
"Aku sangat beruntung memperistri wanita yang merupakan cinta pertamaku." Julian terkekeh dan tersenyum lebar.
"What? Apakah dia gadis desa itu?" Edwin tahu betul wanita yang menjadi cinta pertama temannya ini. Meski Julian tidak pernah mengatakan siapa namanya namun semua karakter yang digambarkan Julian sudah lebih dari cukup untuk mengetahui seperti apa rupa wanita itu.
"Kamu masih ingat rupanya." Julian menyeringai mendengar jawaban Edwin. Memang benar dia pernah menceritakan semuanya pada Edwin. Namun, dia tidak menyangka kalau pria dengan topi basebal itu masih mengingat semua ceritanya dengan sangat jelas.
"Bagaimana aku tidak akan ingat. Kamu selalu membicarakannya setiap waktu, sampai mau pecah telingaku mendengarkannya." Gelak tawa menyindir Edwin membuat Julian melempar bantal kursi ke arah sahabatnya itu.
Edwin dan Julian hanya memiliki selisih usia dua tahun. Julian lebih tua dibandingkan Edwin. Saat mereka bertemu di Amerika dan kuliah bersama, Julian melihat Edwin seperti anak yang kurang pergaulan, bahkan bisa dibilang tidak punya teman.
Dunia Edwin hanya kampus dan kosan. Suatu saat Julian melihat beberapa mahasiswa lain sedang menghajar Edwin di sebuah tempat yang sepi dari di belakang kampus. Edwin diduga sedang menggoda pacar dari pemimpin genk yang menghajar Edwin karena sang pacar terlihat setiap hari bersama Edwin, dibandingkan pacarnya.
Kedatangan Julian yang tiba-tiba tidak membuat kumpulan mahasiswa pengeroyok itu melarikan diri. Mereka justru menantang Julian yang datang menghampiri dengan senyum santai dan berjalan seperti layaknya serigala terakhir yang sedang menunggu korbannya dilumpuhkan oleh kawanannya terlebih dahulu.
"Apa kalian sudah selesai?" Pertanyaan Julian membuat lima orang mahasiswa itu saling bertukar pandang keheranan. Tampak wajah dan penampilan Edwin yang sudah kusut dan mengeluarkan darah di bibir, hidung, dan luka lebam di wajah juga pria itu memegang perutnya yang tampak sangat kesakitan. Edwin yang dulu bukanlah Edwin yang sekarang.
"Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan perbuatan konyol seperti kalian. Mari kita hitung mundur bersama. 3... 2... 1...."
Di sebuah layar tv berukuran sangat besar di halaman kampus, tampak sebuah adegan yang mempertontonkan kekerasan yang baru saja dilakukan oleh lima mahasiswa tersebut. Kelimanya sontak melebarkan mata dengan mulut menganga tak kalah lebarnya. Sebuah nasib buruk sudah terpampang jelas di depan hidung mereka.
Detik itu juga, pimpinan kampus langsung memanggil lima mahasiswa yang menjadi pelaku pengeroyokan. Sedangkan Edwin, dilarikan ke klinik kampus yang memang tersedia disana.
Sejak kejadian itu, Edwin tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Julian dan mereka pun menjadi dua sahabat yang tidak terpisahkan. Edwin mulai berlatih ilmu bela diri di waktu senggangnya setelah kuliah dan kerja part time.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kamu? Apakah sudah ada tanggal tepat untuk pernikahan kalian?" Tanya Julian lagi.
"Apa kamu pikir itu tidak terlalu cepat untuk melamarnya? Aku takut dia akan kabur dan tidak ingin melihatku lagi setelah aku lamar." Edwin memiringkan dagunya dan menyesap kopi yang tinggal separuh itu.
"Lebih cepat lebih baik, kalau kamu memang ingin serius. Atau, akan ada orang lain yang mengambil posisi kamu sebelum kamu menyadarinya." Ucapan Julian langsung membuat Edwin menghela napas panjang. Sungguh dia sudah cocok dengan Sophia. Dia tidak akan rela kalau Sophia jatuh ke pelukan pria lain. Hanya Sophia yang mau menerima dirinya apa adanya dengan status seorang penjaga keamanan komplek.
Edwin terdiam merenungi ucapan sang teman yang kadang benar meski lebih sering membuatnya tersudut. Dia tahu kalau dia tidak akan bisa menemukan wanita sebaik Sophia. Namun, kata hatinya berkata kalau perkenalan mereka masih terlalu singkat untuk dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius, yaitu ikatan pernikahan.
Pekerjaan keduanya yang sangat berbeda jauh dan Edwin belum yakin dengan profesinya saat ini bisa menghidupi keluarga kecilnya kelak.
"Datanglah ke kantorku besok Senin. Aku butuh asisten pribadi untuk mengontrol pekerjaanku. Dan, berhentilah menjadi seorang penjaga keamanan! Adikmu sudah beristirahat dengan tenang jadi jangan kamu usik lagi istirahat panjangnya." Julian mengintip jam tangannya. Tidak terasa sudah dua jam mereka berbincang satu sama lain.
"Aku harus menjemput istriku sekarang. Menikahlah segera dan kamu akan tahu rasanya bersama dua puluh empat jam dengan wanita yang kamu cintai." Pria dengan rambut halus di sepanjang rahangnya itu berdiri dan memakai kembali kacamata hitamnya. "Jangan lupa, Senin besok ke kantorku!" Ucap Julian yang lebih ke arah penekanan pada pria yang masih termangu tidak menjawab sepatah katapun.
"Julian," Emilia berkata setengah berbisik.
"Ya, sayang." Sahut pria yang menatap istrinya penuh cinta sambil tersenyum sumringah.
"Tidak bisakah kamu melakukan itu di rumah saja?" Emilia berusaha agar permintaannya hanya Julian yang mendengar.
"Melakukan apa?" Senyum mengembang nan licik di bibir Julian sudah pasti tahu apa yang sedang dibicarakan istrinya.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Aku malu kalau kamu melakukan itu di depan umum. Cukup kecup dahi atau pipi saja kan bisa." Bibir Emilia yang mengerut manja justru terlihat imut di mata pria yang selalu tergila-gila pada istrinya jauh sebelum mereka menikah.
__ADS_1
"Aku justru ingin melakukan lebih dari itu. Tapi, aku menahan diri sebisa mungkin. Well, jadi itulah terbaik yang bisa aku lakukan." Ucap Julian sambil mengedipkan satu matanya pada sang istri.
Emilia berdecak tidak mampu berkata apa-apa lagi dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh, pria ini sudah tidak tertolong lagi. Pikirnya.
"Kamu sudah pesan menunya?"
"Sudah." Jawab Emilia singkat. Matanya menjelajahi suasana di dalam kafe yang cukup tenang dan nyaman itu. Emilia memilih tempat ini karena makanannya sesuai dengan keinginannya dan lokasinya pun dekat dengan pintu masuk jadi Julian tidak akan susah mencari.
"Kamu tidak mau bertanya dengan siapa aku bertemu tadi?" Ucapan Julian menghentikan gerakan Emilia yang masih menelusuri isi kafe.
"Haruskah?"
"Kamu tidak penasaran?" Julian mengerutkan dahinya.
"Untuk apa? Kalau kamu bilang teman, maka aku harus percaya itu. Tidak ada alasan untuk curiga bukan?" Jawaban Emilia sungguh membuat Julian merasa Kalau Emilia tidak peduli dan tidak mencintainya.
"Sayang," Julian memanggil sang istri.
"Ya,"
"Apakah kamu mencintaiku?"
"Uhuk ... Uhuk ..." Air mineral yang baru sampai di tenggorokan Emilia, mendadak sulit ditelan.
__ADS_1