If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
23. Satu Kesalahan Sangat Fatal


__ADS_3

Emilia tahu kalau neneknya akan menyinggung soal utang mereka yang jumlahnya lima ratus juta itu pada keluarga Roy. Namun, ucapan neneknya terhenti karena kehadiran Julian di depannya.


Julian hanya mendengarkan saat ini. Belum waktunya dia ikut berbicara. 


"Nenek, aku sudah melunasinya. Jadi, nenek tidak perlu khawatir. Kita tidak punya hutang lagi pada keluarga mereka." Ucap Emilia dengan hati-hati. Dia tidak ingin salah bicara yang mengakibatkan sang nenek akan mengalami serangan jantung. Penyakit yang sudah lama menggerogoti keluarga terdekat satu-satunya itu.


"Dengan cara apa kamu melunasi hutang senilai lima ratus juta itu? Gaji kamu seumur hidup juga belum tentu bisa melunasi hutang sebanyak itu." Ucap nenek.


"Nenek, ijinkan aku untuk ikut berbicara. Perkenalkan nama aku Julian Miller. Aku adalah bos tempat dimana Emilia bekerja dan aku juga suami cucu nenek ini. Kantor kami memberikan keringanan pinjaman hutang pada karyawannya yang menjadi teladan bagi semua karyawan lainnya. Dan, pembayaran hutang tersebut adalah dengan memotong setengah dari gaji istriku setiap bulannya. Sampai kapan? Sampai dia melunasinya." Jawab Julian panjang lebar.


Nenek mendengarkan dengan seksama penjelasan pria yang sudah berstatus suami dari cucunya itu. Menilik dari wajah Julian, sang nenek yang bernama Nur itu bisa melihat betapa ketulusan terpancar disana. Kalau memang Lia sudah menikah dengan orang lain dan urusan hutang terselesaikan, Nur tidak akan mempermasalahkan cucunya menikah dengan siapa.


"Saya sebagai nenek dari Emilia, tidak bisa menyangkal lagi. Kalau memang urusan hutang sudah diselesaikan baik-baik, kami bisa apa. Dan, saya ingin mengucapkan terima kasih pada nak … siapa namanya tadi?"


"Julian, nek." Jawab Emilia.


"Ya, Julian. Saya harap nak Julian mau menerima segala kekurangan Emilia dan bersabar dengan segala sifatnya. Cucu saya ini orangnya sangat mandiri dan selalu menolak menerima bantuan dari orang lain."


"Nenek," Emilia sangat malu mendengar neneknya berkata seperti itu pada Julian. Sebisa mungkin Emilia tidak ingin pria ini tahu keburukannya. Cukuplah yang baik-baik saja dia perlihatkan pada suami kontraknya ini.


"Saya akan selalu menerima segala kekurangan dan kelebihan Emilia. Karena saya juga tidak sempurna." Ucapan Julian membuat bulu kuduk Emilia meremang.


Kemana imej bosnya yang dingin dan tidak peduli? Kemana imej seorang bos yang sangat disegani semua bawahannya? Emilia justru merasa kalau Julian benar-benar mendalami perannya sebagai seorang suami, meskipun hanya kontrak.

__ADS_1


"Saya lega mendengarnya." Nenek Nur lalu kembali duduk dengan tenang. "Saya hanya punya Emilia, begitu juga Emilia hanya punya saya. Sebenarnya saya tidak ingin menikahkan Lia dengan Roy tapi pak Arka sangat meminta Lia untuk menjadi menantunya. Dengan harapan bisa merubah sifat liar dan tidak bertanggung jawab anaknya." Nenek Nur menyeruput sejenak teh manis hangat yang disediakan Emilia.


"Saya menolaknya karena saya tidak ingin menjual cucu saya. Namun, pak Arka berjanji semua hutang akan lunas begitu Emilia menikah dengan Roy. Saya tetap menolaknya. Hingga suatu ketika, pak Roy mengalami serangan jantung mendadak dan saat itu permintaannya adalah Emilia menikah dengan Roy. Apa daya, akhirnya saya yang rapuh dan tidak tahu diri ini menyetujuinya." Nenek Nur menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Entah apa yang dirasakan wanita lanjut usia tersebut. Yang pasti, baru kali ini Emilia mendengar cerita yang sesungguhnya. Julian dan Emilia saling bertukar pandang sejenak, sampai akhirnya Emilia yang menyerah kalah dan memalingkan wajahnya lagi.


"Sial! Keinginan itu datang kembali. Aku harus segera membawanya kembali ke apartemen." Gumam Julian sambil mengeraskan rahangnya.


"Nenek, percayalah. Saya akan menjaga Emilia sebaik-baiknya. Nenek yakinkan itu." Julian berkata dengan penuh percaya diri.


"Terima kasih, nak. Saya senang sekali akhirnya bisa menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada nak Julian,"


"Nenek," Emilia kelepasan menyela. Bagaimana mungkin neneknya yang keras kepala bisa luluh begitu saja?


Ada rasa sedih di hati Emilia begitu mendengar ungkapan kepasrahan neneknya yang telah membesarkan Emilia sepenuh hati. Setelah kedua orangtuanya meninggal, hanya neneknya lah yang merawat dan membesarkannya. Mereka pun saling bergantung satu sama lain hingga akhirnya Emilia telah bekerja dan neneknya merasa tugasnya membesarkan Emilia sampai mandiri, sudah berakhir. Urusan pernikahan, biarlah Emilia yang memutuskan. Nenek Nur tidak mau ikut campur terlalu jauh, sampai suatu ketika pak Arka datang dan memohon padanya untuk memberikan Emilia padanya sebagai menantu.


"Oya nek, siang ini kami harus kembali ke Jakarta. Karena besok kami sudah harus bekerja." Ujar Emilia sambil menggenggam tangan yang sudah memiliki kerutan di seluruh permukaan kulitnya.


"Kenapa cepat sekali? Kalian bahkan belum mengelilingi kota ini untuk berjalan-jalan." Ucap nenek Nur dengan nada agak menyesal.


"Kami akan kembali lagi saat liburan panjang, mudah-mudahan." Jawab Emilia langsung. "Entah kapan aku akan kembali lagi kesini, nek. Dan, mungkin aku akan kembali tanpa Julian lagi dan saat itu aku sudah menyandang status janda." Gumam Julia dalam hati.


"Benar ya? Kalian harus datang lagi dan kalian harus memberitahukan sebelum kalian datang." Ujar nenek Nur.

__ADS_1


"Pasti, nek." Jawab Emilia sambil tersenyum lebar.


Siang pun tiba tanpa mereka sadari karena mereka mengisi waktu dengan penuh suka cita. Nenek Nur melepas kepergian cucunya untuk merantau kembali. Emilia menolak semua barang-barang sebagai oleh-oleh yang akan diberikan neneknya. Dengan alasan tidak ingin merepotkan. 


"Mana mungkin aku bawa sekarung beras, aneka bumbu dapur satu kantong besar, dan bahkan ayam panggang dua ekor. Aku akan pulang ke apartemen Julian, bukan ke rumahku." Gumam Emilia dalam hati.


"Nenek sangat ramah dan langsung menerimaku. Kupikir nasibku akan seperti menantu di acara TV yang mendapat bentakan, lemparan piring, dan makian begitu sampai ke rumah mertua." Ucap Julian sambil terkekeh.


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta.


Emilia mengerutkan bibirnya. Julian langsung terperanjat dan merasakan betapa sang istri sangat imut menggemaskan.


"Ternyata kamu suka menonton sinetron ya?" Emilia menyeringai.


"Hahaha, waktuku terlalu berharga untuk menonton acara seperti itu. Aku hanya pernah melihatnya sekali di lobi hotel saat menjemput Roxanne,"


DEG!!!


Baik Julian maupun Emilia reflek terdiam mendengar nama Roxanne keluar dari mulut Julian.


Julian mengutuk dirinya sendiri yang mengungkit-ungkit nama wanita itu di depan istrinya langsung.


Emilia sedikit kecewa mendengar nama wanita itu lagi. Namun, dia tidak ingin menampakkan nya karena dia tahu betul posisinya hanyalah sebagai istri kontrak satu tahun.

__ADS_1


"Aku … aku minta maaf. Aku hanya …" Julian memejamkan mata sejenak sambil menghela napas panjang. Dia merasa kalau dia sudah membuat satu kesalahan yang sangat fatal.


__ADS_2