
Emilia memilih untuk tidur karena tubuhnya masih belum fit benar untuk dibawa perjalanan jauh. Julian merasa sedikit menyesal karena terlalu memaksakan keinginannya sejak semalam hingga tadi pagi.
Akhirnya, setelah menunggu perjalanan cukup jauh, mereka sampai di depan rumah yang halaman terasnya sangat luas. Sekitar enam mobil bisa diparkir di sana dalam posisi kanan kiri. Namun, rumahnya sendiri cukup sederhana yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu.
Emilia dan Julian keluar dari mobil hampir bersamaan. Meskipun suasana sudah cukup gelap karena menjelang malam, Emilia bisa merasakan kalau tidak ada aktivitas di dalam rumah. Lampu petromak yang belum dinyalakan, membuat suasana di sekitarnya menjadi sangat gelap.
"Apa kamu yakin nenek kamu ada dirumah?" Julian menghampiri sang istri dan mendekap pinggangnya. Emilia sempat berjengit kaget. Pria ini semakin lama semakin menunjukkan kemesraan padanya dimanapun tanpa memandang tempat dan orang-orang sekitar.
"Aku akan masuk melihat. Mungkin nenek belum sempat menyalakan lampu." Emilia menurunkan tangan Julian dan melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah yang hanya dihuni oleh sang nenek seorang diri.
Julian mengikuti dari belakang, sementara sang supir sewaan menurunkan bagasi penumpangnya dan meletakkannya di depan rumah.
"Mister, saya akan menginap di salah satu rumah saudara saya dekat sini. Kalau mister ada keperluan lagi, bisa telpon saya. Ini kartu nama saya." Supir yang usianya sekitar lima puluh tahun itu memanggil Julian mister karena perawakan Julian yang tidak sama dengan pria Indonesia, dan bahkan cenderung seperti turis mancanegara.
"Baiklah, terima kasih pak." Julian mengeluarkan beberapa lembar uang merah untuk diberikan kepada bapak supir tersebut.
"Terima kasih, mister." Pria paruh baya itu tersenyum lebar dan sumringah mendapatkan uang dalam jumlah besar.
Julian mengernyitkan dahinya karena tidak mendengar suara sang istri dari dalam rumah. Begitu dia mendorong pintu yang sudah terbuka untuk lebih lebar lagi, dia melihat istrinya sedang berdiri memegang kertas seperti membaca sesuatu disana.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?"
"Hahh?" Emilia yang tidak terbiasa dipanggil sayang, menoleh ke arah sumber suara. "Oh, nenek menulis pesan singkat di selembar kertas kalau hari ini nenek akan pergi berladang dan menginap di rumah salah satu temannya yang dekat ladang." Emilia menunjukkan kertas berisi tulisan tangan sang nenek. "Kamu pasti heran kenapa nenek bisa menulis serapih dan secantik ini. Nenek aku itu mantan guru sekolah saat masih muda. Jadi sedikit banyak, nenek masih bisa menulis walaupun singkat." Ucap Emikia sambil mengambil koper di depan rumah dan meletakkannya di dalam. Wanita itu pun mengunci pintu dan berjalan menuju dapur.
Semua masih tampak sama di dalam dapur ini. Saat dia menikah dengan Roy di kehidupan pertamanya, dapur ini menjadi saksi bisu pertengkarannya dengan Roy dimulai dan semakin memanas.
Pria itu ingin menjual rumah neneknya ini dengan alasan untuk mencicil hutangnya pada orangtua Roy. Namun, Emilia menolak karena hanya ini satu-satunya rumah peninggalan kakek. Nenek hanya duduk mendengarkan tanpa bisa berbuat banyak sambil menangis tersedu-sedu.
"Dengan uang hasil penjualan rumah ini, hutang kalian yang menggunung itu akan berkurang walaupun tidak banyak. Lagipula untuk apa rumah reyot ini dipertahankan? Paling juga cuma laku beberapa juta. Mana sini surat-suratnya?" Roy bertanya dengan intonasi nada berteriak kencang. Suasana malam yang cukup sunyi menjadi pecah karena teriakan pria yang tidak pernah menyenangkan hati Emilia selama menikah. Beruntung jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya berjauhan, sehingga tetangga tidak akan mendengarnya.
"Aku tidak akan pernah menjual rumah warisan kakek ini. Kamu jangan gila!"
Nenek semakin menangis histeris mendengar cucu satu-satunya dihina dan dipermalukan. Emilia yang sudah mati hatinya untuk pria bernama Roy itu menggemeretakkan gigi kesal karena harus menahan hinaan ini sejak awal nikah sampai sekarang.
"Kalau begitu, ceraikan saja aku! Kamu tahu kenapa kita tidak punya anak? Karena kamu tidak mau memeriksakan kondisi kesehatan dan kesuburan kamu. Aku sudah periksa dan aku baik-baik saja." Jawab Emilia dengan lantang.
"Perempuan kurang ajar! Berani sekali kamu menjawabku. Jadi kamu pikir aku yang mandul? HAH?!" Roy hampir saja menampar pipi Emilia jika dia tidak teringat ucapan ayahnya.
"Kalau ayah melihat bukti kamu melakukan kekerasan pada istri kamu, ayah akan cabut semua fasilitas yang selama ini ayah berikan ke kamu. Kamu akan ayah usir dari rumah, dan semua aset kamu akan ayah sita." Ancaman dari sang ayah membuat Roy urung melakukan penyiksaan secara fisik pada Emilia.
__ADS_1
Namun, mental Emilia dihajar habis-habisan hingga titik paling berat. Dari perselingkuhan terang-terangan Roy, penghinaan dari ibu mertua dan Roy sendiri juga keluarga besarnya, dikucilkan oleh teman-teman Emilia karena hasutan dari seseorang yang dia tidak tahu, hingga pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya bahkan mungkin pembantu rumah tangga juga kalah sibuknya.
"Kamu kenapa selalu melamun? Katakanlah sesuatu mungkin aku bisa membantu." Julian tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mendekapnya erat.
Suasana yang sunyi, cuaca yang dingin, lampu temaram berasal dari bohlam yang rendah watt nya, dan malam yang hanya terdengar suara jangkrik, membuat jantung Emilia entah mengapa tiba-tiba berdegup kencang.
"Aku tidak apa-apa. Apa kamu mau mandi? Aku akan siapkan air hangatnya." Emilia melepaskan pelukan sang suami dan berdiri menghadap di depannya sambil memaksakan tersenyum.
"Tidak, aku akan menyiapkan sendiri." Jawab Julian dengan ekspresi tidak suka karena pelukannya dilepas Emilia begitu saja.
"Kenapa tampangnya seperti marah begitu? Apa aku berbuat salah lagi padanya?" Gumam Emilia dalam hati.
"Kamu yakin? Disini tidak ada kompor gas apalagi kompor listrik. Semuanya masih manual alias pakai kayu bakar." Emilia berjalan menuju dapur dan menyalakan tungku yang terbuat dari batu bata dilapisi semen dengan tiga lubang diatasnya dan satu lubang di tengah-tengah untuk tempat memasukkan kayu bakar.
Jujur saja, Julian baru pertama kali ini melihatnya. Dia adalah sosok anak yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya. Semua yang dia inginkan, pasti disediakan oleh kedua orangtuanya. Julian bisa saja hanya ongkang-ongkang kaki sambil menikmati semua fasilitas yang dimilikinya. Namun, Julian adalah sosok pria pekerja keras.
Baginya, harga diri seorang lelaki terlihat saat sedang bekerja. Dia pun tidak ingin menjadi pria tidak berguna yang bisanya hanya menghabiskan harta orangtua.
Julian muda sudah bekerja sambilan sejak masih menjadi mahasiswa. Pekerjaan pertamanya adalah menjadi karyawan paling rendah alias sebagai office boy yang menyamar di kantor papinya sendiri. Gaji yang diterimanya dia gunakan untuk ditabung untuk membeli mobil sedan pertamanya yang kemudian dia jual untuk modal usaha.
__ADS_1