
Kapal yang cukup besar ini dijadwalkan akan berlayar menuju pulau penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Roy memilih untuk istirahat sejenak menyandarkan punggungnya yang letih di badan kapal yang terbuat dari kayu. Dia memutuskan untuk berpikir lagi setelah sampai tujuan. Tidak ada yang mengenal Roy yang sekarang, bahkan orangtuanya sendiri pun mungkin tidak akan bisa mengenalinya lagi. Lelaki itu membuat dirinya tidak dikenali lagi dengan memakai rambut palsu gondrong dan rambut asli halus yang tumbuh di rahangnya akibat tidak bercukur setelah beberapa hari lamanya.
Bertepatan dengan bulatan matahari yang semakin turun tenggelam, tampaklah hijau pepohonan dari jauh. Daratan yang dituju pun tidak lama lagi akan menjadi tempat pelarian baru bagi Roy. Pria yang tidak benar-benar kalah itu, tetap bersikeras untuk membalaskan dendamnya kepada Julian yang telah mempermalukan dirinya dan membuatnya hidup terkatung-katung tanpa fasilitas dan jabatan.
“HEI KAMU! Cepatlah turun dari kapal sebelum kaptenku memeriksa tempat ini!” Dengan tergopoh-gopoh, Roy segera mengemas tas kecil berisi perlengkapan sebisanya yang dia dapatkan dari tempat sebelumnya. Pria dengan penampilan semrawut itu mendecih sinis pada pria yang telah dia bayar untuk ikut serta ke dalam kapal ini meski hanya sebagai penumpang illegal.
Angin darat dan udara yang cukup kencang, menerpa wajah dan rambut Roy yang berantakan. Pria itu berjalan menuju dermaga setelah kapal bersandar. Tidak tahu mau kemana dan tidak tahu apa yang mau dilakukan, pria buronan itu hanya berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah.
BRUKKK!
“Gimana sih jalan lama sekali? Kamu tidak tahu kalau antrian di belakang mengular?” Seorang ibu dengan tubuh cukup tambun dan rambut digulung ke atas, tampak sangat kerepotan membawa dua tas koper besar dan satu tas plastik berisi makanan dan minuman. Roy mengernyitkan alisnya dan melihat ada celah untuk dirinya mendapatkan uang.
“Apa ibu perlu bantuan? Aku bisa mengantarkan ibu sampai tempat tujuan.” Ucap Roy mengejar langkah sang ibu untuk menyamai ritmenya. Mata ibu itu langsung mengernyit curiga dan menampakkan sindiran di bibirnya setelah melihat penampilan pria semrawut itu yang tidak bisa dipercaya.
“Tidak usah, aku bisa jalan sendiri!” Wanita tambun itu lebih memilih membawa barang berharganya seorang diri dibandingkan meminta bantuan orang asing yang dari penampilannya saja sudah tidak menyakinkan. Namun, Roy tidak urung begitu saja. Sumber mata uangnya di depan mata jadi sebisa mungkin dia akan memastikan perutnya saat ini yang lapar akan kenyang dan pakaiannya akan berganti dengan yang baru.
“Berikan aku barang-barangmu atau nyawamu akan berakhir detik ini juga!” Tubuh wanita setengah tua itu dipepet dan senyuman mengancam diberikan Roy agar wanita itu segera menyerahkan koper-kopernya untuk dia angkat. Spontan tubuh wanita malang itu bergetar dan sayangnya tidak ada satupun orang di sekitar yang bisa menolongnya karena sebuah pisau kecil menempel di pinggang wanita itu dalam keadaan terhunus. Tanpa bisa menolak lagi, wanita itu pun pasrah mengikuti kemana Roy mendorong tubuhnya perlahan.
Sebuah tempat berteduh yang cukup rindang dan sepi menjadi tempat Roy meletakkan koper-koper yang dia dorong. Wanita malang itu berusaha untuk mencari pertolongan dengan melihat kesana kemari namun nasib baik berpihak pada Roy karena tidak ada satupun orang yang memperhatikan wanita itu.
__ADS_1
“Berikan dompetmu, sekarang!” Sambil mengamati sekeliling, Roy menggertak wanita yang sudah tidak bisa berkutik itu. Sorot mata memelasnya tidak bisa meluluhkan hati pria yang sudah gelap hatinya dan dibutakan dengan kejahatan. Beberapa lembar uang dalam berbagai warna berpindah ke tangan Roy. Mantan tunangan Emilia itu tidak membutuhkan dompet wanita tersebut. Seringai iblis Roy langsung terlihat jelas saat uang-uang itu sudah berada di dalam genggamannya.
“Terima kasih dan selamat tinggal … untuk selamanya,”
Jleb!
“Heukkk,” Pisau lipat kecil itu menghunus perut wanita malang tersebut dan Roy segera berjalan cepat meninggalkan wanita yang perutnya mengeluarkan darah segar. Setelah Roy pergi menghilang dari tempat itu, barulah banyak orang berkerumun di sekitar wanita malang itu dan saling berteriak satu sama lain untuk meminta pertolongan.
***
Sepasang mata Emilia terbelalak lebar manakala tiga testpack menunjukkan hasil yang sama, positif. Satu tangannya menutup mulutnya yang menganga lebar. Dia tidak menyangka akan secepat ini mendapatkan keturunan dari pernikahan yang awalnya hanya perjanjian untuk melunasi hutang. Emilia tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Hatinya belum siap untuk menerima tanggung jawab baru. Terlebih lagi dia tidak tahu apakah Julian akan menyukainya atau tidak.
“Sayang, kamu baik-baik saja? Kamu sudah lama disana loh.” Emilia tersontak kaget mendengar ketukan dan panggilan dari luar kamar mandi yang sengaja dia kunci dari dalam pintunya.
“A-aku ba-baik-baik saja.”
“Kamu yakin?”
“Iya. Kamu mau mandi?” Tanya Emilia lagi sambil membereskan semua testpack dalam satu kotak. Dia pasti akan menunjukkan kepada Julian hasil ini, apapun respon pria bermata biru itu. Emilia juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya tapi yang pasti, berita mengagetkan ini akan dia renungkan secepatnya.
__ADS_1
Cklek!
“Kamu kenapa? Kamu sakit? Wajah kamu pucat sekali.” Ucap sang suami sambil mengusap pipi mulus sang istri yang masih tanpa make up dan skincare itu. Wajah natural yang selalu dirindukan Julian setiap kali berjauhan dengan sang istri.
“Aku baik-baik saja. Julian, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Tapi, kita harus mandi dan sarapan dulu pastinya.” Ucap Emilia sambil memiringkan kepalanya seraya menikmati usapan lembut sang suami di pipinya.
“Ada apa? Kamu membuat aku penasaran. Katakan sekarang ada apa.”
“Tidak tidak. Aku akan mengatakannya nanti. Tapi, aku mau mandi dulu. Sebentar saja ya, tunggu aku di luar.”
Julian menahan pintu yang akan ditutup Emilia dari dalam.
“Apa lagi?” Emilia mengerutkan alisnya karena pintu tertahan oleh tangan Julian dari luar.
“Bagaimana kalau kita … mandi bersama?” Kerlingan nakal Julian pada wanita yang masih mengenakan piyama tidur itu membuat Emilia tersenyum tipis. Wanita yang berada di dalam kamar mandi itu menggerakkan jari telunjuknya dan memanggil sang suami dengan satu tarikan. Sontak sinar bahagia berbinar tampak di mata Julian.
“In your dream,” Emilia mendorong tubuh Julian sehingga tangan pria itu terlepas dari pintu dan dia pun buru-buru menutup pintu dan menguncinya dari dalam. “Huuh, ada-ada saja.” Senyuman Emilia dan Julian dari ruangan yang berbeda membuat pagi mereka tampak lebih indah, bahkan sebelum kabar penting yang akan membuat dunia mereka berbeda dimulai dari hari ini.
Setelah keduanya membersihkan diri dan tampak rapih dengan pakaian kerja masing-masing, Emilia mulai mengeluarkan kotak khusus bekas cincin kawin berwarna hitam dengan merah beludru di dalamnya.
__ADS_1