
"Aku rasa, aku tidak butuh mobil antar jemput itu. Semua orang akan bergosip yang tidak-tidak kalau melihat aku naik turun mobil bos mereka." Jawab Emilia sambil mengatur napas dan kata demi katanya dengan baik dan tersusun rapi.
"Kalau kamu tidak mau memakainya, aku akan pecat supirnya." Jawab Julian lagi.
"APA?"
"Ya, aku membayarnya untuk menemani kamu antar jemput. Lalu untuk apa aku membayarnya kalau kamu tidak mau memakainya?" Jawaban Julian membuat Emilia memijat dahinya yang tidak pusing.
"Nanti aku telpon lagi," Begitu banyak yang ingin Emilia katakan namun bibirnya terkunci rapat karena khawatir dia akan keceplosan menyebut satu nama.
"Kalau aku telpon, jangan dimatikan ya. Cukup jawab, aku sedang sibuk atau apa. Jadi, aku tahu kalau kamu baik-baik saja." Ucapan Julian serta merta membuat hati Emilia nyesss seperti disiram air dingin namun menyejukkan. Kata-kata seperti ini mungkin terdengar sepele, tapi bagi Emilia sangat berarti banyak. Dia yang terlihat mandiri dan tangguh dari luar, padahal di dalamnya sangat rapuh dan butuh bahu untuk bersandar.
"Okay," Jawab Emilia sambil menghela napas.
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu,"
"Tidak ada. Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan, aku akan sudahi telepon ini."
"Ya sudah, nanti aku telpon lagi." Julian pun saat ini sedang di tengah rapatnya bersama klien. Namun, tiba-tiba saja hatinya menyuruhnya untuk menelpon Emilia yang jauh di mata itu.
"Okay,"
Emilia dan Julian kembali menjalani kehidupannya masing-masing.
Tepat menjelang waktunya makan siang, tiba-tiba Sophia datang sambil memasang wajah kesal yang tidak biasanya.
"Hei, bukankah kamu seharusnya kembali besok?" Emilia menyapa sahabatnya yang langsung menenggak air minum di botolnya dengan berkali-kali tegukan.
"Aku lagi kesal. Jangan ajak aku bicara dulu." Sophia meletakkan laptop dan tas tangannya di atas meja, sementara dia sendiri pergi ke kamar kecil.
"Kenapa itu anak? Huft," Emilia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali berkutat dengan data-data di layar laptopnya.
__ADS_1
"Kamu tahu?"
"Astaga, Sophia! Kamu mengagetkan aku saja." Emilia yang sedang fokus mengetik email, hampir saja terloncat dari kursinya ketika Sophia datang langsung menggebrak meja Emilia.
"Semalam aku bertemu lelaki gila." Sophia berkata sambil berbisik.
"Lelaki gila? Jangan bilang kalau kamu melakukan itu," Emilia mengerutkan dahinya.
"Apa yang ada dalam pikiranmu? Kamu pikir aku perempuan macam apa?" Sophia mendelik kesal. Emilia justru tertawa terkekeh melihat guratan kekesalan di bibir sahabatnya.
"Ya sudah, cerita dong. Kenapa dengan kalian?" Emilia mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah sang teman.
"Semalam aku menolong lelaki mabuk yang ngoceh tidak jelas tentang mantan istrinya yang selingkuh, dia yang merasa dikhianati, dan pernikahannya yang sia-sia. Karena aku kasihan padanya, aku biarkan dia masuk ke kamar hotelku tapi aku langsung check out malam itu juga." Jawab Sophia sambil mendengus kesal.
"Apa? Kamu membawa seorang lelaki asing masuk ke dalam kamar hotel? Apa kamu sudah gila, nona Sophia?" Kini Emilia yang bertanya dengan nada sedikit tinggi.
"Tentu tidak, nyonya. Aku kan sudah bilang kalau aku langsung check out malam itu juga. Biar dia yang mengurus sendiri administrasinya." Jawab Sophia lagi.
"Astaga, aku lupa." Sophia reflek menepuk dahinya.
"Kamu pulang naik apa ke Jakarta?"
"Kereta api. Makanya aku baru sampai sekarang."
"Tumben tidak naik pesawat." Tanya Emilia lagi.
"Aku ingin istirahat lebih lama di jalan."
"Luar biasa. Tapi tetap saja kan pakai tanda pengenal di pintu masuk."
Sophia bukannya menjawab, malah duduk tertunduk lesu membayangkan kartu pengenalnya yang tertinggal di hotel.
__ADS_1
"Coba kamu sekarang telpon lagi resepsionis hotelnya. Mungkin lelaki itu belum sempat check out dan masih bisa dihubungi." Emilia menepuk bahu sahabatnya yang sering spontanitas tanpa berpikir panjang.
"Bagaimana kalau kartunya disalahgunakan? Aku bodoh sekali tidak berpikir sejauh itu." Ucap Sophia lagi sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Sudahlah, berdoa saja dan berharap yang terbaik. Eh, sudah waktunya jam makan siang. Yuks ke kantin dulu. Aku lagi mau makan ramen." Ujar Emilia sambil memeluk sang sahabat dari belakang.
"Kenapa aku harus menolong dia? Kenapa aku tidak lempar saja dia ke jalanan?" Sophia bergumam sepanjang jalan dari tempatnya semula sampai menuju lift.
"Terkadang sifat spontanitas kamu itu bisa merugikan kamu. Nanti kita telpon pihak hotel setelah sampai di restoran." Ucap Emilia lagi. Sophia mengangguk lemas.
Suasana makan siang berubah menjadi sendu. Sophia benar-benar tidak menikmati makan siangnya. Namun berbeda dengan Emilia yang baru teringat kalau dia ada janji makan dengan Netta di suatu tempat. Alih-alih membatalkan makan siang dengan Sophia, Emilia mengirim pesan alamat restoran dia berada sekarang, berharap Netta akan menemuinya di tempat ini.
"Kamu ada janji makan siang dengan seseorang?" Tanya Sophia tiba-tiba.
"Netta meminta janjian makan siang di tempat lain." Jawab Emilia sambil meletakkan ponselnya setelah selesai mengirim pesan.
"Apa? Perempuan tidak tahu malu itu? Kenapa sih kamu masih meladeni dia? Cih!" Sophia mendengus kesal mengetahui sahabatnya masih menemui sepupu laknat itu.
"Biar bagaimanapun, dia tetap sepupu aku. Kami masih akan sering bertemu di lain kesempatan. Dan, sejujurnya aku berterima kasih padanya karena secara tidak langsung dia menunjukkan wajah asli Roy sebelum kami menikah." Jawab Emilia sambil tersenyum lebar.
Sophia menggeleng-geleng tidak mengerti. Baginya, pengkhianatan sekecil apapun tetaplah berkhianat. Dan, siapapun pelakunya tetap saja tak termaafkan.
Pesanan makanan mereka pun datang. Emilia memesan ramen lengkap dengan tingkat kepedasan level sedang. Sementara itu, Sophia memesan mie udon seafood yang sangat pedas. Dua gelas jus jeruk dingin menemani makanan mereka siang ini.
Mereka tidak banyak bercakap-cakap saat makan karena hidangan yang mereka pesan sangat nikmat untuk dimakan selagi hangat. Hampir saja makanannya habis, Netta datang dengan wajah ditekuk kesal. Tempat yang sudah dipersiapkan untuk bertemu, menjadi buyar berantakan karena Emilia memilih tempat lain.
"Wah, perempuan tidak tahu malu sudah datang. Untung saja aku sudah selesai makan. Kalau tidak, aku bisa mual dan tidak nafsu makan." Gumam Sophia dengan santai dan cueknya. Netta menganga lebar mendengar ucapan Sophia yang sangat lugas dan tidak tampak takut itu. Emilia justru mengatupkan bibir menahan geli.
"Jaga mulut kamu ya!" Hardik Netta dengan sedikit kasar.
"Hei, ini tempat umum. Yang harus jaga mulut itu kamu. Tuh lihat, banyak yang melihat kesini. Cih!" Sophia benar-benar memulai perang sejak awal. Dia benci teramat sangat kepada sepasang penggoda dan pengkhianat yang bekerja sama membuat sahabatnya terluka menderita, meski pada akhirnya dia justru merasa bersyukur Emilia tidak jadi menikah dengan Roy.
__ADS_1