
Ya, pergilah kalian semua dari kehidupanku. Aku tidak butuh satu wanita. Aku bisa mendapatkan banyak wanita kalau aku mau."
Gluk Gluk Gluk!
"Hahhhhhh,"
Gelas kelima pun habis ditenggak isinya dalam sekali napas.
Sedangkan di tempat yang sama namun lantai yang berbeda, seorang wanita cantik sedang melakukan negosiasi bisnis dengan salah satu kliennya yang menginginkan pembicaraan kesepakatan bisnis mereka diadakan di klab malam. Klien prianya ini berharap setelah selesai bernegosiasi, dia bisa melanjutkan acara menuju lantai tari dan minum-minum bersama wanita yang duduk di hadapannya.
"Dengan demikian, pembicaraan bisnis kita telah mencapai kesepakatan. Terima kasih atas waktu dan kerjasamanya, tuan Erik. Berkas-berkas finalnya akan saya selesaikan besok dan akan langsung saya kirimkan secepatnya." Ucap sang wanita yang mengenakan setelan blazer dan rok sewarna sebatas lutut warna navy itu.
"Nona Sophia, bagaimana kalau kita melantai satu atau dua lagu sebentar? Kebetulan kita ada disini, sayang kalau tidak dimanfaatkan." Ucap pria yang usianya tidak jauh dari wanita bernama Sophia itu sambil tertawa terkekeh.
"Maaf, saya datang kesini untuk bekerja, bukan bersenang-senang. Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih atas kerjasamanya." Sophia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Pria yang mengajak Sophia tadi tersenyum lirih karena wanita yang dihadapinya ini ternyata bukan wanita yang mudah dibujuk rayu.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Atau, anda ingin dikawal pulang?"
"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri."
Sophia meninggalkan ruangan khusus rapat itu dan bergegas menuju mobil yang diparkirkan di basement.
"Aahhhh," Sophia mendelikkan mata karena tubuhnya ditabrak oleh orang mabuk yang berjalan oleng kesana kemari.
"Hehehe, maafkan pria pecundang ini, nona. Kalau jalan hati-hati, jangan menabrak kesana kemari. Hehehe,"
__ADS_1
"Dasar pemabuk!" Sophia mendecih dan bangkit dari jatuh duduknya. Keduanya sama-sama terjatuh duduk diatas lantai. Beruntung tidak ada orang sama sekali di lorong ini sehingga mereka terhindar dari injakan lalu lalang orang yang lewat.
"Ahhhhh,"
Brakkk!
Pria pemabuk itu jatuh lagi sebelum bisa bangkit berdiri. Sophia yang hendak meninggalkan lorong ini, menghela napas kasar dan kembali ke hadapan pria yang pasrah menyandarkan punggungnya di dinding sampai ada yang mau menolongnya.
"Apa kamu kesini bawa teman?" Sophia berjongkok menyamakan tingginya dengan sang pria yang matanya sayup-sayup melihat. Pria itu menggeleng lemah dan kepalanya tertunduk lemas.
"Fyuhhh, dimana mobil kamu? Aku akan antarkan pulang." Entah darimana keberanian Sophia berbicara dengan pria asing, ditambah lagi hendak mengantarkannya pulang.
"Aku menginap di hotel." Jawab pria itu lirih.
"Jangan pedulikan aku. Pergilah!" Pria pemabuk itu mendorong Sophia hingga Sophia jatuh ke belakang, untuk kedua kalinya.
"Aaagghh! Dasar pemabuk menyusahkan!" Umpat Sophia pada pria tersebut.
"Ya, kamu benar. Aku memang menyusahkan. Oleh karena itu, istriku pun sampai meninggalkan diriku dan selingkuh dengan lelaki lain. Hahahaha, sungguh sangat ironis!"
Sophia mendengar ocehan pria pemabuk ini justru dengan kerutan di alis dengan rasa mengasihani. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan. Sophia pun terpaksa meninggalkan pria pemabuk itu. Namun, dia menitipkan pesan kepada seorang petugas klab malam untuk membantu membawa pria itu masuk ke dalam mobilnya.
—--
Emilia merasakan pipinya mendapat ciuman hangat dan lembut. Entah siapa yang menciumnya karena kedua matanya sangat berat untuk dibuka. Dalam keadaan mata terpejam, dia masih ingat dengan jelas apa yang terjadi sebelumnya. Julian membuatnya tidak bisa tidur semalaman meskipun pria itu tahu betul kalau dia harus pergi-pergi sekali ke bandara.
__ADS_1
Emilia membuka matanya dan tangannya menggapai-gapai sisi kasur di sebelahnya. Sudah kosong, tidak ada lagi Julian. Dengan selimut yang masih membungkus tubuh polosnya, Emilia berusaha turun dari tempat tidur namun tiba-tiba dia berteriak kesakitan.
"Aaahh, pinggangku," Emilia merintih merasakan punggungnya seperti mau patah dan susah untuk digerakkan. Alhasil, dia harus duduk menunggu beberapa saat hingga akhirnya dia bisa bangun dan berjalan perlahan menuju kamar mandi.
"Julian pasti sudah berangkat dari tadi. Dan, aku sebagai istrinya malah tidur pulas saat suami berangkat kerja. Huhhhh, sungguh istri yang sangat hebat. Lagipula, dia juga yang membuat aku tidak bisa terbangun pagi. Rasakan sendiri hasil perbuatannya!" Rutuk Emilia sesaat sebelum merendam dirinya di dalam bathtub.
"Eh, apa ini?" Selembar kertas menempel di cermin atas wastafel.
"Selamat pagi, istriku. Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah berada di bandara untuk bersiap-siap menuju Singapore. Aku ingin sekali membawa kamu karena dua malamku akan terasa sepi dan dingin tanpa kehadiran kamu disisiku."
"Cih, sejak kapan pria kutub es itu bisa berkata manis dan pintar merayu?" Emilia berhenti sejenak membaca dan tersenyum sipu malu membaca untaian kalimat yang ditulis sang suami lewat pena warna hitam yang selalu ada di saku kemejanya.
"Rencana awalku ke Singapore hanya tiga hari dua malam. Tapi, kemungkinan aku akan langsung ke Italy. Mamiku tiba-tiba sakit dan memintaku untuk datang secepatnya. Segera setelah semua urusan di Italy beres, aku akan langsung pulang. Selama aku tidak ada, jagalah dirimu baik-baik disana. Sampai bertemu lagi. Suamimu, Julian."
Emilia langsung berubah raut wajahnya begitu membaca kalimat, "langsung ke Italy".
"Dia tidak bicara sebelumnya kalau akan ke Italy. Apakah maminya benar-benar sakit sehingga dia harus segera kembali ke negara itu?" Pertanyaan Emilia hanya bisa dijawab dengan prasangka-prasangka yang dia buat sendiri. Dia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Namun, ternyata ada kalimat terakhir yang belum Emilia tuntas baca.
"Aku minta supirku untuk membantumu selama aku tidak ada di Indonesia. Aku tinggalkan nomor ponselnya disini. Jangan sungkan untuk meminta apa saja yang kamu butuhkan padanya." Demikian isi keseluruhan surat yang dibuat Julian untuk sang istri.
"Berhati-hatilah dalam perjalanan dan tugasmu. Lekas pulang, okay?" Emilia mengecup lembaran kertas itu dan meletakkanya di dadanya seolah-olah Julian ada di depannya dan memeluk dirinya seperti biasa setiap bangun tidur.
Hari ini adalah hari Kamis yang artinya dua hari menjelang akhir pekan. Emilia baru teringat kalau Netta, sepupunya yang juga selingkuhan Roy itu meminta temu janji siang ini. Tempat yang dipilih oleh perempuan itu adalah sebuah restoran yang ada di dalam mal dekat kantornya.
"Trik apalagi yang akan dia mainkan kali ini? Aku harus waspada karena aku tidak punya siapa-siapa untuk membantuku saat ini. Julian ke luar negeri, Sophia juga sedang tugas dinas luar. Huft, semangat Emilia! Kamu sudah terbiasa sendiri jadi jangan manja hanya karena sekarang sudah menikah." Emilia mengepalkan tangannya dan beranjak menuju kran shower untuk mulai membersihkan tubuhnya.
__ADS_1