
“Aku juga mau menghirup udara luar. Aku bisa gila kalau dikurung terus seperti ini!” Suara Netta yang berteriak histeris membuat Roy mencengkeram kedua pipi wanita itu dengan satu tangan lebarnya.
“Jangan berdebat denganku. Otakku sudah sangat kaku dan tanganku sudah sangat gatal ingin menghajar siapapun yang membuatku marah.” Seringai iblis Roy yang tidak pernah diperlihatkan Roy sebelum-sebelumnya membuat Netta ketakutan dan tidak berani membantah. Dia pun memutuskan untuk diam dan mencari akal melarikan diri nanti ketika Roy sudah tidak ada di rumah.
“Sepertinya … kamu sedang berpikir bagaimana melarikan diri dari rumah ini. Cih, jangan harap aku akan mengabulkannya.”
Roy mengambil tali tambang yang terdapat di kolong kitchen set yang memang dia simpan untuk kebutuhan sewaktu-waktu. Sepasang mata Netta melotot kaget melihat Roy membawa tambang dan berjalan ke arahnya.
“Mau apa kamu?” Netta berlari secepat yang dia bisa ke pintu keluar. Namun sayangnya kaki Roy lebih cepat melampaui dan dia pun berhasil ditangkap.
“LEPASKAN AKU! DASAR GILA! KAMU MAU APA?” Teriakan Netta yang membuat telinga Roy terasa bising, membuat Roy mempercepat mengikat kedua tangan Netta di belakang punggungnya, tidak lupa kedua kakinya, dan mendudukkan wanita itu di atas lantai dekat sofa ruang tamu. Mulut Netta disumpal dengan kain yang diikat sampai ke belakang kepalanya.
“Hmm Hmm,” Setelah dirasa cukup, Roy tersenyum sinis dan meninggalkan wanita yang sudah tidak berdaya itu begitu saja lalu mengunci pintunya dari luar.
Roy mengambil mobilnya di garasi dan menghidupkan mesin mobilnya lalu keluar melaju menuju sebuah tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya dengan salah seorang temannya. Disana dia akan bertemu dengan teman yang akan menjual senjata api padanya. Roy sudah tidak bisa menahan emosinya lagi ingin segera membunuh Julian, dan Emilia kalau perlu. Dia sudah tidak peduli lagi dengan warisan ayahnya karena karir dan masa depannya juga sudah hancur setelah menjadi seorang buronan.
***
“Rapat hari ini cukup sampai disini. Untuk selanjutnya, aku tidak perlu memimpin rapat lagi. Biar Edwin yang memimpin dan dia akan melaporkan semuanya padaku.” Julian meninggalan ruangan rapat setelah rapat tiap hari Senin itu selesai dilakukan. Semua peserta rapat yang hadir mengucapkan terima kasih dan berdiri melepas sang CEO mereka ke luar ruangan. Edwin masih berada di dalam ruangan rapat karena harus membereskan sisa hasil rapat.
“Emilia, ke ruangan saya sekarang.” Melihat istrinya di kursi kerjanya masih sibuk dengan pekerjaannya, Julian memanggil sang istri dengan sikap formal seperti biasa.
“Oh, iya pak.” Wanita yang dipanggil namanya, menghela napas panjang dan menyiapkan buku agenda, pulpen, dan telpon genggamnya yang berada di atas meja.
“Lia,” Salah seorang rekan kerja Emilia berbisik memanggil Emilia yang baru akan beranjak.
__ADS_1
“Ya, kenapa?”
“Bos kenapa sih sering manggil kamu?”
“Mana aku tahu. Apak amu mau menggantikan aku ke ruangannya?” Emilia bertanya dengan senyum sedikit jahil.
“Apa? Yang dipanggil kan kamu, kok malah aku sih yang masuk? Yang ada nanti aku dilempar odner. Tidak deh, makasih. Mood pak Julian kadang bagus tapi lebih sering jeleknya.” Jawab wanita itu lagi.
“EMILIA!” Suara kencang Julian dari dalam ruangan, mengagetkan semua orang yang berada di luar.
“Tuh kan, sudah ya, aku permisi dulu.” Emilia segera berjalan cepat menuju ruangan pria yang berteriak tidak sabar itu.
Tok tok tok!
“Masuk,” Julian menatap pemandangan dari balik jendela berukuran jumbo yang berada di belakang kursi kebesarannya.
“Aku lelah,” Tiba-tiba saja Julian memeluk Emilia dan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. Emilia kaget bukan main dan hanya bisa berteriak kecil.
“Eh,”
“Rapatnya sangat panjang dan melelahkan. Mulai besok, biar Edwin yang memimpin rapat.” Ucap pria itu lagi yang kepalanya masih terbenam di antara cekungan leher dan bahu Emilia.
“Ish, geli, berdirilah yang benar.” Emilia berusaha mendorong dada Julian namun pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
“Cium aku,”
__ADS_1
“Apa?”
Tanpa menunggu jawaban dari Emilia, Julian langsung mencium bibir istrinya dengan penuh cinta dan cukup lama hingga Emilia yang tersadar dan memberikan jarak pada kedua tubuh mereka yang sangat menempel erat itu.
“Kita akan segera pergi tugas dinas minggu depan. Edwin sudah menyiapkan semua kebutuhan kamu.” Julian menarik tangan sang istri dan memaksa wanita dengan rambut diurai itu duduk di atas pangkuannya.
“Julian, nanti ada yang masuk. Aku tidak ingin terlihat seperti ini sebelum kamu mengikrarkan hubungan kita di depan semua karyawan kamu.” Emilia hendak bangkit namun tangan kokoh Julian menahannya dan membuat wanita itu tidak bisa bergerak dan hanya bisa pasrah. “Haaahh,”
“Oya, kamu sudah dengar belum?” Pria itu masih saja menempelkan kepalanya di punggung Emilia sambil terus membuka percakapan.
“Dengar apa?”
“Mantan tunangan kamu dan selingkuhannya itu sedang menjadi buronan pihak kepolisian.”
“Oh, iya aku sudah tahu. Kan kamu sendiri yang bilang,” Emilia malas untuk mengungkit pria dan wanita yang pernah menyiksanya di kehidupan pertama dan keduanya itu.
“Tapi, kamu pasti belum pernah mendengar ini.” Ucap Julian lagi. Pria itu memutar tubuh sang istri hingga menghadap ke wajahnya. Emilia mengerutkan wajahnya. Berita apa lagi yang akan disampaikan Julian perihal dua manusia pecundang itu?
“Anak buahku menangkap basah dia sedang melakukan transaksi senjata api illegal di sebuah gudang tua. Sayangnya, mereka berhasil melarikan diri tapi pihak kepolisian sudah memblokade semua pintu keluar agar dia tidak bisa melarikan diri lagi.”
“Apa? Transaksi Sentara api illegal? Yang aku tahu, di aitu terlalu pengecut untuk memegang senjata api. Sekarang dia sudah berani melangkah sejauh itu?” Emilia bangkit dari pangkuan Julian dan berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
“Huum. Waktu bisa merubah segalanya, termasuk manusia. Aku ingin memperketat pengawalan dirimu. Aku khawatir dia akan mendekati kamu dan membahayakan kamu saat aku tidak bersamamu.” Ucap Julian lagi.
Emilia terdiam sejenak namun sorot matanya masih terus menatap mata sang suami seolah mencari kebenaran dari semua kata-katanya. Roy yang sekarang memang tidak seperti Roy yang dulu karena Emilia yang sekarang juga bukan Emilia yang dulu. Emilia yang dulu adalah penurut dan selalu patuh apa kata suami dan kedua orangtuanya. Sedangkan, Emilia yang sekarang sudah berani memberontak bahkan membatalkan acara pernikahan dia dan Roy hanya berselang beberapa hari sebelumnya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kamu? Dia pasti juga mengincar kamu.” Tidak dipungkiri kalau Emilia juga sangat mengkhawatirkan Julian. Roy pasti mengincar Julian yang telah membuat semua rencana pria pecundang itu berantakan.