If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
40. Pria Bernama Edwin


__ADS_3

"Huft, kencan pertama berakhir dengan mengantarkan sang pria pulang. Bukankah ini terbalik? Seharusnya aku yang diantarkan pulang." Sophia memukul setir kemudi berkali-kali meratapi nasibnya di kencan pertamanya setelah sekian tahun.


Dia pun memacu mobil ke rumahnya yang terletak kurang lebih satu jam perjalanan karena suasana sudah malam dan jalanan cukup sepi untuk dibawa ngebut. Namun, seketika dia teringat untuk mampir ke rumah Emilia yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Wanita yang memiliki kebebasan hidup dan tidak takut pada siapapun itu, memutar setir kemudi ke arah perumahan tempat sahabatnya tinggal.


Dengan perlahan, Sophia menjalankan mobilnya di kegelapan jalanan di perumahan ini. Hanya ada pohon-pohon besar di sisi kiri kanan kiri jalan yang dilewati. Setelah sampai di depan satu rumah yang diyakini milik Emilia, Sophia melakukan panggilan telpon ke sahabatnya itu sebelum turun dari mobil.


Drrttt …. Drrttt …


Seseorang yang sedang ditelpon justru sudah pulas di alam mimpinya. Telpon yang diletakkan di atas nakas sebelah ranjang tempat tidurnya, benar-benar tidak bisa membuatnya terbangun karena saking lelahnya setelah seharian bekerja.


"Ihhh Emilia, angkat dong." Sophia yang sudah berada di depan rumah yang sangat gelap di halaman dan dalam rumahnya itu, menghela napas panjang berkali-kali. Setelah percobaan menelpon lebih dari tiga kali, akhirnya Sophia memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya.


"Hari ini aku sial sekali. Kencan gagal dan tidak bisa masuk ke rumah Emilia pula. Ahhh, aku mau mandi kembang tujuh rupa kalau begini caranya." Sophia kembali memutar kemudi mobil menuju rumahnya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat dan besok pagi dia harus berangkat pagi-pagi lagi sebelum terjebak kemacetan.


Ada rasa was-was menyetir di gelapnya malam di tengah jalan raya di dalam wilayah perumahan ini. Benar saja, baru dia akan melanjutkan perjalanan menuju pintu gerbang, tiba-tiba seseorang berhenti di tengah jalan tepat beberapa meter di depan mobil Sophia. Untung saja, Sophia tidak mengebut.


"Ahhhh, sialan! Untung saja dia tidak tertabrak. Apakah aku harus keluar? Tapi, disini sepi tidak ada satu orang pun. Ahhh, dia berjalan kesini. Jangan-jangan dia orang jahat." Sophia memastikan pintu mobil dan jendelanya terkunci rapat dari dalam. Dia mengambil ponsel yang ada di dalam tas untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


Tok tok tok …


"Cuma orang gila yang akan membuka jendela atau pintu." Gumam Sophia dalam hati. Seseorang di luar itu menampakkan wajahnya di kaca jendela.


"UWAAAAA," Sophia berjengit menjauh dari jendela begitu melihat wajah yang agak remang-remang itu dari dalam.


"Seorang pria? Di jam dan situasi seperti ini? Gila! Aku harus pergi!" Sophia menyalakan mesin mobil dan bergegas meninggalkan tempat ini secepat yang dia bisa. 


"Huhhhh, untung saja. Aku takut jangan-jangan dia pembunuh yang berkeliaran di malam hari. Kalau terjadi sesuatu padaku, tidak akan ada yang tahu." Sophia yang sudah berhasil keluar lewat pos penjagaan, lupa untuk memberitahukan kalau dia baru saja bertemu dengan pria aneh di jalanan sepi. Karena kepanikannya dia langsung pergi begitu saja sampai lupa harus melaporkan hal penting.


"Kenapa dia kabur? Aku hanya ingin memberitahukan dia kalau dia hampir saja menabrak seekor kucing." Pria yang mengetuk kaca jendela Sophia melihat seekor kucing yang sudah berjalan ke balik pepohonan yang rimbun. Sophia yang tidak melihat jalanan dengan benar, hampir menggilas seekor kucing yang melintas di depan mobilnya.


"Sudah, siap. Bapak bisa istirahat. Biar aku yang melanjutkan berjaga sampai Subuh nanti." Jawab Edwin dengan senyum mengembang.


"Hahhh, aku senang sekali sejak ada kamu. Aku jadi bisa punya jam istirahat yang lebih baik. Terima kasih ya. Aku akan tidur dulu. Nanti pas adzan Subuh, aku yang akan berjaga dan kamu bisa istirahat." Jawab pria paruh baya yang mengenakan seragam satpam.


"Santai saja, pak." Edwin tersenyum penuh kehangatan di gelap dan dinginnya malam.

__ADS_1


—--


"Hei Lia, semalam kenapa kamu tidak angkat telpon aku?" Sophia yang baru datang langsung menghampiri temannya yang sudah sibuk dengan setumpuk dokumen dan puluhan email masuk. Emilia langsung menghentikan jarinya yang menari lincah di atas tuts dan menatap wajah sang teman yang masih menenteng tasnya.


"Kapan kamu telpon?" Wajah Emilia yang bingung membuat Sophia menghela napas panjang.


"Ah sudahlah." Sophia menuju mejanya dan malas untuk melanjutkan percakapan pagi ini yang bahkan belum dimulai dengan makan pagi karena dia terlambat bangun tidur pagi ini.


"Nanti kita makan siang bersama ya. Pagi ini aku banyak pekerjaan menumpuk. Okay?" Emilia mengirim pesan ke ponsel Sophia dan dibalas Sophia dengan lambang cemberut. Emilia tahu kalau sahabatnya mengirim icon cemberut berarti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia pun membalas kembali dengan icon senyum lebar. Sophia membalasnya dengan icon menjulurkan lidah. Dan, keduanya terkekeh sendiri di depan ponselnya masing-masing.


Meskipun Julian tidak hadir di tengah-tengah mereka, namun pekerjaan yang datang seperti tidak ada habisnya. Bahkan banyak klien yang ingin bertemu untuk menegosiasikan penawaran bisnis yang mungkin akan tercapai kesepakatan kalau bertemu. Emilia sampai harus menolak banyak tawaran bertemu dengan halus karena sejak kemarin waktu untuk dirinya sendiri saja sudah tidak ada.


Julian yang sedang dalam penerbangan menuju Italia, masih bisa dihubungi karena menggunakan pesawat pribadi yang dimilikinya untuk transportasi sewaktu-waktu yang sangat penting dan mendesak.


Julian dan Emilia saling bertukar informasi seputar pekerjaan dan hal lainnya. Terkadang Julian harus menyelipkan kalimat pertanyaan sekedar bertanya, 'apa kabar? Apa kamu sudah makan? Bagaimana tidurmu? Atau sedikit perintah yang terkesan memaksa. 'Jangan terlalu lelah! Jangan pulang kerja larut malam! Selalu pakai supir untuk pulang pergi! Dan lain sebagainya.


"Ahhhh, akhirnya jam makan siang." Emilia mengangkat kedua tangannya ke atas dan membuat gerakan stretching untuk melemaskan kembali otot-ototnya yang dipaksa bekerja keras. "Eh, Sophia dimana ya?" Emilia yang tidak bisa melihat meja Sophia berada, hendak menelpon temannya itu ketika sebuah pesan singkat masuk.

__ADS_1


"Maafkan aku, makan siangnya kita tunda yaa. Aku dijemput pria kemarin. Kami akan makan siang bersama. Bye, jangan kerja terus. Cari lelaki dong, hahaha!" Emilia menyeringai sinis membaca pesan singkat dari sahabatnya itu.


"Heh, kalau kamu tahu siapa lelakiku, kamu pasti langsung pingsan." Gumam Emilia sambil cemberut kesal karena ditinggal sendirian makan siang di saat semuanya sudah turun ke lobi.


__ADS_2