
"HAHAHAHA," Julian tertawa terbahak-bahak dengan lepasnya. Sudah lama pria itu tidak merasakan tertawa sepuas ini. Statusnya sebagai seorang pemimpin harus terus terlihat baik dan berwibawa di mata bawahan dan rekan kerja. Dia yang sebelumnya tidak memiliki orang dekat, tidak bisa menunjukkan ekspresi yang ada di hatinya pada siapapun.
Namun kini, Julian merasakan bahwa pernikahan kontrak yang dia lakukan tidaklah seburuk yang dipikirkan.
Kini tinggal Emilia yang bingung karena tiba-tiba saja pria ini tertawa lepas.
TING!
Tiba-tiba oven berbunyi dan Emilia sontak bergegas menghampiri alat pemanggang bolu yang sedang ditunggunya.
"Taraaa, bolunya sudah jadi. Sebentar ya, aku siapkan potongan kecil untuk kamu." Dengan sangat hati-hati Emilia mengeluarkan bolu dari loyang untuk diletakkan diatas piring keramik yang ukurannya cukup lebar.
Harum wangi bolu sejak dikeluarkan dari oven tadi, langsung menggugah indera penciuman Julian untuk mendekati sang istri.
"Kamu sudah terbiasa membuat kue?" Pria itu tiba-tiba saja duduk di hadapan Emilia, seperti seorang anak kecil yang sedang menunggu potongan kue bagiannya.
"Dulu duniaku hanya pekerjaan dan rumah. Aku tidak pernah keluar rumah untuk menghabiskan waktu. Waktuku sudah habis untuk bekerja jadi kalau aku sedang dirumah, aku membuat kue untuk aku dan nenek. Kami akan menikmati kue bolu buatanku dan teh manis hangat buatan nenek. Kamu mau coba?" Emilia mulai memotong kue yang tampak lembut dan enak itu.
"Tentu saja. Semoga lebih enak dari kue mahal di toko." Jawaban Julian membuat Emilia menyeringai kesal. "Hehehe, becanda. Cepat berikan aku potongan besar. Eh, kamu mau teh manis? Aku yang akan buatkan untuk kita berdua."
Julian langsung bergegas membuat dua cangkir teh manis hangat. Emilia menyaksikan betapa pria ini sangat berbeda antara di kantor dan di rumah. Tidak lama kemudian, dua cangkir teh manis hangat dan dua potong kue bolu karamel tersaji manis di hadapan mereka.
"Setelah mengkonsumsi ini, kita harus berolahraga ekstra keras karena baru saja membuat perut kita terisi makanan sangat manis." Julian memang menghindari makanan minuman yang serba manis namun dia punya solusi jitu jika terpaksa harus mengkonsumsi hidangan manis, yaitu berolahraga hingga keringat membasahi sekujur tubuhnya.
"Olahraga?" Emilia yang jarang berolahraga itu menyipitkan matanya.
"Apa kamu punya baju olahraga?" Tanya Julian kemudian sambil memasukkan sesendok kue ke dalam mulutnya. "Hmm, manisnya pas. Aku tidak merasa terlalu manis." Komentar Julian setelah mencicipi kue bolu buatan sang istri.
__ADS_1
"Benarkah? Syukurlah kalau kamu suka." Emilia pun menyendokkan seujung kue ke dalam mulutnya dan sensasi lumer bolu karamel langsung terasa di dalam tenggorokannya. Dia bersyukur karena kemampuannya membuat kue setidaknya ada yang diwariskan dari neneknya.
"Kalau kamu tidak punya baju olahraga, kita bisa membelinya di bawah." Ucap Julian lagi.
"Tidak usah, aku punya walau hanya kaos dan celana pendek." Jawab Emilia lagi.
Julian mengangguk-angguk kecil.
"Besok aku akan ke Singapore di jadwal penerbangan pertama. Apa kamu tidak apa-apa sendirian di apartemen ini?"
"Aku sudah terbiasa hidup sendiri. Kamu tenang saja."
"Aku tahu kalau kamu wanita yang mandiri dan pemberani. Tapi, setelah menikah bukankah setidaknya kamu butuh perlindungan?"
"Perlindungan dari apa? Aku baik-baik saja. Kalau kamu khawatir pria yang aku malas sebut namanya itu datang lagi, aku janji aku hanya akan pulang pergi dari kantor ke apartemen." Ucap Emilia.
"Ada yang bisa aku siapkan sebelum keberangkatanmu?" Tanya Emilia kemudian.
"Aku sudah selesai mengepaknya." Jawab Julian lagi.
Keduanya terdiam kembali. Suasana apartemen yang sunyi semakin sunyi. Emilia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Mereka bukanlah pasangan suami istri sesungguhnya. Kurang dari dua belas bulan lagi, mereka akan saling melupakan satu sama lain. Emilia tidak ingin terjerat lebih dalam tapi biar bagaimanapun, mereka telah melakukan hubungan suami istri beberapa kali. Hal itu tidak mungkin dihindari oleh Emilia.
"Julian,"
"Hmm?"
"Maukah kamu …" Emilia bisa tahu kalau pria itu menatapnya dari ekor matanya. "Melakukan itu … sebelum pergi." Emilia menggigit bibirnya. Jantungnya langsung terasa keluar dari tempatnya dan matanya spontan terbelalak lebar. "Maaf, aku salah bicara." Emilia bangkit dari duduknya dan hendak melarikan diri ke kamarnya lalu mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam. Tapi, Julian berhasil menahan lengannya.
__ADS_1
Julian menyusupkan ke sepuluh jari jarinya ke tengkuk sang istri. Kedua mata Emilia reflek terpejam.
"Kamu tidak bisa menarik ucapanmu lagi. Karena aku sudah menahannya sejak tadi." Ujar Julian dengan suara yang berat dan terdengar sangat seksi di telinga Emilia. Napasnya yang menyapu lembut wajah Emilia, membuat bulu kuduk Emilia meremang seketika. Dia sudah memancing serigala yang sedang tidur untuk bangun dan melahap mangsanya.
Pernikahan mereka memang hanya status hitam diatas putih namun mereka juga manusia yang membutuhkan penyaluran hasrat dengan cara yang benar.
Julian dan Emilia menikmati waktu berdua tanpa ada gangguan layaknya pasangan yang sedang berbulan madu. Bedanya, pernikahan mereka tidak ada yang mengetahui sama sekali kecuali pihak penghulu, neneknya Emilia, dan supir juga asisten Julian. Semua itu atas permintaan Emilia yang tidak ingin rumor tentang dirinya menjadi janda hanya dalam waktu satu tahun pernikahan menjadi citra buruk untuknya.
—--
"Terima kasih sayang transferannya, aku pastikan kamu tidak akan menyesal menyewaku." Sebuah kecupan mendarat di tengkuk seorang wanita yang masih menutup tubuhnya dengan selimut putih tebal. Rambut panjangnya yang acak-acakkan membuktikan kalau baru saja terjadi badai di dalam kamar hotel ini.
"Jadilah pria yang baik selama satu bulan ini untukku. Maka aku akan memberikanmu banyak uang lagi." Jawab wanita cantik itu dengan senyuman memikatnya namun penuh misteri.
"Tentu saja. Dari mana lagi aku akan memperoleh kesenangan seperti ini? Menemani kamu sekaligus mendapatkan uang yang sangat banyak. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu."
"Sebaiknya begitu."
"Aku akan pergi sekarang. Kamu juga harus terbang, bukan?" Tanya pria itu sambil memakai celana panjangnya kembali yang tergeletak di atas lantai.
"Ya, aku akan pergi selama dua jam, setelah itu aku kembali kesini. Kita akan bertemu nanti malam." Jawab wanita tersebut.
"Kalau begitu, sampai bertemu nanti malam, Donna sayang." Pria itu mendaratkan ciuman perpisahan sementara di bibir sang wanita dan mereka pun berpisah untuk bertemu lagi.
Wanita bernama Donna itu melepas selimut ke atas lantai hingga menampakkan tubuh mulusnya. Namun, tiba-tiba suara ponselnya berdering.
"Sayang, kamu dimana? Aku sudah sampai bandara." Ucap pria lain yang memanggil Donna sayang pagi ini.
__ADS_1
"Alfred?"