If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
54. Jalan-Jalan Berdua


__ADS_3

Maksud hati Emilia mengajak Julian ke Puncak untuk menikmati pemandangan di luar dan menghindari kondisi hanya berdua saja di dalam kamar, justru menjadi bumerang baginya yang malah masuk ke dalam perangkap harimau.


Julian benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan selama mereka berdua di puncak. Emilia baru bisa bergerak bebas jika waktunya makan tiba. Sekujur tubuhnya pegal luar biasa dan dipenuhi banyak jejak kissmark akibat perbuatan sang suami. Sehingga, Emilia harus memakai pakaian lengan panjang atau kerah turtleneck untuk menutup lehernya yang kemerahan.


Dengen sweater warna kuning dan kerah model turtleneck, dipadu padankan dengan celana panjang jeans warna hitam, membuat penampilan Emilia terlihat lebih cantik dan segar. Julian yang juga mengenakan kaos warna kuning dan celana jeans panjang warna hitam, membuat Emilia mengerutkan alisnya ketika melihat pria itu keluar dari kamar mandi.


"Sejak kapan kamu punya kemeja warna kuning?" Emilia menghampiri sang suami dan berdiri cukup dekat di hadapannya.


"Sejak istriku punya pakaian berbagai macam warna sehingga aku pun membeli warna yang sama agar kita bisa selalu terlihat sebagai pasangan suami istri yang kompak." Jawab Julian seraya mengambil kacamata hitamnya di dalam tas pinggang miliknya dan memakainya.


Emilia ingin rasanya berteriak melihat sang suami bertambah seribu kali lipat kadar ketampanannya, setelah memakai kacamata hitam.


"Ehem, terserah kamu saja. Ayo kita segera berangkat. Aku tidak sabar untuk berkeliling melihat satwa liar." Emilia mengambil tas selempangnya dan memimpin jalan keluar kamar. 


Julian berjalan cepat menyusul sang istri dan spontan menggenggam tangannya. Emilia semula kaget namun dia membiarkan saja tangannya yang cukup kecil, digenggam oleh telapak tangan yang lebar dan lembut. Keduanya tersenyum dan berjalan menuju lobi karena sudah ditunggu oleh mobil yang menunggu untuk membawa mereka ke Taman Safari.


Emilia sungguh takjub dan senang bukan main seperti anak kecil yang baru pertama kali ke tempat wisata. Matanya yang berbinar-binar melihat binatang yang terlihat di hadapannya dari balik kaca mobil, membuatnya tidak henti-hentinya mengabadikan semua momen melalui jepretan kamera ponselnya. Julian tersenyum senang melihat sang istri menikmati liburan mereka. 


Sesekali Julian menceritakan asal usul binatang yang banyak di impor dari luar itu. Emilia mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-angguk. Hingga akhirnya mereka sudah sampai di tujuan terakhir yaitu taman umum dimana mobil sudah bisa diparkir dan pengunjungnya bisa keluar bebas menikmati segala macam wahana dan tempat makan minum untuk melepas lelah.


Julian dan Emilia bergandengan tangan kembali menuju tempat pertama yang akan mereka datangi yaitu kereta Jurassic. Wahana paling ringan dan santai menurut Julian tapi tidak menurut Emilia.


Wanita yang menggerai rambut panjang hitamnya itu, berteriak kaget di beberapa tempat ketika dijumpai dinosaurus yang mengeluarkan api dari dalam mulutnya atau ketika suara tirex yang menggema. Tak ayal, Julian tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan lebih sering mendekap sang istri yang ketakutan.

__ADS_1


"Aku tidak mau masuk kesitu lagi!" Emilia memasang wajah cemberut dan kesal karena merasa ditipu sang suami. Dia meninggalkan Julian sendirian di belakang yang masih tertawa melihat wajah marah sang istri yang menurutnya lebih imut dan menggemaskan ketika sedang marah.


"Sayang, tunggu aku!" Julian mempercepat langkahnya untuk mengejar Emilia yang masih ngambek. Namun, sebuah suara panggilan tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Julian, hai. Kita bertemu lagi disini." Seorang wanita cantik dengan wajah ciri khas Eropanya, mata biru, rambut pirang, dan kulit putih pucat, berlari-lari kecil menghampiri Julian.


"Maggie?"


Julian mengenali Maggie, salah satu partner bisnisnya yang merupakan salah seorang direktur di perusahaan tempat wanita itu bekerja.


"Dengan siapa kamu kesini?" Maggie langsung memeluk Julian dan mencium pipi kiri kanan sang pria. Julian tampak canggung karena di ujung sana, Emilia sedang menatap sendu dan memilih untuk pergi ke arah berbeda. Julian hendak mengejar namun tangan Maggie yang melingkar di lengannya membuatnya tidak bisa berkutik. Lagipula, Emilia juga yang meminta agar pernikahan ini tidak diketahui siapapun.


"Hmm, aku harus pergi. Maaf," Julian menampik pelan tangan Maggie yang memeluk lengannya.


"Aku harus pergi. Maaf," Julian mempercepat langkahnya mengejar sang istri yang dipastikan semakin kesal karena kehadiran Maggie yang tiba-tiba memeluknya.


"JULIAN! JULIAN!" Teriakan wanita berambut pirang tersebut diabaikan begitu saja oleh Julian. Lelaki itu sibuk mencari sang istri kesana kemari sambil menghela napas berkali-kali. Namun sayangnya, yang dicari tidak juga menampakkan batang hidungnya.


"Aah," Dia lupa kalau dia punya ponsel. Karena nama Emilia ada di dalam daftar pertamanya, hanya menekan angka satu, panggilan pun langsung terhubung ke nomer Emilia.


Cukup lama Julian mendengar nada sambung dari ponsel Emilia, hingga akhirnya panggilannya pun diterima juga.


"Sayang, kamu dimana?" Julian tersenyum lega karena Emilia mau menerima panggilannya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu sudah selesai urusannya dengan wanita itu?" Emilia justru balik bertanya namun dengan nada penuh curiga.


"Wanita itu? Ohh, namanya Maggie. Dia salah satu partner bisnisku." Julian menggaruk tengkuknya sambil tersenyum simpul.


Untuk pertama kalinya, Julian merasa kalau pertanyaan Emilia lebih ke nada cemburu dibandingkan marah.


"Wah, kalian tampaknya sangat akrab ya. Sampai sudah memanggil nama saja." Julian bisa melihat ekspresi wajah istrinya yang cemberut dibalik ucapannya.


"Kami sudah lama bekerja sama dan itu semua hanya urusan pekerjaan. Kamu dimana? Aku akan menyusul kamu." Ucap Julian dengan nada lembut.


"Julian! Kamu disini ternyata." Maggie berhasil mengejar Julian dan suaranya jelas terdengar oleh Emilia di ujung telpon.


"Cih, sudahlah, kamu urus saja partner bisnis kamu. Aku mau keliling sendirian saja." Emilia mematikan panggilan telpon hingga Julian dibuat geram jadinya. Pria itu memejamkan matanya sejenak lalu menghela napas panjang.


"Kamu kenapa sih? Apa ada masalah besar di kantor?" Maggie mengerutkan alisnya dan bersikap seolah-olah peduli dan penuh perhatian pada pria tampan dengan janggut yang cukup lebat dan kumis tipis itu.


"Maggie, maaf aku sedang tidak ingin ditemani. Sebaiknya kamu ikut kembali dengan rombongan kamu."


"Rombongan? Kenapa itu jadi rombongan? Aku kesini seorang diri." Senyum lebar terlihat jelas di bibir wanita bermata biru dan berambut pirang tersebut. "Julian, bagaimana kalau aku temani kamu keliling tempat ini. Aku butuh bantuan kamu untuk menjadi guide aku disini. Okay?"


"Not okay, sorry." Julian tersenyum sambil mengerutkan bibirnya. Namun, Maggie justru tampak kecewa.


"Julian, please. Apa kamu tidak kasihan padaku?" Maggie memberikan tatapan memelas, berharap pria yang sulit didekati itu mau melunak hatinya dan bersedia menemaninya.

__ADS_1


__ADS_2