If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
29. Masalahmu Juga Masalahku


__ADS_3

"Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan suami yang lebih segala-galanya dariku! Lebih mapan, lebih hebat, lebih kaya, lebih tampan, bahkan masa depanku pun lebih terjamin." Jawab Roy dengan semangat menggebu-gebu.


"Cih! Penuh percaya diri sekali! Silahkan cari wanita bodoh di luar yang mau dibodohi dengan tikus got macam kamu!" Emilia mendorong tubuh Roy ke belakang dengan gerakan tiba-tiba lalu Emilia berhasil masuk melewati pintu tap absen yang hanya bisa dibuka dengan menggunakan kartu karyawan.


"EMILIA!!!" Suara Roy yang menggelegar membuat semua mata tertuju padanya dengan berbagai persepsi. Roy menggeram kesal karena tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan lagi hari ini. Waktu terasa begitu mencekik baginya bagaikan bom waktu yang kapan saja bisa meledak.


Ayahnya benar-benar membatasi semua fasilitas yang biasa dia gunakan. Meskipun dengan gajinya sendiri, Roy bisa melakukan semua itu, tapi tetap saja fasilitas dari ayahnya sangat dia butuhkan untuk mobilitas dan gaya hidupnya sehari-hari.


"Sial! Awas kamu, Lia! Aku tidak akan melepaskan kamu lagi saat bertemu. Aku akan mengambil keperawananmu sehingga kamu tidak akan bisa lagi lepas dariku." Roy mengepalkan tangannya dan membalik badan untuk meninggalkan gedung kantor ini.


DUKK!


"Aduh, hei kamu punya mata tidak?" Hati Roy yang panas menjadi semakin panas karena tubuhnya bertabrakan dengan seseorang di belakangnya. Alih-alih yang dia tabrak terjatuh ke lantai, justru dia sendiri yang hampir jatuh, sedangkan pria yang ditabraknya berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


"Ahhh, kamu yang di hotel itu ya? Hey, kamu juga yang mengganggu aku dan Emilia yang sedang berbicara saat itu." Sorot mata sinis Roy dan penghinaan pada pria yang diajaknya berbicara, menunjukkan dengan jelas perbedaan kelas dan attitude mereka.


"Mengambil keperawanan Emilia? Sepertinya kamu sudah tidak sayang nyawa kamu lagi." Dia adalah Julian dengan suara berat namun tenang dan seringai iblisnya sempat membuat bulu kuduk Roy meremang.


"Aku adalah tunangannya. Aku berhak untuk melakukan apapun padanya." Ucap Roy tidak kalah sengit membalas.


"Oya? Tunangan yang berselingkuh dengan sepupu tunangannya lalu memiliki anak. Dan, yang aku tahu kalian sudah tidak bertunangan lagi karena Emilia sudah melunasi hutangnya pada kalian. Bukankah begitu? Atau aku harus bertanya langsung pada orangtuamu, anak manja?" Ucapan Julian yang menohok benar-benar membuat darah Roy mendidih dan serta merta pria itu melayangkan kepalan tinjunya ke arah wajah pria yang sudah berani menghina harga dirinya. 


Julian yang memiliki kewaspadaan dan ketahanan tubuh lebih baik dibandingkan Roy, berkelit menghindar ke samping tanpa perlu menggunakan tangannya. Roy pun jatuh tengkurap di atas lantai dan disaksikan banyak karyawan kantor yang melihatnya. 

__ADS_1


Seorang petugas keamanan menghampiri Julian dan Roy yang membuat massa berkerumun tidak seperti biasanya.


"Mister Julian," Salah seorang petugas menghampiri Julian dengan wajah takut-takut.


"Seret orang tidak berguna ini keluar dari gedung dan jangan biarkan dia masuk sampai kapanpun." Ujar Julian dengan tatapan tajam membara.


"Ba-baik, mister." Lelaki petugas keamanan itu pun mendekati Roy dan memintanya untuk bangun berdiri sendiri. "Pak, harap berdiri dan keluar dari gedung ini segera." Ucap petugas itu lagi.


"CIH! Siapa juga yang mau masuk ke tempat terkutuk ini!" Dengan wajah menahan malu, Roy berdiri dan bergegas pergi berjalan keluar sambil mulutnya terus memaki Julian dan semua orang yang melihatnya dengan tatapan meremehkan.


Julian menghela napas panjang dan langsung berjalan menuju lift khusus untuk menuju langsung ke lantai tempat kantornya berada.


Setelah keluar dari lift, dia mendapati wanita yang membuatnya tertahan di lantai satu tadi, berdiri dan menatapnya dari jarak kurang lebih sepuluh meter. Julian sempat terpana dengan sikap Emilia yang baru kali ini berani menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip. Julian berjalan perlahan dan menghampiri wanita yang masih setia berdiri itu dan membuat jarak kurang dari dua meter.


"Apa yang dia katakan padamu?" Emilia ternyata sudah mengetahui kalau Roy membuat kerusuhan di bawah dan membawa-bawa namanya untuk dipermalukan. Salah seorang karyawan yang naik lebih dulu memberitahukan berita ini hingga sampai ke telinganya.


"Hanya ucapan omong kosong," Ujar Julian sambil mengangkat sedikit kedua bahunya. Sorot mata Emilia meredup dan bibirnya mengatup seolah sedang menahan kegundahan yang ada di dalam dadanya. Wajahnya tertunduk lemah.


Emilia tidak ingin Julian mengetahui lebih banyak tentang masa lalunya. Dan, dia sangat geram mengetahui Roy semakin nekat ingin memilikinya dengan berbagai cara.


"Ke ruanganku sekarang." Julian berkata dan meninggalkan Emilia yang masih berdiri namun kini wajahnya menegak dan bingung.


Emilia pun mematuhi perkataan Julian dan berjalan menuju ruangan khusus CEO tersebut, setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Selamat …. uhhhh," Emilia kaget bukan main saat tangannya ditarik dan kini dia sudah berada di pelukan pemilik ruangan ini, Julian Miller.


"Menangislah kalau kamu ingin menangis. Jangan simpan semua hal menyedihkan sendirian. Sejak kamu menikah denganku, masalahmu juga masalahku." Julian mendekap tubuh Emilia dan berbisik di telinganya dengan lembut. 


Emilia yang tidak terbiasa dengan perlakuan seperti ini, hanya bisa diam dan melebarkan matanya bingung. Namun, lama kelamaan tangannya yang semula tergantung di kedua sisinya, memeluk punggung lebar dan bidang milik sang suami kontrak.


"Hiks … hiks …," Emilia menangis terisak dan berusaha sebisa mungkin ditahannya agar tidak terdengar keluar. Julian tersenyum dan merasa sedikit lega karena Emilia mulai terbuka meski belum sepenuhnya. Julian mendekap lebih erat lagi hingga dada keduanya menempel erat dengan setelan kerja sebagai penghalangnya.


"Pulanglah lebih cepat sekarang. Aku mengijinkannya. Tunggu aku dirumah, okay. Aku akan memasakkan makanan yang akan kamu rindukan saat aku tidak ada." Ucap Julian sambil merenggangkan pelukannya. Tampak mata sang istri masih menggenang dengan air mata dan wajahnya memerah. Julian mengusapnya dengan ibu jarinya yang panjang dan lembut terasa.


Emilia menggeleng pelan.


"Aku banyak pekerjaan. Aku tidak …,"


"Aku tidak menerima penolakan. Pulang sekarang atau haruskah aku memecatmu agar kamu patuh?" Ucap Julian sambil mengecup kedua kelopak mata Emilia yang reflek terpejam saat Julian mendekatkan wajahnya.


Emilia pun ijin pulang dengan alasan kurang enak badan. Semua karyawan memaklumi ucapan manajer mereka itu setelah apa yang terjadi di lantai satu tadi.


"Istirahatlah dirumah. Nanti aku mampir pulang kerja ya," Sophia memeluk sang sahabat dan mengusap-usap punggungnya sambil mendekapnya erat.


Emilia baru ingat kalau dia belum memberitahu dimana dia tinggal sekarang ke Sophia.


"Tidak usah repot-repot. Aku baik-baik saja dan besok aku akan kembali masuk bekerja." Ucap Emilia dengan senyum dipaksakan.

__ADS_1


__ADS_2