
"Hei, ini tempat umum. Yang harus jaga mulut itu kamu. Tuh lihat, banyak yang melihat kesini. Cih!" Sophia benar-benar memulai perang sejak awal. Dia benci teramat sangat kepada sepasang penggoda dan pengkhianat yang bekerja sama membuat sahabatnya terluka menderita, meski pada akhirnya dia justru merasa bersyukur Emilia tidak jadi menikah dengan Roy.
Netta benar-benar kesal dibuat oleh Sophia. Maksud hati tujuannya bertemu Emilia hari ini adalah untuk membuat sepupunya itu bisa bertemu dengan Roy dan mereka bertiga bisa membicarakan kembali tentang pertunangan yang dibatalkan. Namun, sepertinya hal itu akan mustahil karena kehadiran Sophia, teman Emilia yang paling menentang keras perjodohan Emilia dan Roy.
"Lia, aku kesini itu mau bicara sama kamu. Tidak bisakah dia pergi dari sini?" Netta menyeringai sinis sambil menatap Sophia dengan sorot mata penuh kebencian.
"Hahahaha, in your dream!" Jawab Sophia dengan tampang tidak kalah sinisnya.
"Sudah sudah. Netta, kalau kamu mau bicara, langsung duduk saja. Aku tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi jam makan siang berakhir." Emilia melirik arlojinya yang menunjukkan waktu makan siang mereka kurang dari sepuluh menit saja.
Netta mengernyitkan alisnya.
"Mana mungkin waktu sesingkat ini? Roy juga tidak akan bisa berkata apa-apa kalau ada ular betina ini." Gumam Netta dalam hati.
"Kenapa? Kamu tidak berani bicara kalau ada aku? Simpan akal busuk kamu ya! Jangan sampai aku buat kamu malu di tempat umum begini." Ujar Sophia saking dongkolnya melihat Netta.
"Sophia, sudah." Emilia menggelengkan kepala meminta Sophia untuk tidak memprovokasi Netta lebih jauh lagi. Emilia juga sebenarnya malas meladeni keinginan Netta tapi dia ingin tahu seberapa jauh niat yang akan dibuat perempuan yang berselingkuh dengan tunangannya itu.
"Cih!" Sophia memalingkan wajahnya ke samping. Netta mengepalkan tangan kesal karena harga dirinya berkali-kali dihina Sophia dengan santainya.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi besok saja. Aku tidak akan bisa berkata apapun kalau ada ular betina ini." Netta membalik tubuhnya untuk pergi dari tempat ini. Namun, suara Sophia yang melengking membuat Netta kembali memutar tubuhnya.
"Hei, aku ular betina? Kamu siluman rubah! Dasar pelakor!" Teriakan Sophia spontan membuat semua pengunjung restoran melihat ke arah Netta.
"Sophia! Sudah sudah! Jangan cari masalah ah," Emilia menarik tangan Sophia untuk duduk kembali dan meredakan emosinya.
"Hai, perawan tua! Kalau mau menyindir orang itu, ngaca dulu dong! Aku pelakor? Hah, tanya teman kamu itu, dia sudah jadi pacar yang baik atau belum? Makanya jadi perempuan jangan kampungan dan kolot, biar lelaki tidak pergi tergoda perempuan seksi dan cantik sepertiku." Suasana di dalam restoran benar-benar membuat cuaca siang yang panas di luar bertambah panas dengan pertengkaran dua orang wanita di dalam.
"Dasar pelakor ya tetap pelakor! Mana ada maling ngaku?" Sophia memang wajah triple sinis yang sungguh menakutkan.
"Sophia! Ayo kita kembali ke kantor!" Emilia yang sudah tidak tahan, langsung menyeret tangan sahabatnya yang sedang di puncak emosi untuk segera ke kasir dan pergi dari tempat ini.
"Roy, rencana siang ini berantakan. Sial! Itu semua gara-gara perempuan bernama Sophia." Netta keluar dari restoran dengan wajah kesal bukan kepalang. Hari ini dia benar-benar dipermalukan oleh teman Emilia dan dia bersumpah akan membalas penghinaan ini dengan lebih kejam dan tidak terampuni.
"Kamu kenapa sih, Sophia? Aku jadi malu kan disana ih." Emilia memasang mata lebar-lebar. Baru kali ini dia melihat sahabatnya bersikap frontal pada orang lain. Dia tahu kalau Sophia memang memiliki sifat dua kali lebih cuek dan dua kali lebih tidak peduli dengan orang lain dibandingkan dirinya. Namun siang ini, sikap Sophia benar-benar seperti bukan Sophia yang dia kenal.
"Wajah dia itu sudah membuat aku kesal. Apalagi suaranya, aku makin muak mendengarnya. Memang sudah paling benar kamu tidak jadi menikah dengan lelaki Meganthropus Erectus itu. Awas saja kalau kamu kasih dia kesempatan lagi." Jawab Sophia dengan bibir mengkerut kesal dan matanya menyipit sinis.
"Me-megan apa? HAHAHA, kamu ini melawak? Astaga, sudahlah. Aku tidak jadi marah. Kamu itu menggemaskan, Sophia!" Emilia mencubit kedua pipi sahabatnya dan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Awww, sakiiiit." Sophia memajukan bibirnya setelah berhasil melepaskan diri dari jari jemari mematikan Emilia di pipinya.
Keduanya berjalan cepat menuju kantor sebelum jam masuk dimulai. Mereka harus bisa memberi contoh pada yang lain untuk tidak datang terlambat apapun keadaannya.
Sementara itu di tempat lain, Roy yang sudah berada di jalan untuk bertemu dengan Emilia dan Netta, mengumpat kesal karena rencananya untuk bertemu Emilia gagal kembali. Mendengar laporan dari Netta, mereka memiliki hama pengganggu yang harus mereka basmi agar bisa mendekati Emilia lebih cepat dan sesuai rencana semula.
Waktu bergerak terus dan semakin hari fasilitas yang diterima Roy dari ayahnya semakin dibatasi. Mobil Land Rover yang merupakan milik ayahnya pun diambil Arka dan dikunci rapat menggunakan sandi khusus agar anaknya tidak bisa memakainya.
Arka sedang mendekati sepupu Roy lainnya untuk bisa diajak mengelola perusahaan furniturenya yang sudah berkembang semakin pesat. Bahkan Roy pun tidak tahu cara mengelola bisnis ayahnya.
"Aku akan membuat wanita sialan itu enyah dari muka bumi ini selamanya." Netta dan Roy bertemu di sebuah kafe yang sudah ditentukan. Roy menyeringai sinis mendengar cerita Netta yang dipermalukan mentah-mentah oleh Sophia.
"Huh, kalau aku dipermalukan oleh seorang pria bernama Julian. Dia bosnya Lia. Kurang ajar sekali dia berani menghalangiku bertemu Lia. Memangnya kalau bos bisa mencampuri urusan pribadi karyawannya? Lihat saja! Akan aku buat dia paham siapa itu Roy! Hanya seorang bos, sehebat apa sih?" Lelaki yang hari ini meminta izin untuk pulang lebih cepat itu, mengangkat satu ujung bibir dengan uraian sinis tak terelakkan. Masih lekat di ingatannya betapa dia menjadi tontonan gratis semua orang yang melihatnya saat itu.
"Banyak orang disekitar Lia. Kita harus hati-hati karena kehadiran kita pasti sudah diawasi oleh mereka." Ucap Netta sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya yang merah merona karena lipstik.
"Ya, kamu benar. Semakin susah mendekati dia karena banyak orang yang sepertinya melekat padanya setiap waktu."
"Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?" Tanya Netta lagi.
__ADS_1
"Aku tetap akan berusaha untuk merampas mahkota yang selama ini dia jaga. Kalau sudah begitu, mau tidak mau dia pasti akan menikah denganku, bukan? Hehehe," Gumam Roy sambil menyeringai lebar, membayangkan rencananya yang amat sempurna dan hasil yang memuaskan.