
Edwin mengambil kacamata yang sudah disiapkannya di atas meja. Penglihatannya masih normal tapi dia merasa perlu kacamata untuk membuat image dirinya sebagai seorang sekretaris sekaligus asisten pribadi handal di sebuah perusahaan besar.
Dirasa penampilannya sudah cukup rapih dan pantas untuk bekerja di kantor, Edwin mengambil tas ransel berisi segala macam kebutuhan wajibnya seperti ponsel dan dompet. Dengan motor sport satu-satunya dan helm favoritnya, dia menekan gas motor dan meninggalkan kosan yang baru dihuninya kemarin. Jarak dari kosan baru dan kantor barunya hanya beberapa menit, namun kemacetan kota Jakarta selalu menjadi momok yang menakutkan bagi semua karyawan.
Sementara itu di tempat berbeda, dua wanita cantik dengan menunggu giliran lift selanjutnya sambil berbincang-bincang.
"Sophia, kamu tahu tidak kalau hari ini akan ada sekretaris pribadi untuk pak Julian?" Emilia menyesap kopi latte yang dibelinya di coffee shop dekat kantor.
"Oh ya? Laki-laki atau perempuan?" Tanya Sophia dengan wajah sedikit antusias.
"Laki-laki," Jawab Emilia lagi.
"Cih, bos kita itu benar-benar mengukuhkan image gay permanen."
"Uhuk uhuk," Kopi yang baru saja ditelan Emilia mendadak menyangkut kembali di tenggorokannya.
"Eh kamu kenapa? Hati-hati donk." Sophia memberikan tissue yang selalu dia bawa di dalam tas tangannya.
Andaikan kamu tahu kalau pria gay yang kamu katakan itu semalam telah membuatku tidak bisa tidur dan hampir membuatku tidak bisa bangun pagi ini. Gumam Emilia dalam hati.
"Terus, sekretaris lamanya kemana?" Tanya Sophia lagi.
"Dipindah ke divisi lain per hari ini."
"Hahahaha, syukurin! Cewek gatel seperti dia memang cocoknya punya bos gatel juga." Sophia menyeringai sinis. Emilia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya itu.
Tanpa mereka sadari, pria yang mereka bicarakan ada di belakang mereka berdua. Sang bos dan sekretaris pribadinya sudah berdiri dengan sikap tegap sempurna di belakang masing-masing wanitanya. Untuk kali ini Julian ingin menggunakan lift yang biasa dipakai para karyawannya dan keputusannya itu sudah benar karena dia jadi tahu kalau gosip gay dirinya masih santer terdengar.
Pintu lift pun terbuka dan kedua wanita itu masuk ke dalamnya diikuti dua pria di belakangnya dan tiga orang karyawan wanita lainnya yang saling melempar senyum dengan rona wajah tampak bahagia curi-curi pandang ke dua pria yang tampan dan gagah nyaris sempurna itu.
__ADS_1
Emilia menutup mulutnya yang menganga lebar ketika menyadari bahwa pria yang berdiri di depannya adalah Julian, begitu juga dengan Sophia yang menyembunyikan wajahnya dengan tas tangan yang dipegangnya karena saking malunya telah mengatakan kalau bos mereka adalah gay.
"Mati aku!" Ucap Sophia dengan bahasa bibir yang diberikan ke Emilia. Emilia hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat.
Sophia justru tidak menyadari kalau pria dengan setelan jas hitam dan kacamata yang berdiri di depannya adalah Edwin, kekasihnya. Yang dia tahu hanyalah Julian yang dia harap tidak mendengar apa yang dia baru saja katakan.
Julian dan Edwin sama-sama diam sambil tersenyum tipis menikmati rasa tertekan yang di derita masing-masing wanitanya yang terlihat jelas di pantulan kaca lift yang ada di hadapan mereka.
Ting!
Pintu lift terbuka dan tiga wanita berhenti di lantai yang mereka tuju. Pintu lift kembali tertutup dan tinggallah dua pria dan dua wanita yang masih berada di dalamnya. Julian dan Edwin berdiri menjauh ke dekat pintu lift tanpa membalikkan wajah mereka ke dua wanita yang berdiri di belakang mereka.
"Selamat pagi," Julian membuka percakapan pada Emilia dan Sophia yang berdiri ragu-ragu di belakang mereka.
"Pa-pagi, bos." Kedua wanita itu serempak menjawab dengan agak gugup.
"Baik, pak. Selamat bergabung, pak ..." Emilia tambah bengong dan mulutnya kembali menganga lebar. "Kamu?"
"Ahhh, kita bertemu lagi, nona. Aku ..." Belum usai Edwin memperkenalkan diri, mulutnya ikut menganga lebar ketika melihat mata Sophia dan matanya beradu dalam kebingungan luar biasa."
"Edwin? Apa-apaan ini? Kamu bekerja di kantor ini? Kenapa kamu tidak bilang padaku?" Sophia bertanya dengan nada masih tidak percaya.
"Aku juga tidak tahu kalau kamu bekerja di tempat ini." Giliran Edwin yang bingung. Emilia dan Julian hanya saling menatap diam-diam ikut sedikit bingung. Julian bingung karena sahabatnya kenal dengan karyawannya, terlebih lagi ke istrinya.
"Kalau begitu, Sophia, kamu saja yang perkenalkan Edwin ke karyawan lain. Emilia, ikut aku ke ruanganku sebentar."
Ting!
Bertepatan dengan itu, pintu lift dibuka dan Emilia berjalan agak cepat mengikuti langkah panjang Julian yang sudah lebih dulu berada jauh di depannya.
__ADS_1
Julian langsung membuka pintu ruangannya dan Emilia yang menutup pintu dari dalam.
"Sayang, kamu kenal Edwin?" Julian menarik tangan Emilia dan mengurung tubuh sang istri di dinding dengan kedua tangan kokohnya.
"Lepaskan dulu tanganmu! Nanti ada yang masuk, aku malu."
"Tidak akan ada yang masuk tiba-tiba karena mulai sekarang Edwin yang akan menjadi sekretarisku." Jawab Julian dengan seringai nakalnya. "Sekarang, jawab pertanyaanku." Julian mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Hidung mancungnya sudah mengenai pipi Emilia yang sedang menahan napas dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Baiklah, aku akan cerita. Tapi, jangan seperti ini." Emilia menahan dada Julian yang sudah menempel erat di dadanya.
Julian pun perlahan menarik tubuhnya dan merapihkan kembali jasnya sambil memasukkan dua tangannya di dalam kantong celana.
"Pria yang kamu ambil sebagai sekretaris pribadi itu ... adalah pria yang pernah menolong Sophia saat kecelakaan dan sekarang mereka sedang berpacaran." Ucap Emilia dengan suara agak lega karena sudah bisa berkata dengan lepas.
"Pacaran? Mereka berdua pacaran?" Julian mengulangi pertanyaannya sendiri.
"Iya,"
Selama beberapa detik, suasana menjadi hening.
"Dan, dia tahu kalau kita sudah menikah. Maksudku Edwin, dia sudah tahu kalau kita adalah pasangan suami istri. Kalau Sophia?"
"Sophia belum tahu kalau kita sudah menikah." Jawab Emilia pelan. Bukan hanya Sophia, tapi semua karyawan belum tahu kalau bos CEO mereka sudah menikah dengan salah satu karyawannya sendiri yang berstatus sebagai seorang manajer.
"Kapan kamu akan memberitahukan semua orang kalau kita adalah sepasang suami istri?" Julian bertanya pada istrinya.
"Haaah, kalau semua orang sudah tahu kalau kita suami istri, maka aku akan dikeluarkan dari kantor, sesuai peraturan kantor ini. Lalu, aku akan bekerja dimana? Aku masih ingin bekerja dan mendapatkan uang untuk membayar hutangku padamu." Ucap Emilia dengan suara lirih.
"Hutang lagi. Kamu tahu kalau diantara suami istri itu tidak ada hutang. Dan, aku sudah menganggap kalau hutang kamu lunas sejak menikah denganku." Jawab Julian tegas.
__ADS_1