
"Bapak mau apa?" Tanya supir itu dengan wajah pucat pasinya.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan dengan dua cecurut itu!" Seringai sinis Julian cukup menjawab pertanyaan supir yang sudah memasang seatbelt sejak tadi.
Ekspresi kaget tidak jauh berbeda ditampakkan dua lelaki yang mencoba membunuh Julian tersebut. Keduanya memaki dengan kencang dan berlarian masuk ke dalam mobil setelah beberapa tembakan mereka lesakkan namun kaca jendela depan mobil Julian tidak menunjukkan tanda-tanda pecah, apalagi tembus sampai ke dalam.
Julian semakin menekan pedal gas dan memegang setir kemudinya dengan kencang. Sebuah ide gila akan dia lakukan untuk membuat dua lelaki itu jera dan tahu dengan siapa mereka berhadapan.
"KYAAAAAA!" Suara supir Julian terdengar menjerit sangat ketakutan ketika dengan kecepatan tinggi Julian menjalankan mobilnya dan hanya dalam hitungan detik, mobil para pelaku percobaan pembunuhan itu ditabraknya dari belakang dengan kekuatan penuh. Tak ayal lagi mobil para penjahat suruhan Roy itu bergulingan di jalanan beraspal yang sepi karena berada di pinggir bendungan kali.
Julian turun dari mobilnya dengan langkah elegannya. Suami dari Emilia itu menghampiri mobil yang jungkir balik sambil tangannya tetap menggenggam senjata laras pendek untuk berjaga-jaga.
"Tolong kami. Tolong," Suara-suara lirih dari dalam mobil terdengar oleh Julian.
"Hahhh, tadi kalian ingin membunuhku. Sekarang kalian minta tolong padaku. Bukankah itu terdengar ironi sekali?" Julian terkekeh namun dia tidak tega akhirnya pintu mobil itu pun ditariknya dengan sekuat tenaga ke arah luar.
Dengan susah payah, Julian dan supirnya berhasil mengeluarkan dua pria yang tampak mengalami cedera serius di kaki dan tangannya. Mobil ambulans pun datang meraung-raung dengan bunyi khasnya disertai mobil polisi sesuai panggilan dari Julian.
Lokasi kejadian yang semula sepi itu mendadak jadi ramai karena banyak yang ingin melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Julian menyerahkan rekaman video yang menunjukkan penghadangan yang dilakukan oleh dua pria tidak dikenal itu sampai penembakan yang mereka lakukan ke mobilnya. Kedua pria yang mengalami kecelakaan itu dilarikan ke rumah sakit terlebih dahulu dengan ambulans sedangkan Julian dan supirnya ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian.
***
__ADS_1
"Sudah jam berapa ini, kenapa Julian belum pulang juga? Telponnya pun tidak aktif." Berkali-kali Emilia berjalan mondar mandir sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu sepuluh malam. "Tidak biasanya dia seperti ini. Tadi kan dia pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Ya Tuhan, tolong jaga dia dimanapun." Tanpa sadar Emilia mengucapkan doa pada suami kontraknya yang sering berbuat semaunya itu.
Cklek!
Bunyi pintu dibuka membuat Emilia segera berlari menuju ke sana.
"Julian, kamu dari mana saja?" Wajah Julian yang tampak sangat lelah namun senyumnya seolah berkata, 'aku baik-baik saja' itu terus berjalan menuju ke kamar tidur, tanpa menjawab pertanyaan Emilia yang sudah menunggunya sejak tadi sore.
Emilia mengerutkan dahinya. Baru kali ini Julian mengabaikan dirinya. Namun, Emilia tidak ingin memaksanya. Dia mengikutinya tanpa menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipendamnya di dalam hati.
Pakaian ganti Julian yang sudah disiapkan Emilia di atas kasur, diambil Julian dan dibawanya ke kamar mandi tanpa pertanyaan dan ucapan apapun. Lagi-lagi Emilia dibuat bingung dengan sikap Julian yang sangat aneh di matanya.
Emilia menahan napas dalam-dalam lalu keluar kamar untuk menuju dapur menyiapkan minuman teh manis hangat kesukaan Julian dan cemilan berupa spaghetti yang juga disukainya. Karena kesibukannya di dapur, Emilia tidak menyadari kedatangan suaminya di belakangnya.
"Ahhh, apa yang kamu lakukan?" Julian tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang dan mengecup tengkuk lehernya yang terbuka karena rambut Emilia yang digulung ke atas.
"Tunggulah dulu, sebentar lagi makanannya siap." Emilia berusaha berkelit menghindar dari pelukan Julian namun pria ini menempel erat padanya seperti anak bayi yang tidak mau ditinggal.
"Saat ini, aku mau makan yang lain," Sepasang mata Emilia sontak membelalak lebar, seiring bulu kuduknya merinding karena sentuhan tangan Julian yang lebar dan kecupan bibirnya di leher Emilia.
"Ka-kamu duduk dulu. Sebentar lagi selesai," Emilia berusaha berkelit namun Julian justru meletakkan alat masak yang dipegang Emilia lalu mematikan kompornya.
Dalam sekali angkat, pria itu langsung menggendong tubuh sang istri dan membawanya ke dalam kamar di atas kedua tangannya.
__ADS_1
"Julian, apa yang kamu lakukan?"
Julian tidak mengatakan apapun. Pria itu hanya meminta Emilia untuk membuka pintu kamar namun dengan sekali tendangan, pintu kamar itu kembali ditutup tanpa terkunci dari dalam.
Pikiran Julian dipenuhi oleh ucapan-ucapan Roy dan Netta saat kedua orang itu diintergasi olehnya.
"Emilia adalah wanita sial. Dia yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal."
"Tidak ada yang mau menikah dengannya. Pikirannya yang kolot akan membuat lelaki manapun menjauh darinya."
"Menikahi Emilia sama juga menikahi manekin hidup. Tanpa ekspresi, rasa, dan cinta."
"Kalau sampai ada yang menyukainya, apalagi menikahinya, dipastikan pria itu sudah buta dan bosan hidup."
"Julian, pelan-pelan, ughhh," Emilia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Malam ini sorot mata Julian seperti orang yang sedang kesal, dan cukup kasar memperlakukan dirinya. Julian kembali tersadar saat Emilia berteriak memanggil namanya berulang-ulang.
"Sayang, maafkan aku. Tapi, cobalah bertahan."
"Juliaaaan," Emilia tersentak kaget ketika pria itu menghujam dirinya di bawah sana tanpa aba-aba. Julian seperti orang kerasukan yang merasa seperti akan kehilangan Emilia jika dia tidak mendekapnya dengan erat.
"Bajingan-bajingan itu akan aku buat cacat seumur hidup. Lihat saja nanti!" Rahang Julian mengeras sambil menggumamkan rencana yang terbersit dalam pikirannya yang tiba-tiba muncul.
Tidak ada yang boleh menyakiti istriku! Hanya aku yang boleh melakukan apapun yang aku inginkan padanya. Aku akan membunuh siapapun yang telah berani mengusik Emilia, meski aku harus menghilangkan nyawa orang lain. Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Makanan yang tergeletak begitu saja di atas meja dapur, tidak pernah terjamah sampai pagi tiba. Sepasang suami istri yang menghabiskan malam panas hingga dini hari itu, tidur dengan posisi saling berpelukan. Julian menaikkan suhu pendingin ruangan hingga ke paling dingin. Setelah itu, dia kembali memeluk sang istri dan mendekapnya ke atas dadanya yang bidang dan cukup banyak ditumbuhi rambut-rambut halus di dadanya.
"Aku mencintaimu, sayang. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik hidupmu lagi. Tetaplah bersamaku sampai akhir hayatku. Bahkan jika aku harus bereinkarnasi dalam beberapa kali kelahiran, aku akan terus mencari dirimu dan menjadikan kamu istriku lagi selama-lamanya." Julian mengecup dahi wanita yang sudah tertidur pulas karena kelelahan. Hanya jam dinding di dalam kamar yang terus berdetak dan menimbulkan bunyi yang teratur dan menjadi bukti betapa cinta keduanya sangat kuat dan saling melindungi satu sama lain.