
"Sudah sudah, nanti aku berakhir tanpa selembar pakaian pun kalau diteruskan." Emilia mendorong dada Julian menjauh dan menyingkir dari hadapannya untuk kemudian membereskan peralatan skincare dan make up nya. Julian terkekeh mendengar jawaban sang istri yang memang masuk akal.
Julian terkekeh mendengar jawaban sang istri. Semakin hari mereka semakin dekat dan sudah semakin akrab. Mereka bisa membedakan hubungan pekerjaan dan hubungan pribadi. Tidak ada yang tahu sama sekali di kantor kalau mereka adalah sepasang suami istri. Itu semua sesuai permintaan Emilia. Julian justru sangat ingin membuka status mereka di hadapan umum agar semua orang tahu kalau Emilia adalah miliknya, istrinya, sehingga tidak ada yang berani untuk mendekatinya.
Berkali-kali dia melihat sendiri dengan matanya kalau banyak karyawan pria yang selalu berusaha mencoba menarik perhatian Emilia, seorang manajer wanita cantik dan mapan dengan tubuh langsing padat berisi. Semakin dipikirkan semakin membuat Julian kesal sendiri karena dia tidak bisa menunjukkan kepemilikannya di hadapan banyak orang.
Perjalanan yang mereka tempuh menuju puncak sudah dipastikan macet total begitu keluar tol Ciawi. Mayoritas kendaraan roda empat memiliki plat B yang merupakan tamu langganan setiap akhir pekan.
"Inilah yang membuatku malas ke puncak kalau akhir pekan. Macet dimana-mana membuang waktu dan tenaga." Ucap Julian yang menghela napas berkali-kali setiap menemui titik kemacetan.
"Lalu apa yang biasa kamu lakukan di akhir pekan?" Emilia yang merasa sedikit bersalah mengajak sang suami ke tempat sumber kemacetan, mulai mencari cara untuk mengendurkan urat syaraf yang tegang.
"Seharian di apartemen banyak yang bisa dilakukan. Bekerja, bekerja, atau berenang kalau bosan."
"Cih, sungguh membosankan sekali." Jawab Emilia sambil memalingkan wajahnya ke kaca jendela.
"Lalu apa yang kamu lakukan sebelum menikah?" Julian pun dibuat penasaran dengan kebiasaan sang istri.
__ADS_1
"Kalau pria itu tidak mengajakku ke rumah orangtuanya, aku akan menghabiskan waktu bersama nenek. Kami punya hobi yang sama yaitu memasak dan berkebun. Nenek punya banyak tanaman bumbu di dalam pot yang sangat bermanfaat. Juga tanaman bunga yang akan kami petik bunganya jika mekar untuk dibuat penghias ruang tamu dan ruangan lainnya di dalam rumah." Emilia menjadi teringat kembali dengan neneknya yang kini tinggal sendirian di rumahnya di kampung. "Hahhhh, aku jadi kangen nenek." Ucapnya spontan.
"Sangat menarik sekali. Bagaimana kalau kita bawa nenek tinggal di apartemen?"
Usul diluar dugaan Julian membuat mulut Emilia menganga lebar. Di satu sisi tentu saja dia senang sekali karena itu artinya dia bisa lebih dekat dengan nenek setiap hari. Tapi di sisi lain, tidak mudah membawa nenek pindah dari rumah kesayangannya untuk ke apartemen yang dipenuhi dengan alat-alat rumah tangga serba modern.
"Aku tidak yakin nenek akan mau. Tapi, kalau kamu serius, aku akan bertanya pada beliau nanti." Sorot mata Emilia yang berbinar-binar membuat kemacetan yang mereka alami sedikit lebih ringan. Julian lupa kalau di sampingnya ada wanita yang merupakan pelepas dahaga dan pelipur lara saat dirinya merasa kesepian dan kerinduan yang teramat sangat. Julian sudah bertekad, dua malam yang akan mereka habiskan di dalam hotel akan menjadi malam lebih panas dibandingkan di dalam apartemen.
Setelah satu jam lebih akhirnya mereka berhasil keluar dari kemacetan. Karena waktu yang sudah tidak memungkinkan, mereka memutuskan untuk langsung ke hotel dan ke Taman Safari esok paginya.
Emilia sangat takjub mendapati kamar yang akan mereka tempati selama dua malam ini. Buka jendela menghadap ke pegunungan yang sangat menyejukkan mata. Bagian dalam terdiri dari satu kamar sangat luas dengan kasur berukuran sangat besar yang cukup untuk empat orang dewasa. Di dalam kamar mandi berukuran luas tersebut terdapat bathtub berbentuk lingkaran dengan sebaran aneka bunga mawar di atasnya dan jacuzzi di sebelahnya yang dilengkapi dengan beraneka macam aromatherapy di sisinya dengan gelembung air yang bergejolak seperti air mendidih. Sepertinya semua sudah dipersiapkan sebelum kedatangan mereka.
"Apakah kamu pernah minum red wine?" Julian bertanya lagi.
"Aku tidak minum minuman beralkohol." Jawab Emilia singkat dan tegas.
Julian membuka satu persatu kancing kemejanya dan menghempaskan kemeja itu ke atas lantai. Hingga terpampang tubuh kokoh dengan otot perut sixpack yang tidak ditutupi dengan kaos dalam.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan?" Emilia mencium gelagat mencurigakan. Pria ini benar-benar sangat membuat detak jantungnya bergerak lebih cepat ketika mereka berdua saja.
"Kita harus menikmati fasilitas yang diberikan hotel ini, bukan? Badanku lengket setelah menyetir sangat lama tadi. Aku mau mandi." Ucapnya sambil berjalan mendekati Emilia, perlahan namun pasti hingga jarak diantara mereka tinggal satu langkah saja.
"A-aku belum ingin mandi. Kalau kamu mau mandi, kamu duluan saja?" Ucap Emilia sambil berkelit untuk menghindar. Sayangnya lengan kokoh Julian berhasil menangkap perut Emilia dan mendekapnya erat di dadanya. Kedua tangan Emilia menahan dada Julian yang seolah-olah sudah bersiap untuk melahapnya bulat-bulat.
"Kalau aku ingin mandi, maka kamu juga harus mandi."
"Aaahh, turunkan aku! Julian, ini pemaksaan! Turunkan aku!" Emilia memukul punggung Julian berkali-kali. Tubuhnya diangkat dengan ringannya di atas bahu kekarnya secara tiba-tiba. Kamar mandi yang sudah siap dengan bathtub dan jacuzzi yang bisa dipakai kapanpun.
"Kamu mau mencoba yang mana lebih dulu? Bathtub atau jacuzzi? Atau shower dengan air hangat yang akan membuat tubuhmu lebih rileks." Ucap Julian setelah menurunkan sang istri yang napasnya terengah-engah.
"Aku tidak mau mandi sekarang. Aku ingin langsung istirahat saja." Emilia hendak melarikan diri lagi namun Julian tentu saja tidak akan melepaskan sang istri dan pandangannya.
"No no, kamu harus membersihkan tubuhmu dulu dan menyegarkannya agar tidurmu lebih pulas." Julian memilin ujung rambut hitam Emilia dan melangkah maju setapak demi setapak hingga Emilia justru sebaliknya mundur setapak demi setapak menjauh dari pintu kamar mandi hingga akhirnya tubuhnya menempel di dinding shower. Julian memutar kran shower hingga tubuh Emilia yang masih mengenakan pakaian lengkap basah kuyup.
"Ahhh, apa yang kamu lakukan?" Emilia menutup wajahnya. Tidak dipungkiri air hangat yang menyiram kepala dan sekujur tubuhnya langsung membuatnya merasa segar.
__ADS_1
Pakaian yang melekat di tubuhnya langsung menampakkan dengan jelas bra yang dipakainya. Julian pun tidak membuang waktu dengan membuka satu persatu kancing yang dipakai sang istri hingga kini keduanya berakhir tanpa busana sama sekali.
Maksud hati Emilia mengajak Julian ke Puncak untuk menikmati pemandangan di luar dan menghindari kondisi hanya berdua saja di dalam kamar, justru menjadi bumerang baginya yang malah masuk ke dalam perangkap harimau.