If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
61. Perempuan Berkepang Dua


__ADS_3

Netta yang menyaksikan rencana jahat itu tersenyum lebar penuh kemenangan meski rencana itu belum dieksekusi.


Kedua pria itu keluar dari rumah pribadi Roy dengan membawa misi rahasia nan licik yang harus segera dilakukan kalau ingin setengah upahnya dilunasi Roy.


"Setelah hari ini, tidak ada lagi lelaki yang akan menjaga Emilia. Dan, rencana-rencanaku berikutnya akan berjalan mulus. Aku harus mendapatkan kembali semua hak-hakku setelah menikahi wanita itu. Cih, tidak aku sangka ada hari dimana aku menjadi sangat bergantung padanya." Roy mengepulkan asap putih dari sebatang rokok yang mulai menjadi rutinitasnya sejak diputuskan pertunangannya oleh Emilia.


Hari-harinya menjadi berbeda seratus delapan puluh derajat. Bukan karena dia menyesal atau merasa kehilangan, tapi karena semua fasilitas dari ayahnya semakin dibatasi karena Roy tidak jadi menikah dengan Emilia. Entah apa yang menyebabkan ayahnya begitu menyukai Emilia hingga tidak ingin bermenantukan wanita lain selain Emilia.


***


Sebuah bangunan sekolah menengah tampak masih sepi karena baru ada satu pelajar yang tiba di dalam kelas. Lastri, nama pelajar tersebut adalah seorang siswi yang selalu datang paling pagi diantara teman-teman lainnya karena jarak rumahnya yang jauh dari sekolah, membuatnya harus berangkat setelah menunaikan adzan Subuh.


"Lastri, kamu sudah datang? Kamu … sudah sarapan, belum?" Seorang pelajar lelaki yang juga baru datang, langsung masuk ke dalam kelas yang sama dengan pelajar perempuan yang mengepang rambutnya menjadi dua.


"Arka, kamu juga tumben datang pagi-pagi." Arka, sang teman sekelas biasanya datang sebelum bel sekolah berbunyi. Tapi, kali ini datang lebih pagi dari biasanya.


"Oh, aku piket hari ini. Jadi aku harus pagi-pagi datang. Hehehe," Arka menggaruk tengkuk lehernya dan tersenyum malu-malu.


"Ohh," Lastri membalas ucapan Arka dengan senyuman yang sama.


Satu persatu teman-teman sekelas mereka berdatangan hingga matahari mulai meninggi dan bel sekolah pun berbunyi. Tanda pelajaran untuk hari ini akan segera dimulai hingga jam istirahat pertama berdentang.

__ADS_1


Selama pelajaran berlangsung, ada sepasang mata yang mencuri-curi pandang seorang anak perempuan berkepang dua yang duduk di dekat tembok di barisan kedua. Dia adalah Arka yang sesekali menengok ke Lastri yang jarak duduk diantara mereka cukup jauh namun sangat strategis untuk Arka karena bisa melihat Lastri dengan sangat jelas dari arah tempat duduknya.


Perasaan aneh dan selalu ingin melihat wajah Lastri mulai muncul di hati Arka saat kemarin Lastri membantunya mengobati luka Arka saat terjatuh dari motor yang biasa dikendarainya pulang pergi sekolah.


Dengan telaten, Lastri membantu Arka mengangkat motor yang tergeletak di jalanan hingga tidak menindih kakinya lagi. Kaki Arka yang berdarah dibalutnya menggunakan sapu tangan.


"Hei, melamunin siapa kamu? Dilempar kapur nanti sama bu Ida, baru tahu rasa." Bowo yang duduk di sebelah Arka berbisik pada teman semejanya yang melihat buku di atas meja tapi dengan tatapan kosong.


"Bowo! Ngagetin saja kamu." Arka tersentak kaget saat lengannya disenggol cukup keras.


"Itu bu Ida panggil kamu dari tadi." Bowo menunjuk ke arah depan kelas dengan gerakan ekor matanya.


"Apa? Mampus aku!" Arka melihat ke arah depan dengan kepala tegak lurus. Benar saja! Bu guru yang terkenal killer itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Arka tanpa berkedip. Arka menyeringai takut-takut.


"Diam kamu!" Arka menatap Bowo dengan sorot mata kesal. Dia berhasil dipermalukan di depan kelas, terutama di hadapan Lastri yang menatapnya dengan keheranan. Arka tidak akan pernah melupakan momen tadi seumur hidupnya.


***


"TIDAAAAAK!" Arka berusaha berlari untuk menyelamatkan dua penumpang yang masih terjebak di dalam mobil yang bergulingan di jalanan. Namun, ledakan mobil yang tiba-tiba membuatnya terpental ke belakang. "LASTRIIIIII!"


Semua kendaraan yang melintas dan berada di sekitar langsung menjauh dan berhenti untuk menonton kecelakaan mobil antara sedan dan bus akibat supir bus yang mengantuk sehingga menabrak mobil sedan yang sedang melaju di depannya sehingga mobil sedan itu terguling beberapa kali hingga akhirnya meledak dalam hitungan detik.

__ADS_1


Arka yang berada di mobil berbeda, berusaha menyelamatkan cinta pertamanya dan sang suami yang hanya berdua berkendaraan. Mereka bermaksud ingin menghadiri undangan pernikahan teman sekolah mereka dan berjalan beriringan menggunakan mobil masing-masing. Arka dengan istrinya dan Lastri dengan suaminya.


Namun, malang tidak terhindar. Lastri dan sang suami langsung dinyatakan meninggal saat kecelakaan ditempat. Arka duduk bersujud menatap mobil yang masih meletup-letupkan api ledakan. Air mata Arka tumpah deras sambil memanggil nama Lastri berulang kali. Sonia yang berdiri di sebelah sang suami yang menangis histeris, semakin kesal dan marah karena suaminya sudah tidak sungkan lagi menunjukkan isi hatinya di hadapan dirinya dan orang banyak. Oleh karena itu, Sonia sangat membenci Emilia dan justru sebaliknya, Arka sangat menyayangi Emilia. Karena wajah dan semua yang ada di diri Emilia seperti tiruan hidup Lastri yang akan selalu membuat Arka teringat akan sosok cinta pertama yang tidak pernah sempat dia ungkapkan isi hatinya.


***


"Apa masih ada dokumen yang harus aku tandatangani?" Julian baru selesai menorehkan tanda tangannya di atas selembar kertas kontrak yang dibawa sekretarisnya.


"Sudah selesai, pak. Terima kasih." Ucap sekretaris itu dengan senyum termanisnya. Siapa yang tidak ingin mendapatkan perhatian seorang bos yang tampan, kaya raya, postur tinggi menjulang, dan … single. Setidaknya itu yang mereka percayai saat ini.


"Kalau begitu, tolong panggilkan nona Emilia." Ucap Julian sambil menyandarkan punggungnya di belakang kursi hitam kebesarannya.


"Baik, pak." Jawab sekretaris itu sambil memiringkan dagunya. Ini sudah kedua kalinya bos meminta nona Emilia untuk datang ke ruangan kantornya. Ada sesuatu yang mengusik hatinya namun dia tidak tahu apa.


"Bu Emilia, dipanggil pak Julian ke kantornya." Sekretaris itu menelpon Emilia dari alat komunikasi yang ada di atas mejanya.


"Oh, ada apa ya?" Emilia yang sedang menghitung tabel yang ada di layar laptopnya, langsung mengernyitkan alisnya.


"Aku tidak tahu. Ditunggu segera ya, bu." Ucap sekretaris tersebut lalu menutup telponnya.


"Apa-apaan sih, Julian? Kalau begini terus bisa-bisa hubungan kita bakal terbongkar. Eh tapi bukankah kita sudah sepakat untuk memberitahukannya ke umum? Tapi bukan secepat ini juga kaan?" Emilia berperang dengan batinnya sebelum akhirnya berdiri dan melangkah menuju ruangan Julian, bos sekaligus suaminya.

__ADS_1


Tok tok tok!


"Masuk," Suara sahutan dari dalam membuat Emilia mengambil napas dan menghembuskan napas terlebih dahulu sebelum memutar kenop pintu berwarna perak itu.


__ADS_2