapkan Julian karena ini pertama kalinya dia datang ke Indonesia dan tentu saja dia tidak bisa bahasa Indonesia dengan baik dan benar.


"Ahh Julian. Kamu tidak bisa bahasa Indonesia ya? Aku juga tidak bisa bahasa kamu. Hehehe," Anak perempuan itu menyeringai lebar sambil menggaruk tengkuk lehernya. "Kamu tinggi sekali untuk ukuran anak-anak. Teman-temanku yang lelaki tidak setinggi kamu." Julian benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan anak perempuan dihadapannya ini. Alih-alih tersenyum menimpali, Julian diam tanpa ekspresi. Dan, itu membuat si penanya merasa tidak enak hati untuk melanjutkan percakapan.


"Aku sering main kesini karena teman-temanku rumahnya disini. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus pulang karena sudah sore. Maaf yaa sudah mengganggu kamu. Sampai bertemu lagi," Anak perempuan bernama Emilia itu melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.


Dan, itu adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan Emilia di masa kecil. Julian baru mengetahui keadaan Emilia dari neneknya Julian setelah Julian kembali ke kampung halaman papinya saat Julian berusia tujuh belas tahun kalau Emilia ikut dengan neneknya di desa lain karena kedua orangtuanya meninggal dunia akibat kecelakaan. Yang lebih mengejutkan lagi, meninggalnya kedua orangtua Emilia adalah seminggu setelah mereka berpisah saat itu atau saat Julian dan papinya sudah kembali ke Italia.


Tapi, alam semesta lagi-lagi bermain dengan perasaan Julian. Emilia dewasa tidak mengingat Julian. Dan, sikap Emilia yang dulu ceria dan hangat, berubah serarus persen menjadi pendiam dan introvert. Dia menghindari bergaul dengan teman-teman kerjanya, kecuali seorang teman kerjanya bernama Sophia. Sejak saat itu, Julian berjanji untuk hanya memandang Emilia apapun yang terjadi. Meskipun perempuan yang pernah hinggap di hatinya itu ternyata telah bertunangan dengan lelaki lain. 


Hati Julian remuk dan hancur. Tapi, dia berusaha untuk menyembunyikannya. Nasib baik kembali menghampirinya ketika Emilia tiba-tiba dikabarkan memutuskan pertunangannya dan membatalkan rencana pernikahannya. Hati Julian yang semula layu kini mekar kembali dan dia pun mencari tahu penyebabnya.

__ADS_1


Hutang lima ratus juta adalah uang yang harus dibayarkan Emilia pada keluarga calon suaminya kalau mau lepas dari pernikahan. Dan, Julian langsung mendekati Emilia dan menggunakan alasan pernikahan kontrak sebagai pengganti uang lima ratus juta yang akan dia pinjamkan.


Bagai gayung bersambut, Emilia menerima tawaran Julian karena dia tidak tahu harus meminjam ke siapa lagi dan dia pun ingin segera terlepas bebas dari hutang yang menjeratnya.


Begitulah awal pertama Julian mengenal Emilia, cinta masa kecilnya yang kini menjadi istrinya. Meskipun Emilia masih belum mengingat saat kecil mereka yang perkenalannya sangat singkat itu, Julian akan terus mengingatnya dalam hati sampai kapanpun.


"Sebelum kamu kembali ke Indonesia, pergilah temui keluarga Selena. Papi dan mami akan menemani kamu. Kami tahu kamu tidak pernah menyukai Selena namun keluarga mereka sudah sejak lama ingin menjodohkan anak mereka dengan kamu. Kami harap kamu tidak keberatan." Robby berkata pada sang anak.


"Maaf pi, aku tidak bisa. Dengan alasan apa aku harus menemuinya? Aku tidak ingin membuang waktuku dengan menjumpai orang yang tidak harus aku temui. Di antara aku dan Selena tidak pernah terjadi apa-apa dan aku tidak ingin memulai apa yang tidak ingin aku lakukan." Julian membalikkan badannya hendak beranjak keluar dari ruangan baca sang papi.


"Julian, katakan pada papi. Apakah istriku itu cinta masa kecilmu?" Pertanyaan Robby membuat Julian melebarkan mata tidak percaya. Papinya langsung tahu padahal baru sekali melihat foto Emilia beberapa menit yang lalu di meja makan.


"Bagaimana papi tahu?" Julian membalikkan kembali tubuhnya menghadap Robby, papinya.

__ADS_1


"Emilia Lavanya. Papi kenal orangtuanya walau tidak begitu dekat. Dia anak yatim piatu yang sangat berbakat, pintar, dan ceria. Papi mami senang kamu menikah dengan wanita pilihan kamu. Teruslah pertahankan rumah tangga kamu sampai akhir hayat. Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup. Jangan pernah mempermainkan lembaga pernikahan. Apapun masalah yang terjadi di antara kalian, selesaikan hari itu juga. Jangan pernah biarkan masalah dipendam berlarut-larut." Robby menepuk bahu luas sang anak dan tersenyum bangga padanya. Robby senang anak satu-satunya menjadi anak yang bisa dibanggakan dan menjunjung tinggi kehormatan keluarga.


Julian memeluk papiny erat. Baru kali ini dia merasakan kebanggaan menjadi seorang anak dari keluarga Miller. Selama ini dia hanya melakukan yang terbaik yang dia bisa, hingga mengabaikan pergaulan dengan teman-temannya yang sering berkumpul di klab malam sampai dini hari. Julian lebih senang menghabiskan waktunya dengan menenggelamkan dirinya bersama tumpukan buku ekonomi dan ilmiah. Tidak ada yang lebih membahagiakan dirinya ketika telah berhasil mempraktekan apa yang telah dipelajarinya dari buku dan sekolah.


__ADS_2