
“Tapi, kamu kan juga lelah setelah menyetir. Aku akan mandi sebentar. Kamu duduk saja. Aku akan buatkan nasi goreng paling enak untuk makan malam kita.” Emilia tersenyum lebar dan segera berlalu menuju kamar. Julian hanya memiringkan kepalanya kebingungan. Bingung kenapa Emilia bersikeras seperti ini. Tidak biasanya dia memaksakan kehendaknya. Namun, Julian menuruti saja kemauan istrinya itu.
Benar saja, tidak sampai lima menit Emilia sudah keluar dari kamarnya. Dengan gerakan cepat, wanita yang masih dilanda kebingungan dengan jutaan pertanyaan di pikirannya itu berusaha untuk tetap fokus meracik bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng special lengkap dengan telur mata sapi dan irisan daging dan sosis.
Julian yang baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar dengan masih mengenakan jubah mandi warna putih, melihat sang istri yang sudah hampir selesai menata dua piring nasi goreng dan dua gelas teh lemon yang diletakkan di masing-masing piring.
“Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?” Julian sudah mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan Emilia. Sejak pulang dari rumah orangtua Roy, Julian merasakan Emilia yang selalu menatap ke luar jendela dan jari jemarinya bergerak seperti sedang menghitung sesuatu.
“Belum untuk saat ini. Aku akan beritahukan padamu kalau sudah pasti.” Emilia tersenyum lebar hingga nampak deretan gigi putih yang bertengger dengan indahnya. Julian mengangguk-angguk percaya sepenuhnya pada sang istri.
“Bagaimana menurut kamu tentang permintaan ayahnya pria pecundang itu?” Julian malas sekali menyebut nama ROY keluar dari bibirnya. Begitu juga dengan Emilia yang sudah sangat segan dan alergi untuk menyebut satu nama itu.
“Aku tidak tahu. Terserah kamu saja. Asalkan dia tidak akan mengganggu kita lagi, aku serahkan semuanya padamu.” Jawab Emilia setelah menyuap satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Baru saja nasi goreng itu bersemayam di kerongkongannya, tiba-tiba perutnya seolah-olah dikocok dan hendak memuntahkan semua yang ada di dalam isi perutnya.
Emilia berlari secepat mungkin menuju kamar mandi yang berada di samping dapur. Julian ikut berlari menyusul sang istri karena hatinya langsung cemas khawatir istrinya sakit serius.
“Kamu kenapa? Kita ke rumah sakit sekarang. Jangan-jangan kamu kecapekan.” Julian mengambil beberapa helai tissue dan memberikannya pada Emilia yang tangannya menggapai-gapai minta tissue.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa. Mungkin aku kurang istirahat.” Ucap Emilia setelah menuntaskan muntahnya dan membersihkan bibirnya dengan tissue yang diberikan Julian. “Maafkan aku. Makan malammu menjadi terganggu.”
“Ayo kita ke kamar. Tidak usah pikirkan aku.” Julian mendekap pinggang sang istri dan menuntunnya menuju ke kamar mereka.
Dengan telaten dan penuh cinta, Julian menyelimuti sang istri dan menempelkan telapak tangannya ke dahi, leher, dan pipi sang istri untuk mencari tahu suhu tubuh yang mungkin menjadi penyebab istrinya muntah-muntah. Tapi semuanya baik-baik saja. Tubuh istrinya tidak demam dan juga tidak ada keringat dingin bercucuran layaknya orang yang sakit.
“Aku akan buatkan teh lemon hangat. Kamu tunggu dulu ya,” Emilia langsung memegang tangan sang suami yang akan pergi meninggalkan dirinya seorang diri di kamar.
“Kamu habiskan dulu makanan kamu. Atau kamu buat makan malam lainnya. Aku akan istirahat tidur saja. Mungkin dengan begitu akan lebih baik lagi.” Emilia berusaha keras untuk tetap tersenyum agar suaminya tidak khawatir berlebihan.
“Kamu tunggu saja. Aku tidak akan lama,” Julian perlahan pergi ke luar kamar lalu menutup pintu agar sang istri bisa beristirahat dengan tenang.
Langit-langit kamar menjadi pemandangan Emilia sepeninggal Julian dan suasana yang sepi dan tenang ini membuatnya menjadi lebih tenang dan tak terasa matanya menutup dan mimpi yang indah pun menyapanya.
***
“Ibu, ayah membelikan aku boneka sangat cantik. Bonekanya mirip ibu.”
__ADS_1
“Wah iya, sangat cantik. Dimana ayah kamu, sayang?”
“Ayah masih di luar.” Gadis kecil cantik berusia lima tahun itu langsung berlarian masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan wanita yang dipanggil ibu itu tersenyum senang melihat anak satu-satunya itu kegirangan setelah dibelikan hadiah ulang tahun oleh ayahnya.
“Sayang, kamu pasti capek seharian belanja bersama putri kecil kamu.”
“Tidak juga. Aku senang menghabiskan waktu bersamanya. Kamu tahu kan betapa aku sangat sibuk setiap harinya sehingga tidak bisa menemaninya bermain.” Ucap sang pria sambil menyerahkan beberapa paper bag yang berisi baju dan sepatu untuk sang istri tercinta. “Oya, besok kita ke puncak ya. Aku sudah memesan kamar untuk kita menginap dua malam di sana.” Sang suami dengan wajahnya yang teduh, menarik tangan sang istri dengan lembut untuk duduk bersisian dengannya.
“Puncak? Ada acara apa nih kok sampai menginap di hotel segala? Tidak biasanya kamu mengajak aku dan Emilia liburan menginap diluar.” Lastri mengerutkan alis dan menatap wajah suaminya dengan ekpresi penuh tanda tanya. Bowo terkekeh mendengar penuturan istri tercinta.
Memang selama ini dia selalu disibukkan dengan bisnis furniturenya sehingga tiap hari harus selalu keluar kota untuk mengecek produksi, pabrik rumahan, dan bertemu klien langsung. Bahkan pernah Bowo harus melewatkan hari ulang tahun anaknya dan juga hari jadi pernikahannya dengan sang istri demi mengembangkan bisnis yang akan diwariskan kepada anak satu-satunya, Emilia.
“Aku mendapatkan tender 10 milyar untuk mengisi perabotan sebuah kantor yang baru dibangun. Bos pemilik kantor itu melihat pameran furniture yang ayah ikuti di Semarang beberapa waktu yang lalu. Oleh karena itu, aku ingin menyenangkan hati istri dan anakku karena berkat kalian berdua juga bisnis kita berkembang pesat sejauh ini.” Bowo memeluk sang istri yang masih mengenakan celemek di tubuhnya. Lastri yang mendengar penjelasan sang suami, tak terasa air matanya bercucuran membasahi pipi mulus tanpa make up nya.
Bowo adalah teman masa sekolahnya dan berlanjut jodoh mereka hingga sampai ke jenjang pernikahan. Lastri sendiri tidak mengira akan menikah dengan teman lelakinya yang selalu pendiam di kelas dan hampir tidak dikenal oleh teman-temannya yang lain kalau bukan karena prestasi belajarnya yang sering membawa harum nama sekolah di tingkat nasional. Lastri tidak menyangka kalau sejak kelas 1 SMA Bowo memiliki hati padanya karena setiap mereka bertemu, Bowo tidak pernah menatap wajah Lastri sekalipun.
Sebaliknya, teman-teman lelaki lain justru berlomba-lomba ingin menjadi kekasih Lastri dengan saling menonjolkan kemampuan mereka. Hingga pada satu ketika, Lastri pulang terlalu malam karena baru saja selesai menghias dekorasi kelas untuk lomba antar kelas esok harinya. Semua teman-temannya sudah pulang dijemput oleh keluarga mereka masing-masing. Lastri yang sudah yatim sejak kecil, harus berjuang menembus gelapnya malam dan diperparah dengan turunnya hujan dimana kebetulan dia tidak membawa payung hari itu.
__ADS_1