
Mulai hari ini Emilia sudah meminta supir Julian untuk tidak mengantar jemputnya ke kantor lagi. Emilia sudah mendapatkan ijin dari Julian untuk membawa sendiri mobilnya pulang pergi, namun dengan pengawasan khusus dari supirnya menggunakan kendaraan lain, agar tidak menimbulkan kecurigaan siapapun.
Sepanjang hari di kantor, kesibukan membuatnya lupa untuk menelpon Julian dan bahkan Julian juga tidak menelpon dirinya sehingga mereka berdua sama-sama tidak berkomunikasi hingga malam tiba. Sophia yang masih dalam perawatan di rumah, belum bisa masuk kerja sehingga ada beberapa tugas yang seharusnya dia kerjakan, terpaksa Emilia kerja kan agar tidak menumpuk sampai besok.
"Terima kasih, pak. Bapak boleh pulang dan beristirahat." Emilia berkata pada supir Julian yang setia menemaninya dari pagi sampai malam tiba. Baru saja Emilia menginjakkan kakinya di lobi apartemen, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari jarak yang tidak begitu jauh.
"Emilia, wow ternyata kamu menginap di apartemen ini ya? Pantas saja aku tidak bisa menemui kamu di rumah. Pria mana yang menjadi sugar daddy mu saat ini, Emilia?" Entah sejak kapan dan bagaimana bisa dia bertemu dengan Netta disini. Emilia tetap berdiri dengan sikap sempurna meskipun raganya sudah letih dan memintanya untuk segera merebahkan diri. Kalau ada Netta, haruskah ada Roy juga? Gumamnya.
"Aku bekerja dan aku menghasilkan uang dari hasil jerih payahku sendiri. Aku rasa hanya tinggal di apartemen bukanlah hal yang mewah menurutku. Lagipula, apa peduli kamu aku tinggal disini atau tidak? Ada yang ingin kamu tanyakan? Aku sangat lelah." Emilia berkata dengan tatapan mata yang enggan berlama-lama.
Netta mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya. Emilia memperhatikan itu. Seringai sinis tipis ditunjukkan olehnya karena berhasil mengintimidasi lawan bicara yang sebelumnya dia tidak berani lakukan. Dia berjanji untuk tidak bersikap lemah dan memasang wajah tertindas lagi di kehidupannya yang sekarang. Baik Roy maupun Netta dan orang lain, tidak ada yang bisa mengendalikan dirinya, kecuali suami kontraknya, Julian Miller.
"Cih! Jadi sekarang kamu bersikap arogan dan merasa paling hebat, begitu? Aku kasih saran ya buat kamu, jangan senang dulu menjadi simpanan orang kaya. Kalau kamu sudah tidak dibutuhkan, maka kamu akan dianggap sampah dan bisa dibuang kapanpun." Netta menyeringai sinis merasa kalau dia masih bisa membuat harga diri Emilia terpuruk dengan kata-katanya. Emilia yang diam saja meskipun tunangannya berselingkuh dan Emilia yang selalu merasa rendah diri dengan apa yang dikatakan orang lain padanya.
"Well, terima kasih atas sarannya. Tapi, alangkah lebih baik kalau saran itu kamu uji cobakan ke dirimu dulu, setelah berfungsi dengan benar, baru kamu sebarkan ke orang lain. Huh! Oh aku lupa, kamu sudah dibuang ya oleh Roy? Atau, kalian berdua memang sampah yang saling melengkapi dan tidak bisa didaur ulang lagi?" Perkataan Emilia yang pelan namun tajam dan sadis, membuat Netta mengangkat telapak tangannya ingin menampar wajah Emilia. Sayangnya, Emilia bergerak lebih cepat dengan menangkap tangan sepupu tirinya itu dan menghempaskannya ke samping hingga Netta terjatuh ke atas lantai.
__ADS_1
"Ini tempat umum. Kalau kamu menuntut aku, jangan lupa ada CCTV yang akan membuktikan siapa yang lebih dulu ingin berbuat kurang ajar." Emilia meninggalkan Netta yang memerah padam wajahnya menahan emosi yang membuncah sambil agar tidak berteriak kencang mengutuk satu nama yang membuatnya dipermalukan, Emilia.
Emilia membuka gagang pintu apartemennya sesaat turun di lantai yang dituju. Dia menghela napas panjang mengingat pertengkaran yang baru saja terjadi antara dia dan Netta. Dia bergegas menuju kulkas untuk mengambil minuman untuk mendinginkan pikiran dan hatinya.
"Rumah ini terasa sepi. Padahal baru ditinggal Julian kurang dari satu minggu. Apakah karena ukuran rumahnya yang terlalu luas sedangkan penghuninya hanya aku dan dia? Hahhhh," Emilia bergumam dan menghela napasnya lagi dan lagi setelah menenggak satu gelas air minum dingin yang membuatnya segar seketika.
Dia pun beranjak menuju kamar tidur yang harus melewati ruang keluarga, ruangan gym, dan juga kamar tidur pribadi Julian sebelum menikah dengan Emilia. Tanpa menaruh curiga, Emilia masuk ke dalam kamar dengan pencahayaan temaram. Dia membuka kancing kemejanya satu persatu lalu melepas rok yang dipakainya. Hingga yang tersisa adalah bra dan pakaian dalam yang menempel di tubuhnya.
Emilia membuka lemari pakaian berukuran besar untuk mengambil piyama tidurnya. Namun, tiba-tiba dia dikejutkan dengan penampakan sosok tinggi besar menjulang di belakangnya saat dia menutup pintu lemari yang terdapat cermin sekujur tubuh.
"Hello my wife,"
"Julian? Ini kamu Julian? Kapan kamu pulang? Kamu membuat aku kaget! Kenapa kamu tidak menyalakan lampu kamar?" Rentetan pertanyaan yang diucapkan Emilia tidak membuat Julian bergeming dari tempatnya berdiri.
Justru sorot matanya menelisik tubuh Emilia dari bawah hingga ke atas. Emilia yang melihat tatapan mata Julian, langsung tersadar dengan penampilannya sekarang.
__ADS_1
"Aahh, kamu jangan lihat-lihat! Aku pakai baju dulu." Emilia menutupi tubuhnya dengan piyama yang dipegangnya.
"Aku jawab semua pertanyaan kamu nanti saja. Tapi saat ini, ada sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan."
"A-apa itu?" Kulit tubuh Emilia mendadak merinding mendengar suara Julian yang berat dan lirikan matanya yang sangat nakal. Hawa di dalam kamar berubah dari yang semula tenang berubah menjadi panas dan membuat Emilia ingin keluar dari kamar ini secepat mungkin
"A duty's wife." Julian mengurung tubuh Emilia dengan kedua tangannya yang kokoh dan besar. Jantung Emilia mendadak seperti orang yang lari maraton berlari kencang tak menentu.
Pria yang hampir satu minggu tidak mendapatkan haknya itu, mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan sejak pergi meninggalkan sang istri di apartemen sendirian.
Emilia yang tidak menyangka akan mendapati Julian di rumah malam ini, tidak bisa melarikan diri lagi dan harus pasrah dengan apa yang memang harus dia lakukan atas nama pernikahan.
Suasana yang penuh dengan hormon oksitosin menyeruak di dalam kamar berukuran sangat luas itu, dilanjutkan dengan hormon endorfin dan hormon prolaktin yang saling melengkapi simponi dua hati yang tertaut atas nama pernikahan kontrak.
Julian membopong tubuh sang istri yang sudah sangat lemas dan mendudukkannya di dudukan kloset. Beberapa kissmark nampak jelas di beberapa bagian tubuh Emilia dan Julian tersenyum tipis. Ada kebanggaan sendiri di hati Julian bisa menancapkan kepemilikannya pada tubuh wanita yang merupakan cinta pertamanya itu.
__ADS_1
Emilia pasrah saja dengan apa yang dilakukan Julian saat membasuh tubuhnya secara perlahan dan penuh kelembutan. Pria ini benar-benar bagaikan serigala lapar yang melihat mangsanya dengan tidak menyia-nyiakan waktu sedetikpun.