
Julian mengecup dahi wanita yang sudah tertidur pulas karena kelelahan. Hanya jam dinding di dalam kamar yang terus berdetak dan menimbulkan bunyi yang teratur dan menjadi bukti betapa cinta keduanya sangat kuat dan saling melindungi satu sama lain.
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari ketika Emilia terbangun untuk ke kamar mandi. Perlahan dia melepas tangan Julian yang berat memeluk punggungnya. Dia tersenyum memperhatikan pria yang merupakan bosnya di kantor namun suami di rumah.
"Uhhhh," Julian terbangun karena mendengar bunyi gemericik air di kamar mandi. Dia adalah orang yang tidak bisa tidur jika mendengar bunyi-bunyi sekecil apapun.
"Kamu sudah bangun? Ini masih malam." Emilia muncul dengan jubah mandi dan handuk kecil yang membungkus rambut panjang basahnya.
"Kamu mandi malam-malam?" Julian bersandar di kepala ranjang dan menatap istrinya dengan intens. Rambutnya yang acak-acakkan dan dengan dada bidangnya yang terekspos sempurna, membuat penampilan Julian tetap terlihat tampan meski belum mandi sekalipun.
"Aku gerah. Dan, aku lapar." Emilia meringis sambil tersenyum. Dia belum makan malam sama sekali sejak pulang dari kantor. Andaikan Julian pulang lebih cepat, dia pasti sudah menuntaskan makan malamnya sebelum tidur. "Makanannya pasti sudah mengembang. Aku akan ke dapur dan membuat makanan baru." Ucap Emilia masih dengan handuk yang menempel di kepalanya.
"Buatkan aku juga makanan. Tapi aku akan mandi dulu. Nanti aku menyusul." Julian menghampiri Emilia sejenak dan mengecup bibir istrinya tipis-tipis sebelum menuju ke kamar mandi.
"Pria itu, dasar mesum!" Emilia menggeram pelan melihat tingkah Julian yang tiba-tiba menciumnya. Dia pun segera meninggalkan Julian yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Julian tersenyum saat mendengar istrinya sempat mengutuknya di balik punggungnya.
Emilia membersihkan sisa makanan yang tidak jadi dimakan dan dia pun membuat nasi goreng dari nasi yang sudah matang saat dia buat sambil memasak spaghetti sebelumnya.
Nasi goreng dua piring dengan bakso dan topping irisan tomat, selada, dan telur dadar, siap tersaji di atas meja. Emilia melengkapi sajian di pagi hari yang bahkan matahari pun belum berani muncul itu dengan jus tomat segar asli tanpa gula dan tanpa pemanis apapun.
"Wahhh, kelihatannya enak sekali." Tidak jauh berbeda dengan Emilia, Julian keluar dari kamar masih dengan menggunakan jubah mandinya.
"Ayo makan, aku sudah sangat lapar sekali." Emilia duduk di kursi yang telah ditarik Julian untuk istrinya duduk.
"Enak sekali," Mulut Julian menggembung sempurna karena penuh dengan nasi goreng dalam sekali suap. Emilia terkekeh melihat ekspresi suaminya yang kadang bisa melucu dibalik wajah dinginnya.
__ADS_1
"Oya, aku mau cerita sesuatu, sebelum kamu mendengarnya dari orang lain." Julian mengosongkan isi mulutnya sebelum berkata-kata.
"Cerita apa?" Emilia mengerutkan dahinya karena penasaran.
"Dua orang pecundang itu, mantan tunanganmu dan selingkuhannya, menyewa orang untuk membunuhku."
"Uhuk uhuk,"
"Minum dulu," Julian mengambil gelas berisi air minum untuk istrinya yang langsung tersedak begitu mendengar cerita Julian.
"Apa yang mereka lakukan? Dan kamu, baik-baik saja kan?" Tanya Emilia, setelah dia berhasil mengatasi tenggorokannya itu.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik-baik saja. Dan, itulah penyebab aku pulang telat malam ini." Jawab Julian lagi.
"Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti."
Emilia tidak lagi fokus dengan makanannya. Cerita Julian lebih menarik perhatiannya dan membuatnya penasaran. Bisa-bisanya Roy dan Netta mengganggu pria yang punya segudang kelebihan dibanding mereka.
Dari luar mungkin Julian terlihat biasa saja dan tidak memiliki keahlian apapun, disamping wajah tampannya. Namun, seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka selama ini, Emilia mulai tahu semakin banyak tentang sisi lain Julian yang ternyata memiliki banyak keahlian tersembunyi.
"Mereka benar-benar tidak ada kapoknya. Selalu saja mengganggu aku dan orang-orang di sekitarku." Emilia gemas sekali sehingga tangannya terkepal secara tidak sengaja. Julian tahu itu dan tersenyum tipis.
"Kamu tenang saja. Kali ini mereka tidak akan bisa mengelak lagi." Senyuman Julian yang penuh misteri membuat Emilia mengernyitkan alisnya. Rencana apa yang sedang dipersiapkan Julian kali ini?
***
__ADS_1
BRAKKK!
"Roy!"
"Aduh, ada apa sih ayah?" Roy yang baru pulang tepat setelah adzan Subuh berkumandang, enggan untuk membuka matanya karena masih sangat mengantuk. Selimutnya ditarik kembali bahkan sampai menutupi kepalanya.
Arka masuk ke kamar anak satu-satunya tanpa mengetuk pintu seperti biasa. Kedatangan dua tamu di pagi hari membuatnya kaget bukan main, dan lebih kaget lagi adalah mereka mencari Roy atas dugaan percobaan pembunuhan pada seorang pria bernama Julian.
"Ada dua polisi di depan. Apa yang sudah kamu lakukan, hah?" Dengan geramnya, Arka menarik selimut yang dipasang Roy itu hingga terlempar ke atas lantai.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Anak kita baru pulang pagi dan dia butuh banyak istirahat." Sonia buru-buru masuk ke dalam kamar anaknya karena dia tahu suaminya akan marah besar pada anak semata wayang mereka.
"Inilah akibatnya kalau terlalu memanjakan anak. Bahkan seumur ini pun dia belum pernah membanggakan orang tuanya. Jadi PNS? Cih, kalau bukan karena aku yang mengusahakan, mungkin jadi office boy pun terlalu bagus untuknya." Suara Arka yang sudah tidak tertahan lagi puncaknya, menggelegar memenuhi seluruh ruangan kamar.
"Mas!" Sonia berteriak kecil agar suaranya tidak terdengar sampai ke ruangan depan.
Roy yang mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, hanya terkekeh lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, lalu memangnya aku menginginkan profesi sialan ini? Ini bukan pekerjaan yang aku idamkan!" Jawab Roy tidak mau kalah sengit.
"Lalu kamu mau jadi apa? DJ di bar yang terkenal dengan kehidupan malam dan **** bebas itu? Kamu ingin mempermalukan keluarga dengan menjadi pria malam yang pekerjaannya penuh dengan stigma negatif itu?" Jawab Arka tidak mau kalah.
"Ayah, aku …"
"Cukup! Kita akan lanjutkan nanti. Tapi sekarang, temui dua polisi di bawah. Sekarang juga!" Arka berkata dengan suara lantang lalu meninggalkan kamar Roy sambil menutup pintu dengan dibanting kasar.
__ADS_1
"Ya ampun, ayah kamu! Jangan didengarkan ya sayang. Ayah kamu mungkin lagi ada masalah di kantor. Sekarang, kamu bersiap-siap untuk turun dan temui kedua polisi itu. Ibu akan menemani kami." Sonia mengusap rambut anaknya dengan lima jari yang dijadikan sisir darurat itu.
Roy bersungut-sungut karena mendapatkan sarapan dari ayahnya yang tidak biasanya. Dia mencuci muka terlebih dahulu, tanpa sempat untuk mandi. Lalu berganti pakaian dengan kaos dan celana panjang santai.